Kompas.com - 09/04/2018, 23:01 WIB
Ribuan mahasiswa Bangladesh bentrok dengan pasukan keamanan dalam aksi unjuk rasa menentang kebijakan kuota untuk lapangan pekerjaan di pemerintahan, Minggu (8/4/2018) malam. AFPRibuan mahasiswa Bangladesh bentrok dengan pasukan keamanan dalam aksi unjuk rasa menentang kebijakan kuota untuk lapangan pekerjaan di pemerintahan, Minggu (8/4/2018) malam.

DHAKA, KOMPAS.com - Ribuan pelajar di Bangladesh berunjuk rasa dengan melakukan protes dan "aksi duduk" pada Senin (9/4/2018). Aksi tersebut berujung bentrok yang menyebabkan sedikitnya 100 orang cedera.

Aksi tersebut digelar sebagai bentuk protes terhadap kebijakan pemerintah yang memberlakukan kuota yang dianggap diskriminatif untuk lapangan pekerjaan di pemerintahan demi kelompok golongan tertentu.

Pemerintah Bangladesh sebelumnya memutuskan menyisihkan 56 persen lapangan pekerjaan di pemerintahan dan layanan sipil bagi keluarga veteran perang kemerdekaan 1971 serta bagi kelompok minoritas yang kurang beruntung.

Aksi unjuk rasa bermula dari mahasiswa Universitas Dhaka yang memboikot kelas dan berkumpul di alun-alun utama sembari meneriakkan kata "Reformasi".

Baca juga: Pertama Kalinya, Menteri Myanmar Bakal Kunjungi Pengungsi Rohingya di Bangladesh

Aksi protes kemudian menyebar di sejumlah perguruan tinggi negara di kota Chittagong, Khulna, Rajshahi, Barisal, Rangpur, Sylhet dan Savar.

Total ribuan mahasiswa menggelar aksi di sejumlah titik. Polisi tidak bersedia menyebutkan jumlah pasti peserta aksi yang berujung bentrokan tersebut.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Pihak polisi sempat menembakkan peluru karet ke arah peserta aksi yang tercatat menjadi salah satu protes terbesar yang terjadi selama masa pemerintahan Perdana Menteri Shiekh Hasina.

Melihat dampak unjuk rasa, pemerintah akhirnya setuju untuk meninjau ulang kebijakan tersebut.

"Lebih dari 100 orang terluka. Mereka telah dirawat di rumah sakit dan tidak ada yang mengalami luka serius," kata Inspektur Polisi Bacchu Mia kepada AFP, Senin (9/4/2018).

Pemimpin Kelompok Mahasiswa, Hasan Al Mamun mengatakan, mereka akan menunda aksi protes setelah adanya janji dari peninjauan kembali oleh pemerintah.

Baca juga: Pesawat Maskapai Bangladesh Tergelincir di Bandara Kathmandu

"Kuota itu sangat diskriminatif. Karena sistem kuota, 56 persen pekerjaan di pemerintah disisihkan hanya untuk lima persen penduduk negara, sedangkan 95 persen penduduk lainnya harus bersaing untuk 44 persen lapangan pekerjaan yang tersisa," kata Hasan.



Sumber AFP
Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kearifan Pilar Singa Ashoka

Kearifan Pilar Singa Ashoka

Internasional
Refleksi 12 Tahun Serangan Penembakan Brutal Mumbai

Refleksi 12 Tahun Serangan Penembakan Brutal Mumbai

Internasional
Amerika Meniru Indonesia?

Amerika Meniru Indonesia?

Internasional
Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Internasional
Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Internasional
Korea Utara Umumkan Uji Coba 'Artileri Laras Jauh'

Korea Utara Umumkan Uji Coba "Artileri Laras Jauh"

Internasional
Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Internasional
Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Internasional
Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Internasional
Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Internasional
[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

Internasional
Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Internasional
Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Internasional
Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Internasional
Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Internasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.