Kompas.com - 21/10/2016, 05:49 WIB
EditorGlori K. Wadrianto

KOMPAS.com — Waktu menunjukkan jam makan siang di Lembaga Pemasyarakatan Missouri, Amerika Serikat.

Brryan Jackson terlihat gugup ketika dibimbing dari ruang tunggu penjara melewati pintu masuk yang berdenting memecah kesunyian ruang sidang.

Di ujung lain ruangan itu, ada seorang pria yang mengenakan seragam tahanan putih tengah menunggunya.

Meski mereka belum pernah bertemu lagi sejak Brryan Jackson masih bayi, pria bernama Bryan Stewart di sudut ruangan itu tetap ayahnya.

Jackson berada di sini untuk membacakan sebuah pernyataan yang berisi harapan, dan memastikan bahwa ayahnya akan tetap mendekam di balik jeruji besi seumur hidup.

Sebagian orang tidak percaya bahwa Jackson bisa memiliki kesempatan untuk membaca pernyataan ini. Sebab, pada tahun 1992 ia didiagnosis terjangkit "AIDS stadium akhir".

Ketika itu, pihak rumah sakit tidak sanggup menanganinya, dan memulangkan ke rumahnya dalam keadaan sekarat.

Sambil memegang selembar kertas yang diketik, Jackson duduk di samping ibunya, yang berjarak lima kursi dari ayahnya.

"Saya mencoba untuk menjaga agar pandangan mata saya tetap lurus. Saya tidak ingin menatap matanya," kata Jackson.

Ia bisa melihat sang ayah dari sudut mata, tentu hanya sekilas.

"Saya mengenalinya dari foto yang ada di kantor polisi, tetapi saya tidak memiliki hubungan dengan dia," kata Jackson.

"Saya bahkan tidak mengenalinya sebagai ayah saya."

Majelis pembebasan bersyarat menyerukan kepada Jackson untuk membacakan pernyataan dengan lantang. Jackson pun menghela napas, berhenti sejenak.

"Saat itu saya bertanya-tanya apakah saya melakukan hal yang benar, tetapi ibu saya selalu mengajarkan saya agar menjadi berani," ungkap dia.

"Saya mencoba untuk mengingatkan diri sendiri bahwa Tuhan menyertai saya. Apa pun hasil sidang ini, Tuhan lebih besar dari saya, lebih besar dari ayah saya, lebih besar dari ruangan atau bahkan Departemen Kehakiman."

Ia mengambil napas dalam-dalam, menatap majelis pembebasan bersyarat dengan mantap dan mulai menceritakan kisahnya.

Petugas medis

Kisah ini dimulai saat ibu dan ayahnya bertemu di sebuah fasilitas pelatihan militer di Missouri, di mana mereka berdua mengikuti pelatihan sebagai petugas medis.

Lalu, mereka pindah dan lima bulan kemudian, pada pertengahan tahun 1991, ibunya mengandung.

"Ayah sangat bahagia saat menyambut kelahiran saya, tetapi semuanya berubah ketika ia pergi ke operasi militer Desert Storm di Arab Saudi. Sekembalinya dari sana, sikapnya berbeda sama sekali terhadap saya," kata Jackson.

Stewart mulai menyangkal bahwa Jackson adalah putranya.

Dia menuntut tes DNA sebagai bukti bahwa dirinya adalah ayah Jackson, dan ia pun menyerang sang ibu secara fisik dan verbal.

Ketika ibu Jackson akhirnya meninggalkan suaminya, pasangan ini bertengkar sengit soal biaya tunjangan anak.

Stewart menolak untuk menafkahi. Selama perselisihan itu, ayah Jackson melontarkan ancaman yang menyeramkan.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.