Serangan Udara Koalisi Saudi di Yaman Tewaskan 19 Warga Sipil

Kompas.com - 26/10/2018, 15:37 WIB
Gambar yang diambil pada 24 Oktober 2018 memperlihatkan sebuah kendaraan yang terbakar setelahi dihantam rudal dari jet tempur koalisi pimpinan Arab Saudi. Koalisi menggelar serangan udara ke Hodeida, Yaman, untuk merebut kota tersebut dari kelompok Houthi.AFP/ABDO HYDER Gambar yang diambil pada 24 Oktober 2018 memperlihatkan sebuah kendaraan yang terbakar setelahi dihantam rudal dari jet tempur koalisi pimpinan Arab Saudi. Koalisi menggelar serangan udara ke Hodeida, Yaman, untuk merebut kota tersebut dari kelompok Houthi.

SANA'A, KOMPAS.com - Sebuah serangan udara yang dilakukan koalisi pimpinan Arab Saudi dilaporkan menghantam kawasan di Hodeida, Yaman.

Dilaporkan The Independent Kamis (25/10/2018), serangan udara itu terjadi di pasar sayur Bayt el-Faqih di selatan Hodeida.

Baca juga: Korea Selatan Tolak Pengajuan Status Pengungsi 400 Warga Yaman

Direktur rumah sakit Abdullah Shahawi menuturkan, serangan itu mengakibatkan 19 orang yang semuanya merupakan warga sipil, dua di antaranya anak-anak.

Serangan itu terjadi ketika koalisi Saudi melaksanakan operasi untuk merebut Hodeida dari kelompok Houthi yang dianggap pemberontak sejak Juni lalu.

Koalisi melakukan intervensi ke Yaman sejak 2015 tatkala Houthi melakukan kudeta dan membuat Presiden Abd-Rabbo Mansour Hadi menyingkir.

Mereka dilaporkan mendapat dukungan logistik dari Amerika Serikat (AS). serta menggunakan rudal yang dibuat baik oleh AS maupun Inggris.

The Independent memberitakan, koalisi Saudi berulang kali melakukan serangan udara di mana tidak ada tanda keberadaan anggota Houthi di tempat yang ditargetkan.

Agustus lalu, rudal jet tempur koalisi menghancurkan bus berisi murid sekolah yang baru saja pulang piknik. Menewaskan 40 anak yang berusia di bawah 11 tahun.

Investigasi yang dilakukan CNN menemukan bom itu dibuat pabrikan senjata AS Lockheed Martin. Bom serupa juga dipakai pada 2016.

Saat itu, koalisi Saudi menyerang upacara pemakaman di Sana'a dan menewaskan 155 orang. Koalisi Saudi membantah dan menyatakan laporan tersebut palsu.

Para pekerja kemanusiaan mengecam serangan udara itu, dan menyebut Yaman bakal mengalami kelaparan terburuk dalam 100 tahun terakhir jika konflik terus berlanjut.

Koordinator Kemanusiaan PBB Mark Lowcock menjelaskan, separuh dari populasi Yaman, sekitar 14 juta, mengalami "kondisi pra-kelaparan".

"Sistem kekebalan orang-orang ini menurun drastis. Anak dan orang tua terancam terkena kondisi seperti kolera, malnutrisi, maupun penyakit lainnya," ujar Lowcock.

Amnesty Internasional, Human Rights Watch, Rights Watch UK berencana melayangkan gugatan hukum untuk menghentikan penjualan senjata Inggris ke Saudi.

Berdasarkan laporan Kementerian Perdagangan Internasional Inggris di 2017, London menyepakati kontrak penjualan senjata senilai 1,129 miliar poundsterling, atau Rp 22 triliun.

Baca juga: Pandai Besi di Yaman Ubah Besi Serpihan Rudal Saudi Jadi Pisau Tradisional



Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:

Close Ads X