Keluar dari Perjanjian Nuklir, AS Uji Coba Rudal Jelajah Jarak Menengah

Kompas.com - 20/08/2019, 16:44 WIB
Foto yang dirilis Kementerian Pertahanan Amerika Serikat (AS) pada 18 Agustus 2019 menunjukkan uji coba rudal jelajah jarak menengah pada pukul 14.30 waktu setempat di Pulau San Nicolas, California. AFP/DoD/SCOTT HOWEFoto yang dirilis Kementerian Pertahanan Amerika Serikat (AS) pada 18 Agustus 2019 menunjukkan uji coba rudal jelajah jarak menengah pada pukul 14.30 waktu setempat di Pulau San Nicolas, California.

WASHINGTON DC, KOMPAS.com - Amerika Serikat ( AS) mengumumkan mereka sukses menguji coba rudal jelajah jarak menengah sejak memutuskan keluar dari perjanjian nuklir era Perang Dingin.

Dalam pernyataannya, Pentagon menjelaskan senjata itu diluncurkan dari pangkalan angkatan laut Pulau San Nicolas yang berlokasi di pesisir Los Angeles.

" Rudal itu keluar dari peluncurnya dan secara akurat menghantam target setelah terbang melampaui jarak 500 km," kata Pentagon seperti dilansir AFP Senin (19/8/2019).

Baca juga: Kim Jong Un Sangat Puas dengan Uji Coba Rudal Keenam Korea Utara


Pentagon melanjutkan, data yang diperoleh dari hasil uji coba itu bakal digunakan untuk mengembangkan kemampuan senjata jarak menengah mereka ke depannya.

Foto dan video yang beredar memperlihatkan senjata yang diujicobakan nampak seperti Tomahawk, rudal jelajah yang biasanya ditembakkan dari kapal perang atau kapal selam.

Penggunaan Sistem Peluncur Vertikal Mark 41 dalam pengujian itu memberi dampak signifikan. Karena biasanya AS menempatkan peluncur itu di Polandia dan Romania.

Dikutip Russian Today, Rusia menyebut keberadaan situs itu merupakan ancaman dan sekaligus pelanggaran karena bisa menembakkan baik Tomahawk atau sistem pertahanan SM-3.

Selain ini, baik AS dan Rusia terikat oleh kesepakatan era Perang Dingin bernama Perjanjian Nuklir Jarak Menengah (INF) yang diteken pada 1987 silam.

Melalui INF, kedua negara dilarang untuk mengembangkan senjata yang bisa terbang sejauh 500 sampai 5.500 kilometer demi mencegah perlombaan senjata.

Namun pada Februari lalu, Washington mengumumkan bakal keluar dari kesepakatan itu setelah menuduh Negeri "Beruang Merah" sudah melakukan pelanggaran.

Kremlin jelas membantah. Bahkan, mereka menyatakan siap diperiksa terkait senjata yang dipermasalahkan. Namun tidak digubris dengan INF berakhir pada 1 Agustus ini.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Virus Corona Hantui Jepang, Catatkan Kasus Tertinggi Kedua Setelah China

Virus Corona Hantui Jepang, Catatkan Kasus Tertinggi Kedua Setelah China

Internasional
14 dari 300 Warga AS yang Dievakuasi dari Kapal Pesiar di Jepang Tertular Virus Corona

14 dari 300 Warga AS yang Dievakuasi dari Kapal Pesiar di Jepang Tertular Virus Corona

Internasional
Virus Corona Merebak, Kaisar Jepang Batalkan Perayaan Ulang Tahun

Virus Corona Merebak, Kaisar Jepang Batalkan Perayaan Ulang Tahun

Internasional
Kisah Orang Afrika Pertama yang Terpapar Virus Corona dan Sudah Sembuh

Kisah Orang Afrika Pertama yang Terpapar Virus Corona dan Sudah Sembuh

Internasional
40 Warga AS di Kapal Pesiar di Jepang Tertular Virus Corona

40 Warga AS di Kapal Pesiar di Jepang Tertular Virus Corona

Internasional
Kisah Pasien Singapura Sembuh dari Virus Corona: Rasanya Seperti Mau Mati

Kisah Pasien Singapura Sembuh dari Virus Corona: Rasanya Seperti Mau Mati

Internasional
Mengira Tertular Virus Corona, Mahasiswa Asing di Arab Saudi Bunuh Diri

Mengira Tertular Virus Corona, Mahasiswa Asing di Arab Saudi Bunuh Diri

Internasional
Perawat Ini Alami Diskriminasi Saat Merawat Pasien Virus Corona

Perawat Ini Alami Diskriminasi Saat Merawat Pasien Virus Corona

Internasional
Trump Minta Rusia untuk Berhenti Dukung Kekejaman Suriah

Trump Minta Rusia untuk Berhenti Dukung Kekejaman Suriah

Internasional
Korban Meninggal Virus Corona Per 17 Februari 2020 Capai 1.765 Orang

Korban Meninggal Virus Corona Per 17 Februari 2020 Capai 1.765 Orang

Internasional
[POPULER INTERNASIONAL] China Keluhkan Negara yang Bereaksi Berlebihan | Murid Australia Nyanyikan 'Abang Tukang Bakso' untuk Jokowi

[POPULER INTERNASIONAL] China Keluhkan Negara yang Bereaksi Berlebihan | Murid Australia Nyanyikan "Abang Tukang Bakso" untuk Jokowi

Internasional
Wabah Virus Corona dalam Angka Per 16 Februari 2020

Wabah Virus Corona dalam Angka Per 16 Februari 2020

Internasional
Taiwan Umumkan Kasus Kematian Pertama Virus Corona

Taiwan Umumkan Kasus Kematian Pertama Virus Corona

Internasional
22 Hari 'Hilang di Tengah Wabah Virus Corona, Kim Jong Un Kembali Muncul

22 Hari "Hilang di Tengah Wabah Virus Corona, Kim Jong Un Kembali Muncul

Internasional
WNI di Singapura Tak Terlalu Khawatir di Tengah Wabah Virus Corona

WNI di Singapura Tak Terlalu Khawatir di Tengah Wabah Virus Corona

Internasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X