Terancam Kekurangan Pangan hingga 1,4 Juta Ton, Korut Minta Bantuan PBB

Kompas.com - 22/02/2019, 12:36 WIB
Gambar tak bertanggal yang dirilis oleh kantor berita Korea Utara (KCNA) pada 21 September 2017 menunjukkan Pemimpin Kim Jong Un mengunjungi kebun buah di Provinsi Hwanghae Selatan. AFP/KCNA VIA KNSGambar tak bertanggal yang dirilis oleh kantor berita Korea Utara (KCNA) pada 21 September 2017 menunjukkan Pemimpin Kim Jong Un mengunjungi kebun buah di Provinsi Hwanghae Selatan.

PYONGYANG, KOMPAS.com - Korea Utara ( Korut) dilaporkan telah mengajukan bantuan internasional guna mengatasi kekurangan pangan yang mulai terjadi.

Dilansir AFP dan The Guardian Jumat (22/2/2019), Korut telah memberi tahu PBB mereka terancam mengalami kekurangan pangan hingga 1,4 juta ton.

Kemarau dan banjir bandang yang menerpa membuat hasil panen negara komunis itu menyusut. Termasuk di antaranya padi, gandum, kentang, dan kedelai.

Baca juga: Risma Bicara soal Ketahanan Pangan di Markas PBB

"Pemerintah setempat telah meminta bantuan organisasi internasional untuk membantu menangkal situasi ketahanan pangan," kata juru bicara PBB Stephane Dujarric.

Dia melanjutkan, saat ini PBB tengah berdiskusi dengan Pyongyang untuk mengambil langkah awal guna menanggulangi krisis yang tengah terjadi.

PBB memperkirakan 10,5 juta orang, hampir setengah dari total populasi Korut, membutuhkan bantuan pangan, dengan 41 persen di antaranya mengalami kekurangan gizi.

Dalam memo kepada PBB, negara yang dipimpin oleh Kim Jong Un itu meminta mereka untuk segera bertindak mengatasi kekurangan pangan.

Dalam data resmi yang diserahkan akhir Januari lalu, produksi 2018 lalu mencapai 4,951 juta ton. Turun 503.000 ton dari 2017.

Negara komunis itu menyatakan bakal mengimpor 200.000 ton makanan dan bahan kebutuhan pokok, serta meningkatkan produksi 400.000 ton.

Namun kebijakan itu tetap meninggalkan celah, dan membuat Korut dilaporkan akan memotong jatah harian rakyatnya 300 gram dari semula 550 gram mulai Januari.

Permintaan dari pemerintah Korut terjadi jelang pertemuan kedua Kim dengan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pekan depan.

Dalam dialog yang telah berjalan, Korut mendesak AS agar bersedia mencabut sanksi sebagai bagian dari program pelucutan nuklir mereka.

Dalam pertemuan pertama di Singapura Juni lalu, Korut sepakat untuk melaksanakan denuklirisasi. Tapi belum ada langkah konkretnya.

PBB telah memastikan bakal tetap mempertahankan sanksi maksimal kepada Korut hingga mereka bersedia melucuti seluruh nuklirnya.

Baca juga: 1,1 Juta Warga Zimbabwe Terancam Kekurangan Pangan



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kisah Tiga Negara Penikmat Reklamasi

Kisah Tiga Negara Penikmat Reklamasi

Internasional
Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Internasional
Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Internasional
Korea Utara Umumkan Uji Coba 'Artileri Laras Jauh'

Korea Utara Umumkan Uji Coba "Artileri Laras Jauh"

Internasional
Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Internasional
Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Internasional
Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Internasional
Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Internasional
[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

Internasional
Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Internasional
Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Internasional
Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Internasional
Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Internasional
Muncul Lagi di Hadapan Publik, Paus Fransiskus Mengaku Terserang Demam

Muncul Lagi di Hadapan Publik, Paus Fransiskus Mengaku Terserang Demam

Internasional
Virus Corona di Iran Menyebar Cepat, 54 Orang Meninggal

Virus Corona di Iran Menyebar Cepat, 54 Orang Meninggal

Internasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X