Kompas.com - 27/08/2018, 18:14 WIB

KATHMANDU, KOMPAS.com - Investigasi terhadap kecelakaan pesawat di bandara internasional Tribhuvan, Kathmandu, Nepal, mengungkap fakta mengenai kondisi emosional kapten pilot.

AFP pada Senin (27/8/2018) mewartakan, dia diketahui merasa tertekan dan menangis saat menerbangkan pesawat. Penyebabnya, co-pilot mempertanyakan kemampuan sang kapten.

Peristiwa kecelakaan terjadi pada 12 Maret 2018. Pesawat yang lepas landas dari Dhaka, Bangladesh, jatuh ketika mendarat di bandara Kathmandu dan tergelincir hingga mencapai lapangan sepak bola.

Baca juga: Kecelakaan di Bandara Kathmandu, Pesawat Dilaporkan Salah Mendarat

Si burung besi terbakar hebat menyebabkan 51 nyawa melayang sehingga membuatnya sebagai kecelakaan penerbangan paling mematikan di negara Himalaya dalam beberapa dekade terakhir.

Salinan draf dari laporan investigasi akhir yang dilihat oleh AFP menunjukkan, kapten maskapai US-Bangla itu mengalami tekanan dan gangguan emosional.

Tekanan muncul ketika perempuan co-pilot mempertanyakan reputasinya sebagai seorang instruktur yang baik.

"Ketidakpercayaan dan tekanan itu membuatnya terus merokok di dalam kokpit serta mengalami emosi beberapa kali selama penerbangan," tulis laporan tersebut.

Tim penyelamat dan tentara berada di sekitar pesawat milik maskapai US-Bangla yang mengalami kecelakaan di bandara Tribuvhan, Kathmandu, Nepal, Senin (12/3/2018).Saroj BASNET / AFP Tim penyelamat dan tentara berada di sekitar pesawat milik maskapai US-Bangla yang mengalami kecelakaan di bandara Tribuvhan, Kathmandu, Nepal, Senin (12/3/2018).
Kapten Abid Sultan dilaporkan menangis dan bersin beberapa kali dalam penerbangan itu.

Sultan merupakan mantan pilot Angkatan Udara Bangladesh yang juga berprofesi sebagai instruktur maskapai.

Baca juga: Pesawat Maskapai Bangladesh Tergelincir di Bandara Kathmandu

Selama penerbangan singkat dari Dhaka ke Kathmandu, Sultan berbicara tanpa henti untuk mengesankan juniornya di kokpit mengenai kompetensi dan kecakapannya.

Sementara, co-pilot bernama Prithula Rashid baru saja memenuhi syarat dan sebelumnya tidak pernah mendarat di bandara Kathmandu.

Sebelumnya, sumber dari pihak bandara menyebut adanya kebingungan antara petugas kontrol lalu lintas udara dan pilot terkait nomor landasan pacu.

Laporan terbaru menunjukkan, perbedaan pemahaman mengenai landasan pacu 02 atau landasan pacu 20 itu tidak berdampak pada penerbangan.

Jumlah total korban tewas kecelakaan tersebut mencapai 51 orang, termasuk kedua pilot.

Baca juga: Pesawat Malindo Air Tergelincir, Bandara Kathmandu Ditutup

Sebanyak 20 penumpang dapat menyelamatkan diri saat pesawat terbakar, namun mereka mengalami sejumlah luka.

Pesawat Bombardier Dash 8 Q400 itu disebut telah mencapai landasan pacu untuk mendarat, namun mengubah arah pada menit terakhir.

Pesawat gagal untuk mengurangi kecepatannya dan tidak melakukan pemeriksaan pendaratan yang diperlukan.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Sumber AFP
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.