AS: 20.000 Milisi Asing Berbondong ke Suriah

Kompas.com - 11/02/2015, 11:13 WIB
Ratu Rania, istri Raja Abdullah dari Jordania, ikut membawa poster dalam unjuk rasa menentang ISIS dan mendukung keluarga pilot muda Maaz al-Kassasbeh di Amman, Jumat (6/2/2015). AFPRatu Rania, istri Raja Abdullah dari Jordania, ikut membawa poster dalam unjuk rasa menentang ISIS dan mendukung keluarga pilot muda Maaz al-Kassasbeh di Amman, Jumat (6/2/2015).
EditorEgidius Patnistik
WASHINGTON, KOMPAS.com - Sejumlah pejabat intelijen AS, Selasa (10/2/2015) waktu setempat, mengatakan, milisi asing sedang berbondong ke Suriah dalam jumlah "yang belum pernah terjadi sebelumnya", yaitu lebih dari 20.000 sukarelawan dari seluruh dunia untuk bergabung dengan kelompok Negara Islam atau ISIS serta kelompok-kelompok ekstremis lainnya.

Para milisi asing yang melakukan perjalanan ke Suriah itu berasal dari lebih dari 90 negara, termasuk setidaknya 3.400 orang dari negara-negara Barat dan lebih dari 150 orang dari AS. Demikian menurut perkiraan terbaru Pusat Kontra Terorisme Nasional (National Counter-Terrorism Center/NCTC) AS.

Perkiraan itu menyebut, mayoritas relawan asing yang tiba baru-baru ini telah bergabung dengan kelompok ISIS di Suriah dan Irak. Menurut NCT, perkiraan total jumlah milisi asing yang berbondong-bondong ke Suriah naik dari perkiraan sebelumnya pada Januari yang hanya sekitar 19.000 orang.

Tak ada angka tepat yang tersedia terkait jumlah milisi asing itu "tetapi trennya jelas dan mengkhawatirkan," kata Nicholas Rasmussen, direktur NCTC, dalam sambutannya yang disiapkan untuk sidang Kongres pada Rabu ini. "Tingkat perjalanan milisi asing ke Suriah belum pernah terjadi sebelumnya. Ini melebihi tingkat jumlah orang yang pergi ke Afganistan dan Pakistan, Irak, Yaman, atau Somalia pada titik kapan pun dalam 20 tahun terakhir," kata dia.

Rasmussen mengatakan, para relawan berasal dari berbagai latar belakang dan "tidak ada stereotipe tertentu".

 "Medan perang di Irak dan Suriah memberi kesempatan pengalaman tempur, pelatihan penggunaan senjata dan bahan peledak bagi milisi asing, dan akses ke jaringan teroris yang mungkin merencanakan serangan yang menargetkan Barat," katanya.

Sejumlah pemerintah negara Barat telah menyuarakan peringatan terkait arus milisi asing yang menuju Suriah yang dilanda konflik, terutama setelah terjadinya serangan militan di Paris yang menewaskan 17 orang.

Menurut sejumlah pejabat AS, dalam pertempuran selama berbulan-bulan untuk merebut kota Kobani di Suriah yang dekat dengan perbatasan Turki, sejumlah besar milisi asing termasuk di antara yang tewas. Pasukan Kurdi, yang didukung serangan udara pimpinan AS, akhirnya berhasil menangkis upaya ISIS untuk merebut Kobani itu.

Menurut Rasmussen, militan ISIS mampu merekrut relawan baru sebagian karena propanga cerdas kelompok itu di media sosial, yaitu dengan memproduksi video dan kemudian menampilkannya dalam berbagai bahasa. Selain foto-foto mengerikan tentang pembunuhan para sandera dan eksekusi di medan perang, kelompok itu juga berusaha untuk menggapai para pemuda yang terasing dengan mempromosikan foto-foto penyambutan dan hidup "gaya pedesaan" di kekhalifahan yang mereka deklarasikan.

Dia mengatakan, militan ISIS menggunakan referensi merek Barat dan video game populer untuk merekrut orang muda dan orang-orang yang suka mencari sensasi.  "Mereka juga telah menciptakan 'meme' bernas seperti, YODO yang artinya 'Anda hanya mati sekali. Mengapa tidak membuatnya menjadi mati syahid?'"

Dia menambahkan, Al Qaeda dan cabang-cabangnya di Timur Tengah dan Afrika belum pernah memperlihatkan kecerdasan propaganda seperti itu.

Rasmussen mengatakan, tidak ada rute tunggal bagi para milisi asing yang melakukan perjalanan untuk mencapai Suriah. Namun kebanyakan melewati Turki "karena kedekatan geografis ke daerah perbatasan Suriah." Mereka memanfaatkan  keuntungan pengaturan perjalanan bebas visa Turki dengan sekitar 69 pemerintah, termasuk dengan negara-negara Uni Eropa.

Turki telah meningkatkan upaya untuk membendung arus itu dan menolak masuk orang-orang yang potensial menjadi milisi asing. Negara ini kini punya daftar larangan perjalanan untuk sekitar 10.000 orang.

Rasmussen mengatakan, walau Turki dan negara-negara Eropa lainnya telah memperkuat kontrol perbatasan dan mengambil langkah-langkah lainnya, "upaya signifikan tetap" ada  untuk mencegah para relawan menuju Suriah atau untuk menghentikan mereka kembali.

Ia mengatakan, pada akhirnya, satu-satunya cara untuk melawan ancaman ekstremis dan kelompok ISIS adalah "mengurangi daya tarik terorisme dan menghalangi orang bergabung dengan mereka pada kesempatan pertama."

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Sumber AFP
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Di Turki, Risma Cerita soal Kelucuan Bonek

Di Turki, Risma Cerita soal Kelucuan Bonek

Internasional
Australia Bersiap Hadapi Hari Terpanas dalam Sejarah

Australia Bersiap Hadapi Hari Terpanas dalam Sejarah

Internasional
Ketahuan Berhubungan Seks dengan Pria Lain, Istri Tewas Ditembak Suaminya

Ketahuan Berhubungan Seks dengan Pria Lain, Istri Tewas Ditembak Suaminya

Internasional
Istri Terlalu Boros, Pria di India Bunuh Diri

Istri Terlalu Boros, Pria di India Bunuh Diri

Internasional
Pria 70 Tahun Tewas Dipukul Batu Bata, Polisi Hong Kong Tahan 5 Remaja

Pria 70 Tahun Tewas Dipukul Batu Bata, Polisi Hong Kong Tahan 5 Remaja

Internasional
Korea Utara Kembali Gelar 'Tes Krusial'

Korea Utara Kembali Gelar "Tes Krusial"

Internasional
Pukul dan Hantamkan Kepala Remaja ke Tanah, Polisi Ini Dipecat

Pukul dan Hantamkan Kepala Remaja ke Tanah, Polisi Ini Dipecat

Internasional
[KABAR DUNIA SEPEKAN] Jurnalis China Dimaafkan Netizen karena Fotonya Beredar | Arab Saudi Cabut Aturan Pisahkan Pria dan Wanita

[KABAR DUNIA SEPEKAN] Jurnalis China Dimaafkan Netizen karena Fotonya Beredar | Arab Saudi Cabut Aturan Pisahkan Pria dan Wanita

Internasional
Bocah 3 Tahun Gores 10 Mobil Mewah, Si Ayah Diminta Ganti Rugi Rp 140 Juta

Bocah 3 Tahun Gores 10 Mobil Mewah, Si Ayah Diminta Ganti Rugi Rp 140 Juta

Internasional
Larang Murid Punya Rambut Poni, Sekolah di Thailand Jadi Sorotan

Larang Murid Punya Rambut Poni, Sekolah di Thailand Jadi Sorotan

Internasional
Bantu Ibunya Lolos Tes Menyetir, Pria Ini Menyamar Jadi Perempuan

Bantu Ibunya Lolos Tes Menyetir, Pria Ini Menyamar Jadi Perempuan

Internasional
Komite DPR AS Setujui 2 Pasal Pemakzulan untuk Trump

Komite DPR AS Setujui 2 Pasal Pemakzulan untuk Trump

Internasional
Salah Buat Berita, Jurnalis China Ini Dimaafkan Netizen Setelah Fotonya Beredar

Salah Buat Berita, Jurnalis China Ini Dimaafkan Netizen Setelah Fotonya Beredar

Internasional
Diselundupkan ke AS, Warga China Dimasukkan Dalam Mesin Cuci

Diselundupkan ke AS, Warga China Dimasukkan Dalam Mesin Cuci

Internasional
Ratusan Pengacara Serang Rumah Sakit di Pakistan, 3 Pasien Meninggal

Ratusan Pengacara Serang Rumah Sakit di Pakistan, 3 Pasien Meninggal

Internasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X