Tewaskan 30 Demonstran, Tindakan Keras Pasukan Keamanan Sudan Dikecam

Kompas.com - 04/06/2019, 09:32 WIB
Demonstran mendirikan barikade di jalan dan menuntut agar Dewan Militer Transisi negara itu menyerahkan kekuasaan kepada warga sipil di Khartoum, Sudan, Senin (3/6/2019). (REUTERS)STRINGER Demonstran mendirikan barikade di jalan dan menuntut agar Dewan Militer Transisi negara itu menyerahkan kekuasaan kepada warga sipil di Khartoum, Sudan, Senin (3/6/2019). (REUTERS)

KHARTOUM, KOMPAS.com - Pasukan keamanan Sudan dikecam dunia atas aksi kekerasan terhadap para demonstran di Khartoum, yang menewaskan lebih dari 30 orang.

Diwartakan kantor berita AFP, Senin (3/6/2019), anggota Pasukan Pendukung Reaksi Cepat Sudan (RSF) bersenjata bera dikerahkan di sekitar ibu kota, menjaga pintu masuk ke jembatan yang melintasi Sungai Nil, dan bergerak dalam konvoi.

Selain menewaskan puluhan orang, serangan pasukan keamanan telah melukai ratusan lainnya.

Baca juga: Demo Warga di Bandara Sudan Halangi Pesawat Saudi yang Hendak Terbang


Komite Sentral Dokter Sudan mengatakan, seorang anak berusia 8 tahun menjadi salah satu korban tewas. Lembaga itu meminta bantuan mendesak dari organisasi kemanusiaan untuk membantu terluka.

Seperti diketahui, para demonstran menginginkan agar para jenderal yang menggulingkan presiden Omar al-Bashir menyerahkan kekuasaan kepada pemerintahan sipil.

Pemerintah AS menyebut tindakan keras pasukan keamanan terhadap pengunjuk rasa sebagai aksi brutal.

Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengutuk penggunaan kekuatan yang berlebihan oleh pasukan keamanan terhadap demonstrasi di Sudan.

Dia menyerukan penyelidikan independen. Sementara, Dewan Keamanan PBB akan menggelar rapat tertutup pada Selasa (4/6/2019) untuk membhasa Sudan.

Dewan militer membantah pasukannya secara paksa membubarkan aksi duduk di depan markas tentara. Namun, para pemimpin aksi protes menyebut tempat utama unjuk rasa telah dibersihkan.

"Pasukan Pendukung Reaksi Cepat dan batalion tentara, polisi, serta milisi membubarkan aksi damai," kata Aliansi untuk Kebebasan dan Perubahan di Sudan.

Asosiasi Profesional Sudan yang mempelopori protes nasional pada Desember lalu menyatakan, tindakan keras pada Senin merupakan "pembantaian berdarah".

Lembaga itu meminta masyarakat keluar dari rumah pada Selasa untuk sholat Ied pada Hari Raya Idul Fitri.

"Berdoa untuk para martir dan kemudian berdemonstrasi secara damai," katanya.

Baca juga: Bank Sentral Sudan Dapat Suntikan Dana Rp 3,6 Triliun dari Saudi

BBC mencatat, aksi duduk di alun-alun depan markas militer berlangsung sejak 6 April, lima hari sebelum Bashir digulingkan.

Bulan lalu, jenderal yang berkuasa menyetujui struktur pemerintahan baru dan masa transisi tiga tahun ke sipil.

Namun, militer masih perlu memutuskan pembentukan dewan berdaulat, yang akan menjadi badan pengambil keputusan tertinggi di masa transisi.

Punya opini tentang artikel yang baru Kamu baca? Tulis pendapat Kamu di Bagian Komentar!


Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Terkini Lainnya

Pasukan Iran kepada Kapal Tanker Inggris: Jika Anda Patuh, Anda Bakal Selamat

Pasukan Iran kepada Kapal Tanker Inggris: Jika Anda Patuh, Anda Bakal Selamat

Internasional
Pelaku Pembakaran Studio Animasi Jepang yang Tewaskan 34 Orang Pencandu Game

Pelaku Pembakaran Studio Animasi Jepang yang Tewaskan 34 Orang Pencandu Game

Internasional
Joe Biden Kecam Keras Komentar Tercela Trump kepada 4 Anggota DPR AS

Joe Biden Kecam Keras Komentar Tercela Trump kepada 4 Anggota DPR AS

Internasional
Seorang Ibu Dipenggal Anaknya Disaksikan Bocah 4 Tahun

Seorang Ibu Dipenggal Anaknya Disaksikan Bocah 4 Tahun

Internasional
5 Kisah Anjing Setia: 'Menangis' di Peti Mati hingga Berkorban demi Majikan

5 Kisah Anjing Setia: "Menangis" di Peti Mati hingga Berkorban demi Majikan

Internasional
Iran Sita Kapal Tanker Inggris sebagai Balasan Setelah Kapal Mereka Ditangkap

Iran Sita Kapal Tanker Inggris sebagai Balasan Setelah Kapal Mereka Ditangkap

Internasional
Anjing Setia Ini Berjalan 200 Km Pulang ke Rumah Majikan yang Membuangnya

Anjing Setia Ini Berjalan 200 Km Pulang ke Rumah Majikan yang Membuangnya

Internasional
Terungkap, Ini Alasan Pelaku Pembakaran Studio Animasi Jepang Beraksi

Terungkap, Ini Alasan Pelaku Pembakaran Studio Animasi Jepang Beraksi

Internasional
AS Punya Bukti Kuat Tembak Jatuh Drone Iran

AS Punya Bukti Kuat Tembak Jatuh Drone Iran

Internasional
Ingin Berkencan dengan Awak Kabin Lufthansa, Pria 65 Tahun Buat Ancaman Bom Palsu

Ingin Berkencan dengan Awak Kabin Lufthansa, Pria 65 Tahun Buat Ancaman Bom Palsu

Internasional
Mantan Ratu Kecantikan Rusia Bantah Bercerai dari Eks Raja Malaysia

Mantan Ratu Kecantikan Rusia Bantah Bercerai dari Eks Raja Malaysia

Internasional
Pengacara Benarkan Mantan Raja Malaysia Bercerai dari Eks Miss Moscow

Pengacara Benarkan Mantan Raja Malaysia Bercerai dari Eks Miss Moscow

Internasional
Sempat Batal, India Jadwalkan Ulang Peluncuran Roket ke Bulan Senin Depan

Sempat Batal, India Jadwalkan Ulang Peluncuran Roket ke Bulan Senin Depan

Internasional
Inggris: Iran Memilih Langkah Berbahaya dengan Menahan Kapal Tanker

Inggris: Iran Memilih Langkah Berbahaya dengan Menahan Kapal Tanker

Internasional
Ingin Pergi ke Ghana, Seorang Pria Panjat Mesin Pesawat yang Hendak Terbang

Ingin Pergi ke Ghana, Seorang Pria Panjat Mesin Pesawat yang Hendak Terbang

Internasional
Close Ads X