Ledakan di RD Kongo, Satu Gadis Cilik Tewas dan 32 Tentara Terluka

Kompas.com - 08/11/2016, 17:45 WIB
Ratusan demonstran RD Kongo turun ke jalan untuk ambil bagian dalam aksi protes massa oposisi di Kinshasa, 19 September 2016. Beberapa orang di antaranya merusak papan reklame yang antara lain menampilkan wajah Presiden Joseph Kabila.
AFP/Eduardo SoterasRatusan demonstran RD Kongo turun ke jalan untuk ambil bagian dalam aksi protes massa oposisi di Kinshasa, 19 September 2016. Beberapa orang di antaranya merusak papan reklame yang antara lain menampilkan wajah Presiden Joseph Kabila.
EditorPascal S Bin Saju

KINSHASA, KOMPAS.com – Seorang gadis cilik tewas dan 32 tentara India, yang begabung dalam Pasukan Penjaga Perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa, terluka akibat ledakan di Goma, Republik Demokratik Kongo, Selasa (8/11/2016).

"Sebuah granat meledak sehingga menewaskan seorang gadis berusia sekitar delapan tahun dan warga sipil lain terluka," kata Bilamekaso Tchagbele, juru bicara PBB di RD Kongo.

Menurut juru bicara misi PBB tersebut, ledakan itu mengenai pasukan “Helm Biru” saat mereka sedang lari pagi di distrik Kyshero, di sisi barat kota Goma.

Prajurit yang terluka dibawa ke rumah sakit militer PBB. "Sebuah penyelidikan telah dimulai untuk menentukan dari mana granat itu berasal," kata Tchagbele seperti dilaporkan Reuters.

Abdoul Bikulo, seorang pejabat di distrik Kyshero, Goma,  di mana ledakan tersebut terjadi, mengkonfirmasi kematian anak perempuan murid sekolah dasar itu.

Ismael Salumu, seorang imam di sebuah masjid di dekat lokasi ledakan mengatakan, tiga personel penjaga perdamaian PBB tewas. Namun, tidak ada laporan resmi yang mengonfirmasinya.

Misi PBB di DR Kongo (MONUSCO) memiliki lebih dari 20.000 tentara di  negara itu untuk melindungi warga sipil dan melucuti puluhan pemberontak dan kelompok sempalan setelah dua dekade konflik di bagian timur negara itu.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Pasukan tentara dan polisi MONUSCO berasal dari lebih dari 50 negara termasuk negara-negara di kawasan Afrika tersebut dan mereka telah ditempatkan di RD Kongo sejak tahun 1999.

Ketegangan di RD Kongo ini meningkat setelah Presiden Joseph Kabila berencana untuk tetap mempertahankan kekuasaannya setelah mandat untuk periode keduanya akan berakhir pada Desember 2016.

Sementara kubu oposisi mendesak Kabila agar segera meletakkan jabatannya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kearifan Pilar Singa Ashoka

Kearifan Pilar Singa Ashoka

Internasional
Refleksi 12 Tahun Serangan Penembakan Brutal Mumbai

Refleksi 12 Tahun Serangan Penembakan Brutal Mumbai

Internasional
Amerika Meniru Indonesia?

Amerika Meniru Indonesia?

Internasional
Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Internasional
Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Internasional
Korea Utara Umumkan Uji Coba 'Artileri Laras Jauh'

Korea Utara Umumkan Uji Coba "Artileri Laras Jauh"

Internasional
Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Internasional
Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Internasional
Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Internasional
Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Internasional
[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

Internasional
Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Internasional
Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Internasional
Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Internasional
Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Internasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.