Kejaksaan Swedia Selidiki Kasus Polisi Tembak Pria "Down Syndrome" - Kompas.com

Kejaksaan Swedia Selidiki Kasus Polisi Tembak Pria "Down Syndrome"

Kompas.com - 03/08/2018, 18:51 WIB
Ilustrasi penembakan.Shutterstock Ilustrasi penembakan.

STOCKHOLM, KOMPAS.com - Kepolisian Swedia kini sedang berada dalam pemeriksaan setelah petugasnya menembak mati pria 20 tahun penderita Down Syndrome yang membawa pistol mainan di pusat kota Stockholm.

"Ini adalah sebuah insiden yang amat tragis dan saya memahami masyarakat menginginkan jawaban cepat," kata jaksa penuntut Martin Tiden yang memimpin investigasi, Jumat (3/8/2018).

Eric Torrel tewas ditembak seorang polisi yang sedang berpatroli di kawasan permukiman Vasastan pada pukul 04.00 waktu setempat, Kamis (2/8/2018).

Polisi menembak Eric setelah pria itu melarikan diri dari kediamannya sambil membawa sepucuk pistol mainan.

Baca juga: Bawa Pistol Mainan, Pria Down Syndrome Ditembak Mati Polisi Swedia

"Pria itu membawa benda mirip senjata sehingga polisi meyakini sedang berada dalam situasi berbahaya dan melepaskan tembakan," tambah Tiden.

Meski melakuan penyelidikan atas insiden itu, Tiden menambahkan, sejauh ini belum seorang pun personel kepolisian yang dituduh melakukan tindak kriminal.

Harian Aftonbladet melaporkan, tiga polisi menembak Eric yang menurut keluarganya memiliki intelektualitas setara anak berusia tiga tahun dan sulit berkomunikasi.

Kantor kejaksaan untuk sementara ini hanya membenarkan bahwa insiden penembakan itu melibatkan lebih dari satu orang petugas kepolisian.

Vasastan adalah kawasan permukiman warga berpendapatan tinggi dan tidak pernah diasosiasikan dengan kejahatan atau penembakan yang banyak terjadi di pinggiran kota Stockholm.

"Kami sungguh terpukul, kami masih amat terkejut," kata Katarina Soderberg, ibu korban.

"Dia tidak memiliki kemampuan untuk mengancam. Satu-satunya yang bisa dia lakukan adalah memeluk dan mencium," tambah Katarina kepada harian lokal Mitt i Stockholm.

Sementara ayah korban Rickard Torell mengatakan, putranya itu sering tiba-tiba berlari keluar rumah dan dia tak mengerti mengapa polisi harus menembak Eric.

"Mereka mengatakan Eric membawa replika senjata. Itu tidak benar. Itu adalah mainan anak-anak berusia lima tahun, murahan, dan berbahan plastik," ujar Rickard.

"Mengapa tidak ada alternatif selain menembak dia hingga tewas? Mengapa tidak ada tembakan peringatan?" tanya Katarina, ibu Eric.

Baca juga: Cita-cita Pasangan Lansia yang Anaknya Down Syndrome dengan Rumah Barunya

Sementara itu, kepala kepolisian regional Ulf Johansson mengatakan, insiden yang menimpa Eric amat memilukan dan dia menyampaikan rasa belasungkawa.

"Ini adalah peristiwa yang amat tragis bagi semua orang dan saya amat memahami peristiwa ini menimbulkan banyak kemarahan," kata Johansson.



Terkini Lainnya


Close Ads X