Yayasan Nobel Tegaskan Penghargaan Bagi Aung San Suu Kyi Tidak Dicabut

Kompas.com - 02/10/2018, 15:23 WIB
Pemimpin de facto Myanmar Aung San Suu Kyi berbicara di ajang World Economic Forum on ASEAN di Hanoi, Kamis (13/9/2018). AFP/YE AUNG THUPemimpin de facto Myanmar Aung San Suu Kyi berbicara di ajang World Economic Forum on ASEAN di Hanoi, Kamis (13/9/2018).
|

STOCKHOLM, KOMPAS.com - Ketua Yayasan Nobel mengatakan, amat kecewa dengan semua langkah Aung San Suu Kyi saat telah menjadi pemimpin Myanmar.

Namun, lembaga bergengsi itu memutuskan tidak akan mencabut hadiah Nobel Perdamaian yang sudah diberikan kepada Suu Kyi.

Dalam wawancara pekan lalu, Lars Heikensten mengatakan, amat tidak masuk akal mencabut penghargaan yang sudah diberikan sebagai reaksi atas situasi yang terjadi saat ini.

Baca juga: PM Malaysia: Tak Ada Dukungan bagi Aung San Suu Kyi

"Kami melihat apa yang  dia lakukan di Myanmar banyak dipertanyakan dan kami mendukung hak asasi manusia, itu yang menjadi salah satu nilai kami," kata Lars Heikensten, ketua Yayasan Nobel.

"Sehingga tentu saja dia (Suu Kyi) bertanggung jawab atas semua yang terjadi, dan itu amat mengecewakan," tambah Lars.

Meski demikian, lanjut Lars, amat tidak masuk akal jika Yayasan Nobel mencabut hadiah yang sudah diberikan.

"Sebab itu akan membuat kami harus terus mendiskusikan perbuatan baik yang mereka lakukan setelah menerima penghargaan," lanjut dia.

"Akan selalu ada peraih Nobel yang melakukan banyak hal setelah mereka mendapat penghargaan yang kami tak setujui. Hal semacam itu, saya kira tak bisa dihindari," dia menegaskan.

Yayasan Nobel yang berbasis di Stockholm memantau semua proses  penghargaan yang diberikan dari berbagai lembaga di Swedia dan Norwegia.

Komite Nobel Norwegia, yang menghadiahkan Nobel Perdamaian, pada Agustus lalu menegaskan terdapat aturan yang melarang lembaga itu mencabut penghargaan yang sudah diberikan.

Aung San Suu Kyi mendapatkan hadiah Nobel Perdamaian pada 1991 karena dianggap berjasa memperjuangkan demokrasi di Myanmar yang saat itu diperintah junta militer.

Baca juga: Aung San Suu Kyi Bela Vonis Penjara untuk Dua Jurnalis Reuters

Namun, saat telah menduduki tampuk kekuasaan, Suu Kyi dianggap gagal menggunakan "otoritas moralnya" untuk melindungi warga sipil dalam hal ini etnis minoritas Rohingya.

Pada Agustus lalu, tim penyidik PBB melaporkan, militer Myanmar terlibat dalam pembunuhan massal etnis Rohingya yang membuat 700.000 warga etnis minoritas itu mengungsi ke Bangladesh.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku
Komentar


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Israel Klaim 1 Lagi Komandan Jihad Islam dan Keluarganya Tewas dalam Serangan

Israel Klaim 1 Lagi Komandan Jihad Islam dan Keluarganya Tewas dalam Serangan

Internasional
Berdebat dengan Demonstran Hong Kong, Kepala Pria 70 Tahun Dilempar Batu Bata

Berdebat dengan Demonstran Hong Kong, Kepala Pria 70 Tahun Dilempar Batu Bata

Internasional
Dianggap Terlalu Awal, Keluarga di Texas Ini Diminta Copot Hiasan Natal

Dianggap Terlalu Awal, Keluarga di Texas Ini Diminta Copot Hiasan Natal

Internasional
Ekor Anak Anjing Ini Tumbuh di Kepala

Ekor Anak Anjing Ini Tumbuh di Kepala

Internasional
Komandannya Tewas Diserang, Jihad Islam Tembakkan Roket Tiap 7 Menit ke Israel

Komandannya Tewas Diserang, Jihad Islam Tembakkan Roket Tiap 7 Menit ke Israel

Internasional
Hadapi Polisi, Pelajar Hong Kong Mempersenjatai Diri dengan Panah dan Tombak

Hadapi Polisi, Pelajar Hong Kong Mempersenjatai Diri dengan Panah dan Tombak

Internasional
Menlu Retno: Saatnya Wanita Bekerja Bersama Membawa Panji Toleransi

Menlu Retno: Saatnya Wanita Bekerja Bersama Membawa Panji Toleransi

Internasional
Datang ke AS, Erdogan Mengaku Kembalikan Surat yang Ditulis Trump

Datang ke AS, Erdogan Mengaku Kembalikan Surat yang Ditulis Trump

Internasional
Mantan Pemimpin ISIS Baghdadi Pasang Koneksi Internet di Persembunyiannya

Mantan Pemimpin ISIS Baghdadi Pasang Koneksi Internet di Persembunyiannya

Internasional
Ribuan Burung Mati Misterius di Danau Pedalaman India

Ribuan Burung Mati Misterius di Danau Pedalaman India

Internasional
[POPULER INTERNASIONAL] Sungai di Korsel Berubah Merah karena Darah Babi | Pria Diborgol karena Sandwich

[POPULER INTERNASIONAL] Sungai di Korsel Berubah Merah karena Darah Babi | Pria Diborgol karena Sandwich

Internasional
Pemimpin Oposisi Inggris Sebut Eks Pemimpin ISIS Baghdadi Harus Ditangkap Hidup-hidup

Pemimpin Oposisi Inggris Sebut Eks Pemimpin ISIS Baghdadi Harus Ditangkap Hidup-hidup

Internasional
Istrinya Habis Rp 600 Juta di Harbolnas China, Pria Ini Ingin Bunuh Diri

Istrinya Habis Rp 600 Juta di Harbolnas China, Pria Ini Ingin Bunuh Diri

Internasional
Kasus 2 Remaja Tewas Ditabrak Mobil di Jakarta, Bagaimana Hukum Penggunaan Skuter Listrik di Negara Lain?

Kasus 2 Remaja Tewas Ditabrak Mobil di Jakarta, Bagaimana Hukum Penggunaan Skuter Listrik di Negara Lain?

Internasional
Lakukan Pelecehan Seksual, Pelaku Malah Salahkan Korban

Lakukan Pelecehan Seksual, Pelaku Malah Salahkan Korban

Internasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X