Teroris Penembak Masjid Selandia Baru Dihadapkan ke Pengadilan

Kompas.com - 16/03/2019, 07:07 WIB
Warga kota Christchurch, Selandia Baru menunjukkan rasa bela sungkawa dengan meletakkan karangan bunga untuk mengenang korban penembakan masjid di kota itu, Sabtu (16/3/2019). AFP/TESSA BURROWS Warga kota Christchurch, Selandia Baru menunjukkan rasa bela sungkawa dengan meletakkan karangan bunga untuk mengenang korban penembakan masjid di kota itu, Sabtu (16/3/2019).

WELLINGTON, KOMPAS.com — Teroris penembak dua masjid di Christchurch, Selandia Baru, yang menewaskan 49 orang dihadirkan di pengadilan, Sabtu (16/3/2019).

Brenton Taggart, pria kelahiran Australia berusia 28 tahun, muncul di ruang sidang mengenakan seragam penjara berwarna putih dengan tangan diborgol.

Dia duduk diam saat hakim membacakan dakwaan pembunuhan terhadapnya. Kemungkinan besar sederet dakwaan lain akan menyusul.

Baca juga: Konferensi Waligereja Indonesia Kecam Keras Serangan Teroris di Masjid Selandia Baru

Mantan pelatih kebugaran berideologi fasis itu menatap ke arah para jurnalis yang hadir di ruang sidang dalam proses yang tertutup untuk umum demi alasan keamanan itu.

Setelah mendengarkan dakwaan dari hakim, Brenton tidak mengajukan pembebasan bersyarat hingga sidang berikutnya yang dijadwalkan pada 5 April.

Sementara itu, di luar gedung pengadilan dijaga pasukan polisi bersenjata lengkap. Putra pria keturunan Afghanistan yang menjadi korban Daoud Nabi (71) menuntut keadilan.

"Ini sudah keterlaluan, ini sudah di luar akal sehat," kata dia.

Sementara itu, 42 orang masih dirawat di rumah sakit akibat luka-luka mereka, termasuk seorang bocah berusia empat tahun.

Sebelumnya, PM Selandia Baru Jacinda Ardern mengatakan, seluruh korban tewas berasal dari negara-negara Islam, seperti Turki, Bangladesh, Indonesia, dan Malaysia.

Stasiun televisi Al Arabiya mengabarkan satu warga Arab Saudi tewas dan lainnya terluka.

Dua warga Jordania juga ada di antara korban tewas. Sementara pemerintah Pakistan mengatakan, lima warga negeri itu belum diketahui nasibnya.

PM Ardern langsung menyebut aksi penembakan massal ini sebagai serangan teroris dan sang pelaku membeli secara legal senjata yang dia gunakan dalam pembantaian itu.

"Pelaku adalah pemilik izin kepemilikan senjata yang sah sejak November 2017. Dan sebulan sesudahnya dia membeli berbagai senjata," ujar Ardern.

"Penyelidikan masih berlangsung terkait masalah ini, satu hal yang bisa saya katakan saat ini, undang-undang senjata api negeri ini akan berubah," kata Ardern.

Dua bahan peledak rakitan juga ditemukan di dalam sebuah mobil dan sudah dijinakkan militer.

Sebuah properti di kota Dunedin, 350 kilometer dari Christchurch, digeledah polisi. Ardern mengatakan, di properti itulah Brenton tinggal selama ini.

Baca juga: Trump dan Ratu Inggris Ucapkan Belasungkawa atas Tragedi di Selandia Baru

Sementara itu, dua orang lain ynng ikut ditangkap bersama pelaku penembakan masih ditahan meski keterkaitan dengan tragedi tersebut belum diketahui.

Orang ketiga yang sempat ditahan adalah anggota masyarakat yang kebetulan membawa senjata api dan datang untuk menolong.



Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:

Terkini Lainnya

BMKG: Hujan Lebat dan Angin Kencang Berpotensi Terjadi di Sikka Flores

BMKG: Hujan Lebat dan Angin Kencang Berpotensi Terjadi di Sikka Flores

Regional
Risma Bangun Lapangan Tembak Menghadap Laut di Surabaya

Risma Bangun Lapangan Tembak Menghadap Laut di Surabaya

Regional
Militer Pakistan Bebaskan 4 Tentara Iran yang Ditahan Kelompok Militan

Militer Pakistan Bebaskan 4 Tentara Iran yang Ditahan Kelompok Militan

Internasional
Pemkot Kembali Gelar Parade Bunga Surabaya Vaganza 2019, Ini Rutenya

Pemkot Kembali Gelar Parade Bunga Surabaya Vaganza 2019, Ini Rutenya

Regional
Aliansi Pengusaha Nasional Deklarasikan Dukungan untuk Prabowo-Sandiaga

Aliansi Pengusaha Nasional Deklarasikan Dukungan untuk Prabowo-Sandiaga

Nasional
Jokowi: Ajak Seluruh Karyawan Berbondong-bondong ke TPS

Jokowi: Ajak Seluruh Karyawan Berbondong-bondong ke TPS

Nasional
KPK Ingin APBN Meningkat dari Rp 2.400 Triliun Jadi Rp 4.000 Triliun

KPK Ingin APBN Meningkat dari Rp 2.400 Triliun Jadi Rp 4.000 Triliun

Regional
2 Rumah Warga Rusak Tergerus Longsor di Bantaran Sungai Lusi Blora

2 Rumah Warga Rusak Tergerus Longsor di Bantaran Sungai Lusi Blora

Regional
Ini Yel-yel Erwin Aksa untuk Prabowo-Sandiaga

Ini Yel-yel Erwin Aksa untuk Prabowo-Sandiaga

Nasional
Rute Transjakarta Sudah Bisa Diperpanjang ke Tangsel, ke Depok Belum

Rute Transjakarta Sudah Bisa Diperpanjang ke Tangsel, ke Depok Belum

Megapolitan
Ajak Masyarakat Gemar Makan Ikan, Kudus Tebar 370.000 Benih Ikan

Ajak Masyarakat Gemar Makan Ikan, Kudus Tebar 370.000 Benih Ikan

Regional
'Saat Kami Selesai, Kami Akan Umumkan Pembebasan Baghouz dari ISIS'

"Saat Kami Selesai, Kami Akan Umumkan Pembebasan Baghouz dari ISIS"

Internasional
Sopir Taksi 'Online' Dibunuh Temannya Menggunakan Kabel 'Charger' Ponsel, Ini Kronologinya

Sopir Taksi "Online" Dibunuh Temannya Menggunakan Kabel "Charger" Ponsel, Ini Kronologinya

Regional
Kurangi Sampah Plastik, Pegawai Pemkab Trenggalek Wajib Bawa Botol Sendiri

Kurangi Sampah Plastik, Pegawai Pemkab Trenggalek Wajib Bawa Botol Sendiri

Regional
Terminal Berbiaya Murah di Soekarno Hatta Bisa Bantu Capai Target 20 Juta Wisman

Terminal Berbiaya Murah di Soekarno Hatta Bisa Bantu Capai Target 20 Juta Wisman

Megapolitan

Close Ads X