Jerman kepada Turki: Kami Toleran, tetapi Tidak Bodoh - Kompas.com

Jerman kepada Turki: Kami Toleran, tetapi Tidak Bodoh

Kompas.com - 20/03/2017, 19:12 WIB
Turkish Monitor Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan (kiri) bertemu dengan Kanselir Jerman Angela Merkel, September 2016 ini.

BERLIN, KOMPAS.com – Perseteruan antara Ankara dan Berlin semakin tajam setelah media massa Turki mencap Kanselir Jerman sebagai “nyonya Hitler”.

Pemerintah Jerman mengecam ujaran Presiden Turki Recep Tayyi Erdogan dan menyebutnya sudah kelewatan (unacceptable), sebagaimana dilaporkan Agence France-Presse, Senin (20/3/2017).

Juru bicara Merkel, Ulrike Demmer,  Senin ini, mengatakan, memperbandingkan Kanselir Jerman dengan Nazi tak dapat diterima dalam bentuk apapun.

Menteri Luar Negeri Jerman, Sigmar Gabriel, menyatakan peringatan terhadap Ankara untuk menghentikan retorika seperti it

"Kami toleran, tapi kami tidak bodoh," demikian Gabriel, oleh sebab itu ia sudah menegaskan kepada Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu bahwa Erdogan sudah keterlaluan.

Presiden Erdogan menuduh Kanseilr Jerman, Angela Merkel, telah Lancarkan kebijakan Nazi. Namun, ia memuji penahanan jurnalis Jerman di Turki, dalam pidato pada Minggu kemarin.

"Kalau kita menyebut mereka Nazi,  mereka jadi tidak tenang. Mereka bersolidaritas, terutama Merkel," demikian Erdogan berceloteh.

"Tapi 'kamu' sekarang melancarkan langkah Nazi," kata Erdogan untuk merujuk kepada Merkel.

Sebelumnya Erdogan sudah menuduh Belanda dan Jerman bertingkah seperti Nazi, setelah kedua negara Eropa itu melarang dua menteri Turki mengadakan kampanye politik di wilayahnya, untuk referendum April mendatang.

Dalam pidato hari Minggu kemarin, Erdogan menuduh Merkel menggunakan metode Nazi terhadap "saudara-saudara Turkinya di Jerman dan saudara-saudaranya yang jadi menteri."

Erdogan juga mengatakan, reporter Jerman Deniz Yucel yang ditangkap di Turki sebagai "agen teror."

Yucel awalnya ditahan setelah menulis laporan soal sejumlah email yang diduga dikirim dari akun pribadi Berat Albayrak, Menteri Energi Turki yang juga menantu Erdogan.

"Beruntun dia sudah ditangkap," kata Erdogan dalam pidatonya.

Pemerintah Jerman menuntut pembebasan Yucel dan menampik tuduhan bahwa ia bekerja di Turki sebagai mata-mata Jerman.

Ankara juga memberikan reaksi kalap terhadap demonstrasi Kurdi yang diadakan di Frankfurt hari Jumat (18/3/2017).

Para demonstran mengacungkan bendera Kurdi dan simbol Partai Pekerja Turki (PKK). Mereka juga menyerukan orang Turki lain untuk tidak mendukung pemerintah dalam referendum.

Pemerintah Turki menyebut Berlin munafik, karena memberikan ijin bagi demonstrasi itu, dan sebaliknya melarang kampanye untuk menggalang dukungan bagi pemerintah.

Pemerintah Turki juga memanggil Duta Besar Jerman bagi Turki untuk menjelaskan hal tersebut.

Dalam edisi Minggu kemarin, koran Turki Gunes menunjukkan foto reporter Deutsche Welle (DW) yang meliput demonstrasi di Frankfurt dan menyebut dalam keterangan gambar: propaganda teror dalam siaran langsung TV.

Direktur Jenderal DW, Peter Limbourg menyebut tuduhan absurd dan bisa jadi indikasi jelas tentang media pemerintah Turki.

EditorPascal S Bin Saju
Komentar

Close Ads X