Kompas.com - 05/10/2019, 13:47 WIB

OXFORD, KOMPAS.com - Sebuah laporan penelitian yang dilakukan peneliti di Oxford mengungkapkan, China mempunyai setidaknya 2.000.000 buzzer (pendengung) untuk melakukan propaganda.

Laporan itu bertajuk The Global Disinformation Order 2019 Global Inventory of Organised Social Media Manipulation, dan menunjukkan pesatnya disinformasi di dunia global saat ini.

Dalam laporannya, peneliti Oxford memasukkan China ke dalam pasukan siber (buzzer) kelas atas. Yakni melibatkan tim serta pendanaan besar.

Baca juga: Begini Metode Pengerahan Buzzer di Indonesia Menurut Global Disinformation Order dari Peneliti Oxford

Dalam laporannya, China disebutkan mempunyai tim dengan estimasi jumlah antara 300.000 hingga 2.000.000 yang tersebar di kantor lokal dan regional.

Selain itu seperti diberitakan Channel News Asia Rabu (2/10/2019), China mulai mengalihkan perhatian ke media sosial skala global.

Selama ini, kelompok buzzer Beijing fokus kepada media sosial lokal seperti WeChat atau Weibo. Namun belakangan mereka juga merambah Twitter dan Facebook.

"Pada 2019, pemerintah China mulai fokus menangkal demonstran Hong Kong, di mana aksi pro-demokrasi dipandang sebagai gerakan radikal tanpa dukungan rakyat," ungkap laporan peneliti Oxford.

Temuan dalam laporan Global Disinformation Order itu juga diperkuat keterangan Twitter dan Facebook soal adanya propaganda yang didukung pemerintah China.

"Kami menemukan adanya operasi informasi didukung negara yang berfokus soal pergerakan protes dan seruan mereka akan perubahan politik," ujar Twitter Agustus lalu.

Dalam keterangan resminya, microblogging asal California itu sudah mengetahui, dan langsung melakukan langkah menghapus akun yang datang dari China.

Twitter diketahui diblokir di China daratan. Karena itu, banyak dari akun itu menggunakan jaringan pribadi virtual (VPN) yang memberi gambaran menipu dari lokasi pengguna.

"Kami mengidentifikasi sejumlah besar akun yang mempunyai perilaku mirip serta terkoordinasi untuk memperkuat yang berkaitan dengan aksi protes di Hong Kong," lanjut Twitter.

Baca juga: Mengenal Buzzer, Influencer, Dampak dan Fenomenanya di Indonesia

Facebook sendiri menyatakan mereka sudah menghapus tiga grup, tujuh laman, dan lima akun dari China yang diyakini bagian dari kampanye untuk melawan demonstrasi Hong Kong.

Kepala kebijakan keamanan siber Facebook Nathaniel Gleicher berkata, pelaku menggunakan "taktik menipu" seolah menjadi kantor berita dan mengundang orang ke mereka.

"Secara teratur, mereka mengunggah soal pandangan politik maupun isu yang berkaitan dengan topik soal protes yang tengah terjadi di Hong Kong," ungkap Gleicher.

Lebih lanjut, peneliti Oxford dalam Global Disinformation Order juga mengungkapkan pertumbuhan negara yang mulai menggunakan buzzer untuk melancarkan propaganda mereka.

Sepanjang tahun ini, ada 70 negara yang diketahui menggunakan pasukan siber. Peningkatan dibanding 48 negara pada 2018, dan 28 negara di 2017.

Baca juga: Moeldoko: Buzzer Jokowi Tak Dikomando

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.