Kenali Luigi Di Maio, Calon Perdana Menteri Italia Termuda - Kompas.com

Kenali Luigi Di Maio, Calon Perdana Menteri Italia Termuda

Veronika Yasinta
Kompas.com - 06/12/2017, 14:14 WIB
Luigi Di Maio, pemimpin Partai Five Star Movement Italia, berbicara pada konferensi pers di Caltanissetta, Sicily, Italia, Rabu (6/12/2017). (AFP/ Alessandro Fucarini) Luigi Di Maio, pemimpin Partai Five Star Movement Italia, berbicara pada konferensi pers di Caltanissetta, Sicily, Italia, Rabu (6/12/2017). (AFP/ Alessandro Fucarini)


ROMA, KOMPAS.com - Lupakan Matteo Renzi atau Emmanuel Macron, yang keduanya menjadi pimpinan negara di Eropa pada usia 40 tahunan.

Benua Biru mungkin akan mengantarkan seorang pria muda lainnya dalam momen "goncangan kaum muda" pada era perdana menteri milenial.

Dilansir dari CNBC, Rabu (6/12/2017), Luigi Di Maio, usianya baru 31 tahun, dan dia bisa saja menjadi pemimpin Italia selanjutnya, pada pemilihan umum yang diselenggarakan pada 2018.

Di Maio, seorang pengacara, jurnalis, dan pernah menjadi perancang situs web. Kemudian, dia menjadi wakil Parlemen Italia pada usia 26 tahun, orang termuda yang berkecimpung di parlemen.

Baca juga : PM Inggris Gelar Rapat Kabinet Terbatas Bahas Biaya Perceraian Brexit

Saat ini, dia menjadi kandidat dari partai Five Star Movement dan kini memimpin perhitungan suara dengan perolehan 28 persen dari total suara.

Pencalonan Di Maio juga menuai reaksi dari pasar selama musim dingin ini, apabila partai tersebut makin memuncak, bisa memicu pergolakan pada mata uang euro dan Uni Eropa.

Five Star Movement merupakan partai yang didirikan oleh seorang eurosceptic atau anti-Uni Eropa pada 2009, Beppe Grillo, yang dulunya berprofesi sebagai komedian.

Grillo terkadang digambarkan sebagai sosok Donald Trump Italia, yang tenar karena umpatannya terhadap Uni Eropa dan mata uang euro.

Baca juga : Pasca Brexit, Harga Furnitur IKEA Merangkak Naik

Para investor melihat Five Star Movement dengan penuh kewaspadaan karena Grillo menyuarakan dukungan referendum Italia dari anggota Uni Eropa, jauh sebelum Brexit mengemuka.

Walaupun Di Maio berada dalam naungan Grillo, dia cenderung lebih lembut menyikapi masalah euro. Menurutnya, referendum untuk meninggalkan Uni Eropa akan menjadi jalan terakhir yang ekstrem.

Secara khusus, dia menyebutkan imigrasi dari Afrika Utara justru merugikan ekonomi Italia. Seperti dalam pemilihan Jerman baru-baru ini, jajak pendapat menunjukkan imigrasi adalah isu utama bagi banyak pemilih Italia.

Baca juga : Imbas Brexit, Peringkat Utang Inggris Diturunkan

Di Maio juga ingin lebih mengendalikan suku bunga Italia, sesuatu yang sulit dilakukan kecuali Italia memiliki mata uang sendiri.

Dia meyakini intervensi pemerintah terhadap perekonomian perlu dilakukan.

"Kami memiliki lebih dari 10 juta penduduk yang hidup di bawah garis kemiskinan. Ini jelas perlu intervensi. Harus ada intervensi pemerintah," ucapnya.

PenulisVeronika Yasinta
EditorVeronika Yasinta
SumberCNBC
Komentar

Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM