Ketika Memutihkan Kulit Sedang Jadi Tren di Afrika - Kompas.com

Ketika Memutihkan Kulit Sedang Jadi Tren di Afrika

Kompas.com - 09/08/2018, 20:18 WIB
Terapis kecantikan Tasleema Khalifa melakukan perawatan wajah menggunakan produk pemutih di sebuah salon kawasan Johannesburg (3/7/2018). Terapi memutihkan kulit saat ini sedang tren di Afrika sehingga memaksa pemerintah negara di sana untuk melakukan sederet langkah pencegahan.AFP/GULSHAN KHAN Terapis kecantikan Tasleema Khalifa melakukan perawatan wajah menggunakan produk pemutih di sebuah salon kawasan Johannesburg (3/7/2018). Terapi memutihkan kulit saat ini sedang tren di Afrika sehingga memaksa pemerintah negara di sana untuk melakukan sederet langkah pencegahan.

LAGOS, KOMPAS.com - Dr Isima Sobande terkejut ketika dia mendengar ada seorang ibu yang memutihkan kulit bayinya.

Awalnya dia tak percaya, dan menganggapnya hanya sebuah mitos hingga dia melihatnya sendiri di sebuah pusat kesehatan di Lagos, Nigeria.

Bayi yang baru berusia dua bulan itu menangis kesakitan ketika kulitnya terkena cairan pemutih yang masih panas.

Baca juga: Ketika Terapi Memutihkan Penis Sedang Jadi Trend di Thailand

Ibu si bayi menjelaskan dia mencampur krim steroid dan minyak pohon shea, dan melumurinya di kulit bayinya supaya putih.

"Saya tercengang dengan apa yang saya lihat. Sangat mengganggu dengan apa yang saya lihat," kata Sobande dilansir AFP Kamis (9/8/2018).

Fakta yang dia lihat kemudian memberikannya pandangan soal terapi memutihkan kulit yang dilaporkan sedang jadi tren di Afrika.

Dokter 27 tahun itu menjelaskan, fenomena itu seakan sudah menjadi "prosedur standar" bagi mereka yang ingin cantik maupun sukses.

"Bagi kebanyakan orang, terapi itu merupakan cara mereka untuk mendapatkan sebuah hubungan atau memperoleh pekerjaan sukses," katanya.

Profesor Fisiologi Universitas Pretoria di Afrika Selatan, Lester Davids, menyebut terapi itu merupakan warisan kolonialisme berbahaya.

Sebabnya, baik generasi muda maupun tua berusaha membuat kulitnya putih baik dengan meminum pil maupun injeksi.

"Hal menyeramkan adalah ketika mereka menggunakannya dalam konsentrat yang tinggi, dan tak tahu seperti apa dampaknya," kata Davids.

Jika mereka dari kalangan yang mampu, mereka bakal membeli datang ke salon kecantikan, dan melakukan perawatan sesuai dosis yang dianjurkan.

Namun, ada juga membeli krim dengan harga murah yang mengandung bahan-bahan ilegal dan berbahaya seperti hydroquinone, steroid, maupun merkuri.

Apalagi, muncul inovasi bahan pemutih baru bernama glutathione yang bisa digunakan dalam bentuk pil maupun injeksi.

Keberadaan komestik ilegal itu membuat negara-negara seperti Nigeria, Afrika Selatan, dan Kenya melakukan penanganan serius.

Baca juga: Terapi Memutihkan Penis Jadi Tren di Thailand, Apa Risikonya?

Di Provinsi KwaZulu-Natal misalnya, orang-orang diimbau untuk menanggalkan "segala warisan kolonial soal definisi kecantikan".

Otoritas Obat dan Makanan Ghana pada Juli lalu menerbitkan imbauan agar ibu-ibu tak meminum pil glutathione sedang hamil dengan harapan bayinya lahir putih.

Jika diminum, dikhawatirkan bahan itu bisa memberikan dampak bayinya bisa terkena asma, merasakan sakit di dada, atau gagal ginjal.

Pengusaha kosmetik di Lagos, Dabota Lawson menjelaskan langkah pemerintah mendesak peredaran klim pemutih ilegal bakal memakan waktu lama.

Sebab karena sudah menjadi tren, dia menyebut terapi pemutihan kulit itu telah sampai pada taraf "kecanduan".

"Sama seperti menjalani prosedur operasi plastik. Anda tak akan pernah merasa puas sehingga menginginkan lebih," ujar Lawson.

Baca juga: Cara Alami Memutihkan Gigi


Close Ads X