Kompas.com - 02/01/2016, 08:22 WIB
EditorBayu Galih

ANKARA, KOMPAS.com - Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan diberitakan memuji sistem pemerintahan Jerman di masa kepemimpinan Adolf Hitler.

Dikutip dari AFP, Sabtu (2/1/2016), pujian Erdogan disampaikan kepada sistem yang memungkinkan presiden memiliki kekuasaan eksekutif kuat, yang menjadikan pemerintahan berjalan lebih efektif.

"Dalam sistem kesatuan, sistem presidensial bisa berjalan dengan sempurna," ujar Erdogan kepada wartawan saat tiba di Istanbul usai kunjungan dari Arab Saudi, Kamis.

"Sudah ada sejumlah contoh di dunia dan sejarah. Anda bisa melihatnya saat Jerman dipimpin Hitler," ujar presiden yang berkuasa lebih dari satu dekade ini.

Namun, dalam keterangan pers yang disampaikan Kepresidenan Turki, ucapan Erdogan itu tidak dimaksudkan sebagai dukungan atas aksi Hitler dan ideologi Nazisme.

"Presiden telah menyatakan bahwa Holocaust dan anti-Semitisme, juga islamophobia, merupakan kejahatan terhadap kemanusiaan," demikian pernyataan Istana Kepresidenan Turki.

Selain itu, Istana Kepresidenan Turki juga menyatakan bahwa kekuasaan Adolf Hitler telah menyebabkan "konsekuensi bencana" untuk sistem politik. Karena itu sistem itu tidak bisa dijadikan contoh yang baik.

Erdogan melanjutkan kekuasaannya setelah Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) yang dipimpinnya menang pemilu pada November lalu.

Setelah itu, Erdogan pun berencana mengadakan referendum untuk melakukan reformasi konstitusi.

Perdana Menteri Ahmet Davutoglu pada pekan lalu telah melakukan negosiasi dengan partai politik lain untuk mengubah konstitusi yang dibuat militer, setelah melakukan kudeta pada 1980.

Komentar Erdogan dan langkah politik AKP pun dikritik sejumlah pengamat politik di Turki, sebab dianggap memperlihatkan ambisi untuk memperluas kekuasaan.

Erdogan dianggap berusaha "melakukan kesepakatan sosial secara penuh" dengan melakukan referendum.

Meski menang pemilu dan menguasai parlemen, AKP memang membutuhkan dukungan partai lain untuk mengubah konstitusi. Sebab, AKP belum menguasai dua pertiga kursi parlemen yang dibutuhkan untuk mengubah konstitusi.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Sumber AFP
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kearifan Pilar Singa Ashoka

Kearifan Pilar Singa Ashoka

Internasional
Refleksi 12 Tahun Serangan Penembakan Brutal Mumbai

Refleksi 12 Tahun Serangan Penembakan Brutal Mumbai

Internasional
Amerika Meniru Indonesia?

Amerika Meniru Indonesia?

Internasional
Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Internasional
Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Internasional
Korea Utara Umumkan Uji Coba 'Artileri Laras Jauh'

Korea Utara Umumkan Uji Coba "Artileri Laras Jauh"

Internasional
Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Internasional
Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Internasional
Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Internasional
Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Internasional
[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

Internasional
Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Internasional
Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Internasional
Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Internasional
Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Internasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.