Asrama Indonesia di Mesir Dibangun untuk Cegah Radikalisme - Kompas.com

Asrama Indonesia di Mesir Dibangun untuk Cegah Radikalisme

Musthafa Abd Rahman dari Kairo, Mesir
Kompas.com - 13/09/2017, 09:02 WIB
Sejumlah mahasiswa Indonesia bersama pimpinan KBRI Kairo dan Al Azhar di kompleks Asrama Indonesia di Kairo, Mesir, Selasa (12/9/2017)Kompas.com/Mustafa Abd Rahman Sejumlah mahasiswa Indonesia bersama pimpinan KBRI Kairo dan Al Azhar di kompleks Asrama Indonesia di Kairo, Mesir, Selasa (12/9/2017)

KAIRO, KOMPAS.com – Asrama Indonesia di Mesir, yang meliputi empat gedung asrama dan satu dapur umum, Selasa (12/9/2017), mulai dihuni mahasiswa Indonesia yang belajar di Universitas Al Azhar, Kairo.

Kompleks asrama dicanangkan untuk menampung 900 mahasiswa Indonesia dan 300 mahasiswa Mesir pada Tahun Akademik 2017/2018.

Kompleks asrama kini divisikan sebagai tempat menimba ilmu dan kegiatan belajar ilmu keislaman yang mengusung nilai-nilai moderatisme dan antiradikalisme.

Visi tersebut semakin diupayakan ditanam terhadap para mahasiswa asal Indonesia di Mesir, menyusul kasus deportasi enam mahasiswa Indonesia di Mesir.

Enam mahasiswa Indonesia di Mesir dalam dua bulan terakhir ini telah dideportasi oleh otoritas Mesir karena dugaan terlibat atau bersimpati pada kelompok radikal di negara itu.

Baca: Asrama Mahasiswa Indonesia di Kairo Diberi Nama "SBY"

Kompleks asrama itu, yang proses pembangunannya selesai pada akhir 2015, itu dibangun atas biaya dari dana pemerintah Indonesia.

Pembangunan asrama tersebut digagas pada masa Duta Besar AM Fachir (kini Wakil Menlu RI) dalam lokakarya dukungan terhadap peningkatan prestasi mahasiswa Indonesia pada April 2008, yang dihadiri oleh seluruh pemangku kepentingan dari Indonesia dan Mesir.

Dubes RI untuk Mesir, Helmy Fauzy, di depan para mahasiswa baru yang akan menempati asrama itu mengatakan, Universitas Al Azhar sudah banyak memberikan kemudahan kepada  mahasiswa Indonesia.

“Grand Sheikh Al Azhar Prof Dr Ahmad Tayeb memberikan perhatian yang sangat serius kepada mahasiswa Indonesia, karena beliau berharap kalian semua nantinya akan menjadi duta-duta Al Azhar yang menyebarkan ajaran Islam yang moderat dan toleran di Tanah Air”.    

Menurut Helmy Fauzy, keberadaan kompleks asrama Indonesia di Mesir itu, sebagai upaya menghindarkan mahasiwa Indonesia dari pengaruh pemikiran radikal dan pemahaman Islam yang menyimpang.

Baca: SBY Resmikan Asrama Mahasiswa Al Azhar Kairo

Selain itu, asrma juga untuk menjaga keamanan fisik dan  hak milik mahasiswa karena  kondisi keamanan di Mesir saat ini masih belum kondusif.

Adapun penasehat Grand Sheikh Al Azhar, Dubes Abdel Rahman Musa, di depan para mahasiswa asal Indonesia itu mengatakan,  Al Azhar tidak ingin putra putrinya belajar dan mencari tambahan ilmu di tempat yang orientasinya berbeda dengan Al Azhar.

"Dilarang keras pergi ke tempat lain untuk mencari tambahan ilmu dari sebuah lembaga atau instansi yang secara prinsip berbeda dengan Al Azhar,” katanya.

Menurut dia, “Al Azhar bersama KBRI Kairo akan selalu berusaha membantu kalian untuk mengikuti proses belajar mengajar dan pendidikan di Al Azhar ini berhasil dengan biak."

Seperti diketahui, enam mahasiswa Indonesia yang ditangkap dan kemudian dideportasi dalam dua bulan terakhir ini, karena diduga belajar di lembaga di kota Samanud (sekitar 130 km arah utara kota Kairo) yang orientasinya berbeda dengan Al Azhar.

Acara tersebut juga dihadiri oleh Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Kairo, Dr Usman Syihab MA; Kepala Lembaga Asrama Mahasiswa Asing Al Azhar, Brigjen Ismail; dan Kepala Kantor Urusan Mahasiswa Asing Al Azhar, Prof Dr Said.

Baca: Mahasiswa Al Azhar Rela Makan Gandum

 

PenulisMusthafa Abd Rahman dari Kairo, Mesir
EditorPascal S Bin Saju
Komentar

Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM