Kompas.com - 22/07/2019, 13:41 WIB

SINGAPURA, KOMPAS.com - Sebuah kapal kargo berbendera Korea Selatan diserang perompak saat melintasi perairan di dekat Selat Singapura, pada Senin (22/7/2019) dini hari.

Para perompak tersebut, yang datang menggunakan tujuh kapal cepat, menaiki kapal kargo CK Bluebell, menyerang beberapa awak kapal, serta membawa kabur uang tunai, dan sejumlah barang.

Diberitakan Yonhap News, perompak sempat melukai sejumlah awak kapal. Mereka mengancam kru kapal menggunakan pistol dan senjata lainnya.

Para perompak baru pergi setelah mendapatkan uang tunai hingga 13.000 dollar AS (sekitar Rp 181 juta), serta barang-barang milik kru kapal, termasuk ponsel, pakaian, dan sepatu. Demikian dikutip dari pernyataan pejabat Kementerian Kelautan dan Perikanan Korea Selatan.

Baca juga: Perompak Culik 12 Kru Kapal Kargo Swiss di Perairan Nigeria

Menurut Reuters, aksi penyerangan dilakukan oleh tujuh orang perompak, sementara kapal tersebut membawa 22 awak kapal. Dua orang awak dilaporkan mengalami luka ringan.

Kapal kargo CK Bluebell tersebut dilaporkan melanjutkan perjalanan dari Brasil menuju Incheon, setelah serangan perompak.

Pihak keamanan laut Singapura maupun Otoritas Maritim dan Pelabuhan Singapura (MPA) tidak segera mengomentari insiden itu.

Aksi pembajakan kerap terjadi di jalur laut yang sibuk melewati rute pelayaran Singapura, Malaysia, dan Indonesia, dalam beberapa tahun terakhir, mendorong petugas keamanan untuk bekerja keras melindungi kapal-kapal yang melintas.

Awal bulan ini, MPA mengatakan belum menerima informasi tentang ancaman langsung terhadap kapal yang berlayar melalui Selat Malaka dan Singapura, maupun terhadap kapal yang terdaftar di Singapura.

Pihak berwenang merespons setelah China menaikkan peringatan keamanannya ke level tertinggi untuk kapal-kapalnya yang menuju melalui Selat Malaka, tanpa memberikan alasan peningkatan tersebut.

Pada Mei lalu, Menteri Pertahanan Singapura, Ng Eng Hen memperingatkan bahwa pembajakan dan terorisme merupakan bagian dari ancaman terhadap keamanan maritim.

Baca juga: Ketika Para Migran Bajak Kapal Kargo yang Menyelamatkan Mereka...

Disampaikannya, saat jumlah pembajakan dan insiden perampokan bersenjata di sepanjang Selat Malaka mengalami penurunan hingga menjadi delapan kasus sepanjang tahun ini, masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan terhadap ancaman terorisme.

Dia menambahkan bahwa para ahli percaya sebagian besar senjata yang digunakan oleh militan selama konflik baru-baru ini di Marawi berasal dari laut.

Teroris terkait kelompok ISIS, seperti kelompok Abu Sayaff, juga terus menculik awak kapal transit di Laut Sulu-Celebes maupun perairan lepas Sabah Timur dan meminta tebusan.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.