Perempuan Jadi Pemangku Kebijakan di Arab Saudi, Kasus Korupsi Bisa Dihindari - Kompas.com

Perempuan Jadi Pemangku Kebijakan di Arab Saudi, Kasus Korupsi Bisa Dihindari

Ardi Priyatno Utomo
Kompas.com - 12/11/2017, 16:22 WIB
Perempuan-perempuan Arab Saudi menggunakan cadar sebagai bagian dari pakaian kesehariannya, mengingat kondisi cuaca yang berangin sehingga membawa debu pasir. SHUTTERSTOCK Perempuan-perempuan Arab Saudi menggunakan cadar sebagai bagian dari pakaian kesehariannya, mengingat kondisi cuaca yang berangin sehingga membawa debu pasir.

RIYADH, KOMPAS.com - Di Arab Saudi, kini banyak perempuan yang memiliki kemampuan memimpin dan berpendidikan tinggi.

Namun, peran mereka sebagai pengambil kebijakan masih sangat kurang.

Hal itu dikatakan oleh Anggota Majelis Syuro Saudi, Haya Al-Munea kepada salah satu harian Saudi, seperti dikutip Arab News.

Al-Munea menjelaskan, dia menginginkan perempuan bisa mendapat lebih banyak kesempatan untuk duduk dalam jabatan strategis di berbagai sektor.

Momentum ini bisa datang seiring dengan keputusan Putra Mahkota, Pangeran Mohammed bin Salman, menangkap 11 pangeran karena diduga melakukan korupsi.

Baca juga : Setelah Boleh Nyetir, Kini Perempuan Arab Saudi Boleh Nonton di Stadion

Al-Munea melanjutkan, dengan menempatkan perempuan sebagai pemangku kebijakan, potensi korupsi bisa dihindari.

" Perempuan lebih teliti dalam hal akurasi dan integritas. Kasus korupsi tidak akan terjadi," tegas Al-Munea.

Pendapat Al-Munea didukung oleh seorang pengacara,Ibrahim Al-Hakami, dan aktivis bernama Hakima Muzaffar.

"Perempuan lebih aktif dan jujur. Tidak ada lingkaran korupsi di sekitar mereka," kata Muzaffar dalam kicauannya di Twitter.

Al-Hakami juga mengatakan demikian. Hanya, dia melihat perempuan takut untuk mengambil tanggung jawab dibanding laki-laki.

"Fakta itu menyebabkan jumlah pemimpin perempuan hanya bisa dihitung dengan jari," tutur Al-Hakami.

Baca juga : Perempuan Arab Saudi yang Mengemudi Mobil, Kini Masih Diburu Sanksi

Sejak tahun lalu, pemerintahan Raja Salman bin Abdulaziz Al-Saud mengeluarkan kebijakan yang memihak perempuan.

Dimulai dari wacana untuk mencabut larangan menyetir bagi perempuan yang bakal aktif Juni 2018 mendatang.

Di lembaga legislatif, pasca-mereformasi struktur Majelis Syuro Desember 2016, 10 di antara 30 anggota dijabat oleh perempuan.

Arab News menulis, Saudi berencana untuk mengijinkan anggota Majelis Syuro perempuan membahas fatwa dan berkontribusi tentang kajian Islam.

Di bidang diplomasi, Kementerian Luar Negeri Saudi merilis diplomat perempuan sudah mencapai 113 orang.

Salah satunya adalah Manal Radwan. Radwan menjabat sebagai koordinator politik dan sekretaris delegasi Saudi di markas besar PBB di New York.

Di sektor bisnis dan keuangan, nama Khlood Aldukheil mencuat sebagai Chairman Aldukheil Financial Group. Sebuah perusahaan yang bergerak di bidang investasi dan perbankan.

Baca juga : Belasan Perempuan Arab Saudi Duduk di Dewan Kota

PenulisArdi Priyatno Utomo
EditorArdi Priyatno Utomo
SumberArab News
Komentar

Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM