Kompas.com - 01/03/2019, 11:29 WIB

NEW YORK, KOMPAS.com - Pemerintah Bangladesh mengumumkan bahwa negaranya sudah tidak mampu lagi menerima pada pengungsi Rohingya dari Myanmar.

Disampaikan Menteri Luar Negeri Bangladesh Shahidul Haque, di hadapan Dewan Keamanan PBB, dalam pertemuan membahas krisis pemulangan ratusan ribu Rohingya, situasi saat ini telah berubah menjadi lebih buruk dan semakin buruk, sehingga mendesak dewan untuk segera mengambil tindakan yang menentukan.

Sekitar 740.000 warga etnis Rohingya telah tinggal di kamp-kamp pengungsian di Bangladesh, setelah mereka terusir dari kampung halaman mereka di Rakhine, Myanmar, akibat serangan militer pada 2017.

"Di sini, saya dengan menyesal memberi tahu dewan bahwa Bangladesh tidak lagi berada dalam posisi untuk bisa menampung lebih banyak orang dari Myanmar," ujar Haque, Kamis (28/2/2019).

Baca juga: Disangka Penyelundup Manusia, Pembuat Film asal Jerman Dihajar Warga Rohingya

Di bawah kesepakatan yang telah dicapai dengan Bangladesh, pemerintah Myanmar telah setuju untuk mengambil kembali sejumlah pengungsi, namun PBB menegaskan bahwa keselamatan Rohingya yang menjadi syarat mutlak untuk mereka kembali belum terjamin.

"Apakah ini harga yang harus dibayar Bangladesh karena bertindak responsif dan bertanggung jawab dalam menunjukkan empati kepada populasi minoritas yang teraniaya di negara tetangga?" kata menteri luar negeri, dikutip AFP.

Sementara utusan PBB untuk Myanmar, Christine Schraner Burgener, yang sempat lima kali mengunjungi Myanmar, melaporkan adanya kemajuan yang lambat dalam upaya membantu warga Rohingya kembali ke kampung halaman mereka.

Burgener juga memperingatkan bahwa pemilihan Myanmar tahun depan akan dapat memperburuk situasi krisis di negara itu.

Diplomat asal Swiss itu menilai, pemerintah Myanmar kurang dalam memberi akses kepada badan-badan PBB untuk membantu persiapan pemulangan warga Rohingya.

Duta Besar Myanmar di PBB, Hau Do Suan, sebaliknya bersikeras bahwa pemerintah negaranya telah mengambil tindakan dan meminta kepada semua pihak untuk bersabar.

Do Suang mengatakan, adanya hambatan fisik dan psikologis dalam memungkinkan para pengungsi untuk kembali. Dia menekankan dibutuhkan kesabaran dan waktu, serta keberanian untuk membangun kepercayaan di antara berbagai komunitas di Rakhine.

Baca juga: Angelina Jolie Sebut Krisis Rohingya sebagai Kegagalan Dunia

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Sumber AFP


Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.