Kompas.com - 29/03/2018, 15:00 WIB
|

KOMPAS.com - Dua bulan setelah perjanjian penghentian tembak menembak antara Amerika Serikat dan Vietnam diteken di Paris, pasukan tempur AS terakhir meninggalkan Vietnam Selatan.

Kesepakatan untuk menarik mundur pasukan ini dilakukan bersamaan dengan langkah Hanoi membebaskan tawanan perang yang ditahan di Vietnam Utara.

Penarikan pasukan tempur terakhir ini sekaligus mengakhiri keterlibatan AS dalam Perang Vietnam selama delapan tahun.

Sementara itu, di Saigon sekitar 7.000 personel staf sipil Kemenhan AS tetap berada di negeri itu untuk membantu Vietnam Selatan dalam menghadapi perang yang masih berlanjut dengan pihak komunis di utara.

Baca juga : Hari Ini dalam Sejarah: Presiden AS Mengaku Kalah dalam Perang Vietnam

Pada 1961, setelah dua dekade memberikan bantuan tak langsung, Presiden AS John F Kennedy mengirimkan kontingen pertama pasukan Amerika ke Vietnam untuk membantu menghadapi komunis.

Tiga tahun kemudian, di saat rezim Vietnam Selatan di ambang keruntuhan, Presiden Lyndon B Johnson memerintahkan serangan udara terbatas terhadap Vietnam Utara.

Langkah Presiden Johnson ini kemudian diikuti kongres AS yang menyetujui pengiriman personel militer ke Vietnam.

Pada 1965, dengan semakin gencarnya serangan Vietnam Utara, Presiden Johnson memiliki dua pilihan, meningkatkan keterlibatan AS atau mundur dari Vietnam.

LBJ, panggilan akrab Presiden Johnson, akhirnya mengambil pilihan pertama dan jumlah personel militer AS di Vietnam segera melonjak hingga 300.000 orang.

Sementara, di langit, Angkatan Udara AS menggelar serangan udara terbesar yang pernah dilaukan sepanjang sejarah.

Baca juga : Tom Hayden, Aktivis Anti-Perang Vietnam Wafat di Usia 76 Tahun

Selama beberapa tahun kemudian, perang tak kunjung berakhir dan korban tentara AS terus berjatuhan.

Selain itu, kejahatan perang yang dilakukan militer AS misalnya pembantaian di My Lai yang terekspos ke publik membuat banyak warga AS menentang perang.

Pasukan AS menggeledah sebuah desa mencari anggota Viet Cong.Wikipedia Pasukan AS menggeledah sebuah desa mencari anggota Viet Cong.
Harapan AS untuk meraih kemenangan di Vietnam sirna saat pasukan komunis menggelar serangan Tet pada 1968.

Serangan ini juga berujung pernyataan LBJ pada Maret 1968 yang memutuskan tidak akan mencalonkan diri kembali sebagai bentuk tanggung jawabnya atas kekacauan Perang Vietnam

Meski LBJ kemudian juga memulai inisiatif pembicaraan damai, pada musim semi 1969 jumlah personel AS di Vietnam mencapai puncaknya yaitu sebanyak 500.000 personel.

Namun, setelah presiden baru AS, Richard Nixon menjabat, proses penarikan mundur pasukan dimulai meski di lain sisi Nixon memerintahka untuk meningkatkan serangan udara.

Baca juga : Hari Ini 40 Tahun Lalu, Jatuhnya Saigon Akhiri Perang Vietnam

Penarian mundur pasukan AS secara besar-besaran berlanjut pada 1970-an di saat Nixon memperlebar cakupan serangan udara hingga ke Kamboja dan Laos.

Serangan udara ke kedua negara tetangga Vietnam itu ditujukan untuk menghancurkan rute logistik di sepanjang perbatasan.

Namun, keputusan memperlebar cakupan perang tanpa banyak hasil positif ini justru memperkuat penentanganterhadap perang baik di AS atau di tempat lain.

Akhirnya, pada Januari 1973 perwakilan AS, Vietnam Utara dan Selatan serta Vietcong menekan perjanjian damai di Paris untuk mengakhiri keterlibatan AS dalam perang.

Inti perjanjian ini adalah penghentian tembak menembak, penarikan mundur pasukan AS, pembebasan tawanan perang, dan reunifikasi damai kedua Vietnam.

Pemerintah Vietnam Selatan tetap memerintah hingga pemilihan umum digelar, serta pasukan Vietnam Utara yang berada di selatan tidak bergerak maju lagi atau diperkuat.

Dalam kenyataannya, kesepakatan itu tak lebih dari sebuah cara AS untuk menyelamatkan muka.

Bahkan sebelum pasukan AS terakhir pergi meninggalkan Vietnam pada 29 Maret 1973, pasuka komunis sudah melanggar kesepakatan gencatan senjata.

Dan, pada awal 1974, perang dalam skala besar dimulai kembali. Pada akhir tahun itu, pemerintah Vietnam Selatan melaporkan sebanyak 80.000 tentara dna warga negeri itu tewas dalam perang.

Sehingga, 1974 dianggap sebagai tahun paling berdarah sepanjang perang Vietnam.

Pada 30 April 1975, beberapa warga AS terakhir di Vietnam Selatan diterbangkan keluar bersamaan dengan jatuhnya Saigon ke tangan komunis.

Di hari yang sama Kolonel Bui Tin menerima pernyataan menyerah dari pemerintah Vietnam Selatan.

Saat menerima pernyataan penyerahan diri ini, Kolonel Bui Tin membuat pidato yang amat terkenal.

"Kalian tak perlu khawatir, di antara bangsa Vietnam tak ada yang menang atau kala. Hanya bangsa Amerika yang dikalahkan," ujar Bui Tin.

Baca juga : Hari Ini dalam Sejarah: Tentara AS Bantai Warga Desa My Lai

Perang Vietnam menjadi perang paling panjang dan yang paling tak populer sepanjang sejarah Amerika Serikat.

Sebanyak 58.000 prajurit AS tewas dalam perang ini. Sementara di pihak Vietnam tak kurang dari 2 juta tentara dan warga sipil kehilangan nyawa.


Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca tentang


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kearifan Pilar Singa Ashoka

Kearifan Pilar Singa Ashoka

Internasional
Refleksi 12 Tahun Serangan Penembakan Brutal Mumbai

Refleksi 12 Tahun Serangan Penembakan Brutal Mumbai

Internasional
Amerika Meniru Indonesia?

Amerika Meniru Indonesia?

Internasional
Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Internasional
Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Internasional
Korea Utara Umumkan Uji Coba 'Artileri Laras Jauh'

Korea Utara Umumkan Uji Coba "Artileri Laras Jauh"

Internasional
Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Internasional
Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Internasional
Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Internasional
Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Internasional
[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

Internasional
Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Internasional
Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Internasional
Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Internasional
Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Internasional
komentar di artikel lainnya
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.