Buntut Terjadi Unjuk Rasa, Hong Kong Bakal Tunda Bahas UU Ekstradisi

Kompas.com - 15/06/2019, 13:25 WIB
Massa pengunjuk rasa memadati dua ruas jalan raya utama di dekat kantor pusat pemerintahan di Hong Kong, Rabu (12/6/2019). Aksi massa itu untuk menentang UU Ekstradisi yang memungkinkan pelanggar untuk diekstradisi ke China daratan. AFP / ANTHONY WALLACEMassa pengunjuk rasa memadati dua ruas jalan raya utama di dekat kantor pusat pemerintahan di Hong Kong, Rabu (12/6/2019). Aksi massa itu untuk menentang UU Ekstradisi yang memungkinkan pelanggar untuk diekstradisi ke China daratan.

HONG KONG, KOMPAS.com - Pemerintah Hong Kong dilaporkan bakal menunda pembahasan UU Ekstradisi yang memicu bentrokan antara polisi dengan pengunjuk rasa.

Pemimpin Hong Kong Carrie Lam sudah mendapat desakan untuk menghentikan pembahasan produk legislasi kontroversial itu. Bahkan dari sekutu dan penasihatnya sendiri.

Pusat finansial internasional itu menghadapi krisis politik terburuk sejak 1997 di mana puluhan ribu pengunjuk rasa dipukul mundur oleh polisi bersenjatakan gas air mata dan peluru karet.

Baca juga: China Sebut Unjuk Rasa di Hong Kong sebagai Kerusuhan

Ketika kritik muncul disertai tanda ketidaknyamanan di antara petinggi Beijing, media lokal mengabarkan pemerintahan Lam berencana mengumumkan semacam penurunan tensi.

SCMP, Now TV, TVB, dan RTHK mengutip sumber internal pemerintah bahwa mereka berencana menunda UU ke parlemen untuk dibahas dan diperdebatkan di parlemen kota.

SCMP memberitakan Lam melakukan pertemuan darurat pada Jumat malam (14/6/2019) dengan para penasihatnya. Sementara pejabat China juga bertemu di Shenzhen untuk memetakan solusinya.

Lam yang dikenal sebagai loyalis Beijing masih bersikeras mempertahankan undang-undang itu meski mendapat penolakan dari lembaga hukum maupun bisnis.

Namun pada Jumat itu, dia mendapat tekanan yang semakin membesar bahkan dari pendukungnya sendiri. Bahkan dari politisi pro-Beijing Ann Chiang.

"Haruskah kami mendinginkan tensi? Saya pikir menundanya bukanlah hal buruk. Dalam tahap ini, saya kira pemerintah harusnya mempertimbangkannya," lata Chiang kepada i-Cable News.

Namun ada juga pendukung China yang meminta Lam untuk tidak tunduk terhadap permintaan peserta unjuk rasa. Salah satunya adalah Regina Ip kepada awak media dilansir AFP Sabtu (15/6/2019).

"Jika pemerintah tunduk kepada kekeasan dan pengaruh eksternal, maka dalam jangka panjang bisa membuat Hong Kong tidak bisa diatur," terang Ip.

Kelompok penentang UU itu sudah berkumpul di seantero Hong Kong di mana ribuan orangtua mengecam tindakan aparat menggunakan peluru karet dan gas air mata kepada pendemo yang masih berusia muda.

Y Chan, seorang ibu berusia 50 tahun yang mempunyai dua anak, mengatakan dia tidak bisa menahan amarahnya ketika melihat tayangan bentrokan itu.

"Saya memanggil seluruh ibu yang merasa muak dengan kejadian pada Rabu (12/6/2019). Mereka di rumah. Berusaha mempertahankannya," tegas Chan.

Baca juga: Unjuk Rasa Anti-UU Ekstradisi di Hong Kong, Ini Tanggapan Trump

Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Sumber AFP
Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Internasional
Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Internasional
Korea Utara Umumkan Uji Coba 'Artileri Laras Jauh'

Korea Utara Umumkan Uji Coba "Artileri Laras Jauh"

Internasional
Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Internasional
Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Internasional
Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Internasional
Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Internasional
[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

Internasional
Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Internasional
Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Internasional
Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Internasional
Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Internasional
Muncul Lagi di Hadapan Publik, Paus Fransiskus Mengaku Terserang Demam

Muncul Lagi di Hadapan Publik, Paus Fransiskus Mengaku Terserang Demam

Internasional
Virus Corona di Iran Menyebar Cepat, 54 Orang Meninggal

Virus Corona di Iran Menyebar Cepat, 54 Orang Meninggal

Internasional
Paus Fransiskus Muncul untuk Pertama Kalinya sejak Dikabarkan Sakit

Paus Fransiskus Muncul untuk Pertama Kalinya sejak Dikabarkan Sakit

Internasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X