Fadlan Muzakki
Ketua Komisi PPI Dunia

Research Associate di Akar Rumput Strategic Consulting, Founder dari
Center for Asia Pacific Studies Indonesia, Fellowship Graduate di
Zhejiang University, Tiongkok dan juga Ketua Komisi di PPI Dunia.

Melirik Kemesraan Trump-Xi Jinping dan Implikasinya bagi Indonesia

Kompas.com - 23/11/2017, 06:28 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini
EditorLaksono Hari Wiwoho

KUNJUNGAN Presiden Amerika Serikat Donald Trump ke China cukup menarik untuk diamati. Pasalnya, dua negara yang dikenal saling berkompetisi ini seakan membentuk prospek aliansi baru dalam tatanan struktur internasional.

Meskipun, kebijakan-kebijakan keamanan tradisional masih tetap diterapkan oleh kedua negara khususnya di kawasan Laut China Selatan (LCS).

Dalam keadaan tersebut, Indonesia harus cermat mengantisipasi peluang dan tantangan atas implikasi dari pertemuan tersebut.

Kunjungan Presiden Trump ke China seakan menjanjikan sebuah paradigma baru pada hubungan kedua negara. Orientasinya adalah penguatan kerja sama bisnis dan perdagangan.

Keduanya telah menyepakati kerja sama senilai 253 miliar dollar AS dan menjadikan kunjungan tersebut salah satu kesepakatan bisnis dan perdagangan terbesar selama yang pernah ada.

Pertanyaannya, apakah implikasi pertemuan dan "kemesraan" AS-China ini bagi politik global?

Xi Jinping menyampaikan bahwa terdapat masa depan yang cerah antara hubungan ekonomi dan perdagangan antara China dan Amerika.

Trump menambahkan bahwa ia ingin mempererat hubungan kedua negara bahkan lebih kepada hubungan persahabatan antara masyarakat di kedua negara.

Dalam dialognya dengan media, Presiden Xi menyebutkan bahwa kerja sama adalah pilihan terbaik bagi China dan Amerika Serikat.

Presiden Trump juga menyampaikan bahwa tidak ada yang lebih penting selain hubungan China dan Amerika Serikat.

Uniknya, Trump menegaskan bahwa dirinya tidak menyalahkan China jika negara tersebut mengambil kesempatan yang besar dalam globalisasi dan terjadi unfair trade antara kedua negara.

Aliansi baru?

Kunjungan kenegaraan Presiden Amerika Serikat ke Asia dapat dikatakan sebagai kunjungan ke negara-negara sekutu, seperti Jepang, Korea Selatan, Filipina, dan Vietnam, sebagai new strategic partner.

Selain perjanjian bisnis dan perdagangan, memanasnya hubungan Amerika Serikat dan Korea Utara juga menjadi isu pembicaraan antara Trump dan Xi Jinping selama pertemuan dua negara tersebut.

Berkali-kali dalam pidatonya, Trump menekankan agar China dapat mendukung gerakan denuklirisasi Korea Utara. Lebih lanjut, Trump meminta Beijing untuk memotong jaringan keuangan yang ada di Korea Utara.

Behavioural approach yang dilakukan Amerika Serikat terhadap China seakan hendak membuat aliansi baru untuk mengepung Korea Utara.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.