Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com - 06/12/2017, 15:52 WIB
Ardi Priyatno Utomo

Penulis

Sumber Arab News

BALUKHALI, KOMPAS.com - Di tengah panasnya cuaca di kamp pengungsian Balukhali, Bangladesh yang buluk, bayi berusia tujuh bulan, Mahmoud Rohan, terlihat berkeringat.

"Saya sedikit khawatir dengan dia," ujar sang ibu, Roshida Begum, ketika berada di pusat malnutrisi, dikutip kantor berita Reuters.com via Arab News Rabu (6/12/2017).

Rohan, lanjut perempuan 25 tahun itu, mengalami demam Selasa (5/12/2017), sehingga dibawa ke pusat malnutrisi.

Rohan adalah seklumit kecil penderitaan rakyat Rohingya yang mengungsi di Bangladesh sejak operasi militer yang dilakukan Myanmar pecah 25 Agustus lalu.

Di kamp pengungsian, balita hingga anak-anak Rohingya mengalami gizi buruk.

Baca juga : Dijual, Perempuan Rohingya Jadi Budak Seks di Bangladesh

Begum berkata, dia sudah tidak bisa menyusui dengan lancar. Akibatnya, Rohan hanya diberi makan beberapa sendok nasi yang dicampur gula per hari.

Adapun di tempat tinggal Begum di Maungdaw, Rohan hanya mendapat air beras saja.

Arab News mewartakan, ketika diperiksa, lingkar lengan Rohan yang terlihat sangat kurus menjadi indikasi betapa parah kondisi yang dialaminya.

Rentan
UNICEF melansir, sekitar seperempat anak-anak Rohingya yang menghuni kamp pengungsi di Bangladesh dengan usia antara sembilan bulan hingga lima tahun alami kurang gizi.

Parahnya, 7,5 persen dari anak-anak itu, sekitar 17.000, menderita malnutrisi akut.

Jika dibandingkan dengan pengungsi yang sehat, anak-anak yang mengalami malnutrisi ini rentan meninggal dunia jika terkena penyakit.

Baca juga : Akhirnya, Paus Fransiskus Ucapkan Rohingya

Selain terlihat dari bentuk fisik, seperti massa otot yang kecil, penderita malnutrisi juga mengalami penurunan kekebalan tubuh.

"Seorang anak yang menderita malnutrisi sangat rentan terkena diare dan radang paru-paru," kata Charles Erik Haider, dokter relawan di Organisasi Internasional untuk Migrasi.

Setiap empat hari, tentara Bangladesh dan Program Pangan Dunia membagikan nasi, kacang-kacangan, dan minyak kepada para pengungsi Rohingya.

Namun, lanjut Haider, tetap saja anak-anak tidak mendapat asupan makanan yang cukup.

Fakta itu ditambah dengan kurangnya pengetahuan ibu-ibu Rohingya mengenai nutrisi yang dibutuhkan anaknya.

"Tidak ada cukup pengetahuan akan makanan sehat. Kesadaran ini harus ditingkatkan. Kuncinya ada di pemahaman lewat pelatihan," tegas Haider.

Baca juga : 25.000 Anak Etnis Rohingya di Pengungsian Alami Gizi Buruk

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Sumber Arab News
Video rekomendasi
Video lainnya


Rekomendasi untuk anda

Terkini Lainnya

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com