PBB Beri Kelonggaran Sanksi Korea Utara untuk Proyek Kereta Api

Kompas.com - 25/11/2018, 05:00 WIB
Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un bersama istrinya Ri Sol Ju (sisi kiri), berpose dengan Presiden Korea Selatan Moon Jae-in dan Ibu Negara Kim Jung-sook di Gunung Paektu Kamis (20/9/2018) setelah pertemuan. AFP/Pyeongyang Press CorpsPemimpin Korea Utara Kim Jong Un bersama istrinya Ri Sol Ju (sisi kiri), berpose dengan Presiden Korea Selatan Moon Jae-in dan Ibu Negara Kim Jung-sook di Gunung Paektu Kamis (20/9/2018) setelah pertemuan.

SEOUL, KOMPAS.com - Dewan Keamanan PBB dilaporkan telah memberikan keringanan sanksi terhadap Korea Utara demi kelancaran proyek jalur kereta api yang menghubungkan kedua Korea.

Hal tersebut setelah kedua Korea pada bulan lalu sepakat untuk memulai proyek penyatuan jalur kereta api melintasi perbatasan dengan menggelar survei bersama.

Proyek yang menjadi bagian dari proses rekonsiliasi itu semula dijadwalkan dimulai dengan survei pada akhir Oktober dan dilanjutkan proses pengerjaan pada akhir November atau awal Desember.

Namun kekhawatiran akan adanya pelanggaran terhadap sanksi PBB menjadikan proyek mengalami penundaan.


"Sangat penting bahwa proyek ini telah mendapat dukungan dari Amerika Serikat dan komunitas internasional," kata Kim Eui-gyeom, juru bicara kepresidenan Korsel di Seoul, Sabtu (24/11/2018).

Baca juga: Korea Utara: Sanksi AS Tidak Manusiawi

Ditambahkan Kim, pakar perkeretaapian dari kedua negara akan bertemu dan menyeberangi perbatasan dalam upaya membawa kerja sama antar-Korea ke tahap selanjutnya.

Diberitakan kantor berita Yonhap, pihak Korea Selatan akan membawa bahan bakar ke Korea Utara untuk menjalankan lokomotif kereta api. Selain itu juga akan ada sejumlah bahan lain yang dibawa untuk keperluan survei.

Pengiriman bahan bakar untuk kereta api tersebut berpotensi melanggar sanksi PBB atas pembatasan impor ke Korea Utara yang hanya dibatasi 500.000 barel per tahun.

Sebelumnya, Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo menyampaikan, setiap upaya pendekatan antara dua Korea harus berjalan beriringan dengan proses denuklirisasi di Semenanjung Korea dan tidak bisa saling mendahului.

Namun belakangan, proses pembicaraan denuklirisasi telah terhenti, dengan setiap agenda pertemuan dianggap tidak produktif, ditunda, atau dibatalkan sama sekali.

Sementara antara Seoul dengan Pyongyang telah membuat sejumlah keputusan nyata tentang rekonsiliasi dan pertukaran.

Akan tetapi pelaksanaan proyek-proyek lintas perbatasan, termasuk penyambungan rel kereta api telah dihalangi oleh kurangnya kemajuan dalam perundingan denuklirisasi.

Baca juga: PBB Pertimbangkan Lagi Pengiriman Bantuan Kemanusiaan ke Korea Utara

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Sumber AFP
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Berusia 34 Tahun, Wanita asal Finlandia Ini Bakal Jadi Perdana Menteri Termuda di Dunia

Berusia 34 Tahun, Wanita asal Finlandia Ini Bakal Jadi Perdana Menteri Termuda di Dunia

Internasional
Reformasi Arab Saudi: Cabut Aturan Pemisahan Pria dan Wanita hingga Izinkan Turis Tak Menikah Menginap Bareng

Reformasi Arab Saudi: Cabut Aturan Pemisahan Pria dan Wanita hingga Izinkan Turis Tak Menikah Menginap Bareng

Internasional
Gunung Meletus di Pulau Selandia Baru, 5 Orang Tewas

Gunung Meletus di Pulau Selandia Baru, 5 Orang Tewas

Internasional
Arab Saudi Cabut Aturan Memisahkan Pria dan Wanita di Restoran

Arab Saudi Cabut Aturan Memisahkan Pria dan Wanita di Restoran

Internasional
Tentara Arab Saudi Menonton Video Penembakan Massal Sebelum Menyerang Pangkalan AL AS

Tentara Arab Saudi Menonton Video Penembakan Massal Sebelum Menyerang Pangkalan AL AS

Internasional
Kebakaran di Pabrik yang Diduga Ilegal di India, 43 Orang Tewas

Kebakaran di Pabrik yang Diduga Ilegal di India, 43 Orang Tewas

Internasional
Jelang Peringatan 6 Bulan Demo, Ratusan Ribu Orang Padati Jalanan Hong Kong

Jelang Peringatan 6 Bulan Demo, Ratusan Ribu Orang Padati Jalanan Hong Kong

Internasional
Korea Utara Gelar Uji Coba, Trump: Kim Jong Un Bisa Kehilangan Semuanya

Korea Utara Gelar Uji Coba, Trump: Kim Jong Un Bisa Kehilangan Semuanya

Internasional
Ditanya Apakah Benci Trump, Ketua DPR AS: Saya Mendoakannya Setiap Hari

Ditanya Apakah Benci Trump, Ketua DPR AS: Saya Mendoakannya Setiap Hari

Internasional
Korea Utara Klaim Gelar Tes yang 'Sangat Penting'

Korea Utara Klaim Gelar Tes yang "Sangat Penting"

Internasional
[POPULER INTERNASIONAL] Kalimat Terakhir Gadis Dibakar Hidup-hidup | Pria di China Gores Mobil BMW

[POPULER INTERNASIONAL] Kalimat Terakhir Gadis Dibakar Hidup-hidup | Pria di China Gores Mobil BMW

Internasional
'Saya Tak Ingin Mati, Saya Ingin Melihat Mereka Dihukum Mati'

"Saya Tak Ingin Mati, Saya Ingin Melihat Mereka Dihukum Mati"

Internasional
Beredar Foto Tentara Arab Saudi Pelaku Penembakan Pangkalan AL AS Pensacola

Beredar Foto Tentara Arab Saudi Pelaku Penembakan Pangkalan AL AS Pensacola

Internasional
Trump Tak Akan Masukkan Kartel Narkoba Meksiko sebagai Teroris

Trump Tak Akan Masukkan Kartel Narkoba Meksiko sebagai Teroris

Internasional
Dibakar Hidup-hidup oleh Si Pemerkosa, Gadis 23 Tahun di India Tewas

Dibakar Hidup-hidup oleh Si Pemerkosa, Gadis 23 Tahun di India Tewas

Internasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X