Polisi Seoul Selidiki Kasus Kematian Empat Bayi di Rumah Sakit - Kompas.com

Polisi Seoul Selidiki Kasus Kematian Empat Bayi di Rumah Sakit

Kompas.com - 12/01/2018, 22:23 WIB
Polisi menggeledah Pusat Medis Universitas Putri Ewha di Seoul, 19 Desember 2017, setelah empat bayi yang baru lahir meninggal dunia.Korean Times Polisi menggeledah Pusat Medis Universitas Putri Ewha di Seoul, 19 Desember 2017, setelah empat bayi yang baru lahir meninggal dunia.

SEOUL, KOMPAS.com - Kematian empat bayi yang baru lahir di sebuah unit perawatan intensif rumah sakit di Korea Selatan mendorong dilakukannya penyelidikan oleh polisi.

Kepolisian Seoul melaporkan, bulan lalu empat bayi yang baru lahir meninggal disebabkan keracunan darah akibat infeksi bakteri. Autopsi telah dilakukan oleh Badan Forensik Nasional (NFS).

Hasil tes darah keempat bayi itu menunjukkan semuanya terinfeksi citrobacter freundii, yang dapat menyebabkan gejala fatal pada pasien dengan gangguan imunitas, termasuk pada bayi yang lahir prematur.

Baca juga: Pakar Asal Korea Selatan Sebut Ginjal Kim Jong Un Bermasalah

Lima petugas medis, terdiri dari dua dokter dan tiga perawat dari rumah sakit Universitas Putri Ewha akan menghadapi tuntutan. Mereka diancam dengan tuduhan melakukan kelalaian yang menyebabkan kematian.

Polisi menyebut lima petugas itu melakukan pembunuhan yang tidak disengaja karena mengabaikan tugas dan mengakibatkan kematian para bayi tersebut.

Mengutip Yonhap, empat bayi terlahir prematur pada 16 Desember 2017 di rumah sakit Universitas Putri Ewha. Namun kemudian keempatnya meninggal dunia dalam jangka waktu dua jam.

Laporan awal pasca-kematian menunjukkan kemungkinan bayi-bayi itu terinfeksi bakteri yang sama.

NFS mengatakan, pemberian suplemen nutrisi kemungkinan telah terkontaminasi, atau terkontaminasi saat dibuka dan sebelum disuntikkan ke saluran infus.

"Kasus ini sangat jarang. Kematian karena infeksi bakteri dalam waktu yang hampir bersamaan," tulis pernyataan NFS.

"Fakta yang ada menunjukkan, bayi mengalami perubahan drastis pada detak jantung dan perut membesar, seolah mereka terinfeksi dalam waktu yang bersamaan," tambah NFS.

Baca juga: Gedung Pusat Kebugaran di Korsel Terbakar, 28 Orang Tewas

Sumber di Seoul mengatakan, suplemen yang dikenal sebagai SMOFLIPID, ditemukan oleh Badan Pelaksana Obat dan Makanan (FDA) AS, sebagai ancaman bagi kesehatan bayi prematur.

Badan tersebut mengatakan, pemberian SMOFLIPID pada bayi prematur dan bayi dengan berat lahir rendah yang memiliki kandungan emulsi lemak intravena yang buruk menyebabkan kenaikan kadar plasma asam lemak bebas.


EditorAgni Vidya Perdana
Komentar

Close Ads X