Tingkat Ancaman Diturunkan, Polisi Selandia Baru Kembali Simpan Senjata Api

Kompas.com - 17/04/2019, 15:44 WIB
Polisi Selandia Baru.Shutterstock Polisi Selandia Baru.

WELLINGTON, KOMPAS.com - Satu bulan pascatragedi penembakan massal di dua masjid di Christchurch, otoritas Selandia Baru, pada Rabu (17/4/2019), resmi menurunkan tingkat ancaman terorisme dari "sangat mungkin" menjadi "mungkin".

Dengan diturunkannya status tingkat ancaman dari tinggi ke sedang tersebut, otoritas keamanan Selandia Baru kini mengakhiri kebijakan mempersenjatai petugas di garis depan dengan senjata api.

Meski telah diturunkan, namun tingkat ancaman terorisme saat ini masih lebih tinggi dibandingkan sebelum terjadinya serangan teroris yang menewaskan 50 orang jemaah shalat Jumat pada 15 Maret lalu itu.

Perdana Menteri Jacinda Ardern mengatakan, tidak ada ancaman khusus yang tampak saat ini, tetapi badan keamanan Selandia Baru meyakini, tingkat "menengah" secara akurat mencerminkan status negara saat ini.

Baca juga: Hasil Penyelidikan Penembakan Masjid Selandia Baru Bakal Dilaporkan pada Akhir Tahun

Petugas polisi Selandia Baru yang berpatroli di garis depan, dalam sejarahnya, hampir tidak pernah membawa senjata api saat bertugas.

Namun setelah terjadinya insiden di Christchurch, para petugas patroli dilengkapi persenjataan lengkap, mengejutkan warga yang melihatnya.

Komisaris Polisi Selandia Baru, Mike Bush mengatakan, dengan berkurangnya tingkat ancaman keamanan tersebut, polisi telah menilai kembali kebijakan mempersenjatai pasukan di garis depan dan membawa senjata api bagi polisi kini akan diputuskan berdasar kasus per kasus.

Keputusan menurunkan status ancaman tersebut diambil usai dilakukan konsultasi yang signifikan dengan masjid dan Pusat Islam, sehubungan dengan keamanan yang berkelanjutan. Namun Bush tidak akan menjelaskan secara rinci.

"Sejak awal tidak ada rencana untuk terus mempersenjatai petugas tanpa batas waktu," kata Bush, dikutip AFP.

"Secara umum hal ini dapat diartikan bahwa petugas di garis depan akan kembali ke pendekatan normal kami tentang kebijakan membawa dan akses terhadap senjata api," lanjutnya.

Insiden serangan teroris dilakukan seorang pria bersenjata dengan menyasar dua masjid di Christchurch. Pelaku serangan teroris, yang merupakan warga Australia, telah ditahan dan menghadapi 50 tuduhan pembunuhan dan 39 percobaan pembunuhan.

Baca juga: Teroris Penembak Masjid di Selandia Baru Hadapi 50 Dakwaan Pembunuhan




Close Ads X