Katyusha, Senjata Paling Mematikan Milik Uni Soviet Saat Perang Dunia II

Kompas.com - 30/03/2019, 17:33 WIB
Katyusha milik Uni Soviet Wikipedia CommonsKatyusha milik Uni Soviet

KOMPAS.com - Peluncur roket milik Uni Soviet, Katyusha, dikenal sebagai salah satu senjata paling mematikan saat Perang Dunia II. Banyak laporan yang menyebutkan, saat roket ini meluncur, prajurit Jerman sangat takut dengan hantaman Katyusha karena menyebarkan serpihan logam ke berbagai arah.

Suara yang dihasilkan begitu nyaring dan membuat prajurit musuh semakin menciut. Apalagi, senjata ini mobile dan mampu diarahkan untuk menghantam mana saja wilayah yang diincar.

Dilansir dari RBTH, awalnya Katyusha diperkenalkan kepada pejabat-pejabat tertinggi Uni Soviet sebelum Perang Dunia II. Karena desain yang tak mengesankan, yaitu senjata yang diletakkan pada truk, sambutannya dingin.

Ketika itu Menteri Pertahanan Semyon Timoshenko mengungkapkan kekesalan karena sulit mendapatkan persetujuan.

Akan tetapi, setelah beberapa lama menggantung, Pemimpin Uni Soviet Joseph Stalin memberi lampu hijau untuk memproduksi Katyusha sebelum pasukan Jerman menyeberangi perbatasan Uni Soviet.

Baca juga: Saat Uni Soviet Mengorbankan Anjing untuk Mengalahkan Tank Jerman

Bernama resmi BM-13

Sebenarnya, senjata ini memiliki nama resmi BM-13. BM berarti mesin tempur dan 13 merujuk pada kaliber rudal yang digunakan.

BM-13 menjalani uji coba perdana di bawah komando Kapten Ivan Flerov untuk pertempuran di Kota Orsha yang ketika itu sudah didatangi oleh pasukan Wehrmacht Jerman.

Ada banyak pasukan dan amunisi yang dikerahkan. Dalam debut perdananya, Katyusha melampaui seluruh harapan para pemimpin militer Soviet.

Katyusha meluncurkan roketHistorynet Katyusha meluncurkan roket

Peluncur roket Katyusha mampu membombardir dan meluluhlantakkan daerah itu dan dengan cepat meninggalkan lokasi.

Kepala Staf Umum Wehrmacht Franz Halder menuliskan kejadian ini dalam dalam buku hariannya. Dia mengungkapkan bahwa Rusia menggunakan senjata yang sampai sekarang tak dikenal.

Hujan proyektil membakar Stasiun Kereta Api Orsha, semua pasukan, dan perangkat keras militer. Logam mencair dan tanah terbakar.

Efek berdampak cepat nan menghancurkan terlihat. Ini terutama disebabkan oleh kapasitas tenaga Katyusha yang mampu menghasilkan beberapa ton ledakan hanya dalam beberapa detik dan mencakup area yang luas.

Baca juga: 8 Pesawat Terhebat yang Pernah Diciptakan Rusia Sejak Era Uni Soviet

Kekuatan tembakan salvo (tembakan serentak) itu sebanding dengan 70 senjata artileri berat yang digabungkan secara bersamaan.

Keunggulan lain, BM-13 bisa bergerak dan berpindah dengan cepat di antara titik-titik tembak sesuai keinginan "user". Semua pergerakan ini menyebabkannya sulit dilacak.

Rudal Katyusha juga dirancang untuk meninggalkan jejak sekecil mungkin. Karena itu, musuh tidak mungkin mengidentifikasi lokasi dan melakukan serangan balik.

Sejak 1942, rudal dipasang di atas truk Studebaker buatan Amerika Serikat yang diterima Uni Soviet sebagai bagian dari program pinjam atau sewa. Kuat dan cepat, truk itu betul-betul pasangan yang ideal untuk Katyusha.

Asal nama

Pasukan Uni Soviet sedang mempersiapkan Katyusharbth Pasukan Uni Soviet sedang mempersiapkan Katyusha
Katyusha pada dasarnya merupakan judul lagu yang populer di Uni Soviet ketika itu. Lagu itu menceritakan kerinduan seorang gadis kepada pacarnya yang harus mengikuti wajib militer untuk menjaga perbatasan.

Salah satu teori mengatakan, suara yang dihasilkan senjata ini ketika meluncurkan roket sama dengan nada lagu tersebut.

Selain itu, pada bingkai mesin juga terdapat tulisan huruf "K"  merupakan simbol bahwa senjata itu diproduksi oleh pabrik Komintern di Voronezh.

Bagi Jerman, suara proyektil yang melesat dari mulut Katyusa di siang bolong amat menakutkan, karena saat menghantam sasaran peluru Katyusha menyebarkan serpihan logam ke berbagai arah.

Karena penasaran, Jerman mencoba merebut senjata tersebut. Komandan Nazi Otto Skorzeny mampu merebut satu Katyusha. Namun, Jerman tak pernah berhasil meniru senjata itu.

Mereka menyebut bahwa bagian yang gagal dikembangkan Jerman adalah bubuk khusus dalam rudal Soviet. Bubuk itu tak meninggalkan jejak dan membuat rudal mampu terbang secara stabil dan lebih jauh.

Jerman mempunyai peluncur roketnya sendiri, yaitu Nebelwerfer, mortir enam barel. Senjata itu tidak dapat menembakkan rudal sebanyak Katyusha (biasanya 16), tidak bergerak, memiliki jangkauan lebih pendek, dan setelah penembakan meninggalkan jejak panjang di langit sehingga membocorkan lokasi penembakan.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Sumber RBTH
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Salah Buat Berita, Jurnalis China Ini Dimaafkan Netizen Setelah Fotonya Beredar

Salah Buat Berita, Jurnalis China Ini Dimaafkan Netizen Setelah Fotonya Beredar

Internasional
Diselundupkan ke AS, Warga China Dimasukkan Dalam Mesin Cuci

Diselundupkan ke AS, Warga China Dimasukkan Dalam Mesin Cuci

Internasional
Ratusan Pengacara Serang Rumah Sakit di Pakistan, 3 Pasien Meninggal

Ratusan Pengacara Serang Rumah Sakit di Pakistan, 3 Pasien Meninggal

Internasional
Pria Uganda Mengaku Bisa Bunuh Nyamuk dengan Kentut, Ini Faktanya

Pria Uganda Mengaku Bisa Bunuh Nyamuk dengan Kentut, Ini Faktanya

Internasional
Pria Thailand Kisahkan Cacing Pita Diduga Sepanjang 10 Meter Keluar dari Anus Saat BAB

Pria Thailand Kisahkan Cacing Pita Diduga Sepanjang 10 Meter Keluar dari Anus Saat BAB

Internasional
Menang Telak di Pemilu Inggris, Apa Resep Kemenangan Boris Johnson?

Menang Telak di Pemilu Inggris, Apa Resep Kemenangan Boris Johnson?

Internasional
Keluarga Gajah Terekam Menginvasi Hotel di Zambia untuk Sarapan

Keluarga Gajah Terekam Menginvasi Hotel di Zambia untuk Sarapan

Internasional
Trump Kritik Greta Thunberg: Pergilah Menonton Film Bersama Teman!

Trump Kritik Greta Thunberg: Pergilah Menonton Film Bersama Teman!

Internasional
Perdana Menteri Boris Johnson Raih Kursi Mayoritas di Pemilu Inggris

Perdana Menteri Boris Johnson Raih Kursi Mayoritas di Pemilu Inggris

Internasional
Myanmar Dituduh Genosida Rohingya, Ini Peringatan Aung San Suu Kyi

Myanmar Dituduh Genosida Rohingya, Ini Peringatan Aung San Suu Kyi

Internasional
AS Uji Coba Rudal Balistik ke Samudra Pasifik

AS Uji Coba Rudal Balistik ke Samudra Pasifik

Internasional
[POPULER INTERNASIONAL] AU AS Unggul dari Rusia dan China | Bocah Tendang Mobil yang Tabrak Ibunya

[POPULER INTERNASIONAL] AU AS Unggul dari Rusia dan China | Bocah Tendang Mobil yang Tabrak Ibunya

Internasional
Studi: Angkatan Udara AS Unggul Jauh dari Rusia dan China

Studi: Angkatan Udara AS Unggul Jauh dari Rusia dan China

Internasional
Satu-satunya Kapal Induk Milik Rusia Terbakar

Satu-satunya Kapal Induk Milik Rusia Terbakar

Internasional
Pemerintahan Baru Gagal Terbentuk, Israel Bakal Gelar Pemilu Ketiga dalam Setahun

Pemerintahan Baru Gagal Terbentuk, Israel Bakal Gelar Pemilu Ketiga dalam Setahun

Internasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X