Setelah Korut, Kini Trump Kecam Iran soal Kesepakatan Nuklir 2015 - Kompas.com

Setelah Korut, Kini Trump Kecam Iran soal Kesepakatan Nuklir 2015

Kompas.com - 11/08/2017, 09:06 WIB
Presiden AS Donald Trump saat berpidato di Riyadh, Arab Saudi (21/5/2017).MANDEL NGAN / AFP Presiden AS Donald Trump saat berpidato di Riyadh, Arab Saudi (21/5/2017).

NEW JERSEY, KOMPAS.com - Tak hanya disibukkan dengan ulah Korea Utara, Presiden Amerika Serikat Donald Trump pun terganggu dengan sikap Iran.

Seperti diberitakan AFP, Kamis (11/8/2017), Trump  melontarkan kecaman terhadap negara itu.

Dia menyebut Iran tak menjalankan kesepakatan nuklir yang sebelumnya telah disepakati di tahun 2015.

Baca: Sanksi Baru AS Langgar Kesepakatan Nuklir, Iran Ancam Bereaksi

"Saya tidak berpikir Iran melakukan hal yang sesuai dengan kesepakatan itu," kata Trump.

Trump mengungkapkan hal itu disela masa cuti sepanjang dua minggu, padang golf-nya di New Jersey.

"Iran tidak hidup di dalam semangat yang tertuang dalam kesepakatan itu," ungkap Trump lagi.

Dalam kesepakatan tahun 2015, Iran telah setuju untuk mengurangi aktivitas nuklirnya dengan balasan pengurangan sanksi ekonomi.

Trump bahkan menuding, kesepakatan dengan Iran tersebut merupakan kesepakatan terburuk yang pernah ada.

Dia juga menuduh Iran terus mendukung terorisme di Timur Tengah.

Padahal sebelumnya, pada tanggal 17 Juli lalu, Gedung Putih menyebut bahwa Republik Islam Iran masih berpegang pada kesepakatan nuklir tersebut.

Di sisi lain, Pemerintah Iran telah menegaskan bahwa penetapan sanksi baru yang ditandatangani Trump, telah melanggar kesepakatan nuklir yang ada.

Terkait perkembangan terakhir itu, Iran pun mengaku akan mengambil tindakan sebagai bentuk tanggapan atas sanksi tersebut.

"Kami percaya bahwa kesepakatan nuklir telah dilanggar dan kami akan bereaksi."

Demikian dikatakan Wakil Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi dalam siaran televisi pemerintah awal Agustus lalu.

Sementara, sanksi baru AS, -yang juga mencakup Rusia dan Korea Utara, menargetkan program rudal Iran dan pelanggaran hak asasi manusia. Hal itu disebut tidak tercakup dalam kesepakatan nuklir tahun 2015.

Baca: Tunduk dalam Tekanan, Trump Sahkan UU tentang Sanksi bagi Rusia

EditorGlori K. Wadrianto
Komentar