Kompas.com - 07/03/2019, 14:53 WIB

BAGHOUZ, KOMPAS.com - Seorang pengantin Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) yang menjadi buronan paling dicari dikabarkan tewas dalam serangan udara di benteng terakhir mereka pekan lalu.

Hayat Boumeddiene tewas dalam serangan udara koalisi pimpinan Amerika Serikat (AS) di sebuah bunker yang disebut sebagai "Rumah Perancis", dilaporkan Daily Mail Rabu (6/3/2019).

Kabar itu diungkapkan Dorothee Macquere, salah satu pengantin ISIS lain yang melarikan diri dari desa Baghouz, berlokasi di perbatasan Irak itu.

Baca juga: Ayah Shamima Salahkan Inggris karena Biarkan Putrinya Kabur ke Suriah dan Gabung dengan ISIS

Boumeddiene kabur dari Perancis setelah suaminya, Amedy Coulibaly, menyerang supermarket di Paris dan membunuh seorang polisi wanita serta empat sandera, pada Januari 2015.

Serangan Coulibaly itu terjadi beberapa hari setelah dua ekstremis bersaudara Cherif dan Said Kouachi membantai staf majalah mingguan satir Charlie Hebdo.

Coulibaly terbunuh dalam serbuan polisi Perancis. Sementara Kouachi bersaudara tewas dalam serangan lain. Serangan mereka bertiga dilaporkan telah membunuh 17 orang.

Penyelidik Perancis kemudian memburu Boumeddiene untuk mengusut serangan yang dilakukan suaminya. Namun, dia dikabarkan kabur ke Suriah dalam keadaan hamil.

Segera, ISIS mempublikasikan wawancara dengan Boumeddiene dalam bahasa Perancis dan Inggris, menyerukan kepada perempuan untuk sabar dan memudahkan hidup suaminya.

"Dia sudah memulai kehidupan baru di Suriah. Dia menikah lagi namun tidak mempunyai anak," kata Macquere dari padang gurun yang dikuasai Pasukan Demokratik Suriah (SDF).

Perempuan keturunan Maroko itu berkata Boumeddiene pernah memberitahunya dia sama sekali tidak mengetahui rencana suaminya maupun serangan di Charlie Hebdo.

Adapun Macquere merupakan pengantin ISIS yang suaminya Jean-Michael Clain tewas setelah menderita luka pasca-serangan udara koalisi AS pada 20 Februari.

"Tidak ada rumah sakit. Saya mencoba merawatnya, namun beberapa bagian tubuhnya sudah robek. Dia sangat menderita," ujar perempuan 38 tahun tersebut.

Baca juga: Ditangkap Pasukan Kurdi, 400 Anggota ISIS Gagal Kabur dari Benteng Terakhir

Jean-Michael merupakan adik dari Fabien Clain, anggota ISIS lain yang dijuluki sebagai "Suara Paris" setelah pembantaian di ibu kota Perancis itu pada 13-14 November 2015.

Serangan yang menargetkan konser musik di Bataclan dan Stade de France saat laga uji coba timnas Perancis versus Jerman itu menewaskan 137 orang termasuk pelaku.

Dalam rekamannya, Clain menyatakan delapan anggota ISIS mengenakan sabuk bom bunuh diri dan melakukan penembakan massal dalam "serangan yang diberkati".

Dalam video propaganda itu, Clain mengancam bahwa serangan mematikan yang terjadi di Paris pada 2015 merupakan awal dari serangan selanjutnya.

Macquere menuturkan dia tidak ingin kembali ke Perancis yang merupakan anggota koalisi AS dalam memerangi ISIS di Suriah tersebut.

"Mereka sudah membunuh suami dan anak saya. Saya tidak menginginkan apapun dari mereka. Mereka sudah memberi luka kepada saya," ratap Macquere.

Baca juga: Mantan Sniper Kurdi Iran Ungkap Kisah Tembak 250 Militan ISIS di Suriah

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Sumber Daily Mail
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.