Kompas.com - 23/05/2019, 20:44 WIB

BEIJING, KOMPAS.com - China menyatakan telah melayangkan nota protes setelah dua kapal persng Amerika Serikat memasuki Selat Taiwan di tengah tensi dua negara yang memanas.

Angkatan Laut AS menyatakan kapal perusak USS Preble dan kapal logistik USNS Walter S Diehl melakukan transit rutin "sesuai dengan hukum internasional" Rabu (22/5/2019).

Baca juga: Militer AS Kembali Kirim Dua Kapal Perang ke Selat Taiwan

Dilansir AFP Kamis (23/5/2019), berlabuhnya dua kapal itu merupakan komitmen AS dalam memastikan kawasan Indo-Pasifik yang bebas serta terbuka, demikian pernyataan AL.

"Angkatan Laut AS bakal terus melanjutkan operasi penerbangan dan pelayaran di mana pun selama diperbolehkan oleh peraturan internasional," ujar militer.

Langkah kapal perang AS yang melaksanakan latihan "navigasi bebas" di perairan sempit yang memisahkan China daratan dan Taiwan sering memantik amarah Beijing.

Pun dengan transitnya dua kapal perang itu, China menyatakan setiap kapal yang melewati selat itu merupakan bentuk pelanggaran terhadap kedaulatan mereka.

Adapun bagi AS dan sekutunya, perairan di Selat Taiwan merupakan kawasan internasional yang tentu saja terbuka bagi negara mana pun di dunia ini.

"Kami telah mengajukan protes serius melalui perwakilan kami yang ada di AS," ujar juru bicara Kementerian Luar Negeri China Lu Kang di konferensi pers.

Pelayaran itu terjadi di tengah ketegangan dua negara karena perang dagang dan upaya Washington mengadang raksasa telekomunikasi China Huawei karena masalah keamanan.

Berlabuhnya dua kapal perang itu juga terjadi setelah AS menggelar latihan gabungan bersama Jepang, Korea Selatan, dan Australia bertajuk Pacific Vanguard.

Latihan itu bakal digelar di dekat Guam, dan melibatkan sekitar 3.000 pelaut dari empat negara yang berfokus antara lain perang anti-kapal selam dan operasi kontra-serangan udara.

April lalu, China marah dan mengerahkan angkatan lautnya untuk menangkal kapal perang Perancis yang berada di Selat Taiwan, dengan Beijing melayangkan nota protes.

China masih menganggap Taiwan sebagai bagian dari teritorinya yang harus dipersatukan kembali meski dua wilayah itu sudah terpisah sejak berakhirnya perang sipil pada 1949.

Secara diplomatik, Gedung Putih mengakui China. Namun, mereka masih menjalin relasi dengan Taipei yang diperlihatkan melalui kerja sama di bidang militer.

Baca juga: Buntut Masuknya Kapal Perang AS, China Gelar Patroli di Selat Taiwan

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

Sumber AFP
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.