Shamima: ISIS Mengubah Saya Menjadi Lebih Kuat dan Tangguh

Kompas.com - 18/02/2019, 12:20 WIB
Shamima Begum (kanan), remaja 19 tahun yang kabur dari Inggris demi bergabung dengan ISIS ketika diwawancarai oleh Sky News setelah melahirkan anak ketiganya di kamp pengungsi al-Hawl.via Sky News Shamima Begum (kanan), remaja 19 tahun yang kabur dari Inggris demi bergabung dengan ISIS ketika diwawancarai oleh Sky News setelah melahirkan anak ketiganya di kamp pengungsi al-Hawl.

BAGHOUZ, KOMPAS.com - Shamima Begum, remaja 19 tahun asal Inggris, masih mengutarakan dia tidak menyesal bergabung dengan Negara Islam Irak dan Suriah ( ISIS).

Dalam wawancara eksklusif dengan Sky News dilansir Minggu (17/2/2019), Shamima berkata dia mungkin membuat kesalahan ketika kabur dari Inggris demi bergabung dengan ISIS.

"Namun saya tidak menyesalinya karena (ISIS) mengubah saya menjadi sebagai pribadi yang lebih kuat serta tangguh," ucap Shamima.

Baca juga: Tak Menyesal Gabung ISIS, Shamima Ingin Orang Simpati dengan Nasibnya

Dia mencontohkan mengikuti ISIS membuatnya bertemu Yago Riedijk, anggota asal Belanda yang menjadi suaminya 10 hari setelah sampai di Suriah.

"Saya tidak akan menemukan pria sepertinya di Inggris. Saya punya anak. Saya punya kehidupan yang bagus di sini," ujarnya.

Shamima menuturkan ketika awal-awal bergabung dengan ISIS sangat menyenangkan. Sebab, kehidupan yang dia jalani seperti yang ditunjukkan di video.

Dia mengaku tertarik dengan ISIS karena cara mereka dalam memperlakukan anggotanya, maupun kesempatannya mempunyai keluarga sendiri dan hidup dalam hukum Islam.

Namun setelah itu, dia bercerita situasi menjadi lebih sulit setelah ISIS mulai mendapat gempuran dari koalisi internasional pimpinan Amerika Serikat (AS).

"Ketika kami kehilangan Raqqa (ibu kota de facto ISIS di Suriah), kami harus terus berpindah. Situasinya menjadi sulit," ucapnya.

Pandangannya akan kehidupan di bawah ISIS mulai berubah setelah dua anaknya, Jerah dan Sarayah, meninggal akibat malnutrisi.

"Saya menyadari bahwa saya harus menyelamatkan diri demi kebaikan anak-anak saya," tutur remaja yang berasal dari Bethnal Green itu.

Kota terakhir yang dia tempati adalah Baghouz. Dia melarikan diri dari sana dan sampai di kamp pengungsian al-Hawl sekitar tiga pekan lalu.

Dia mengaku tidak memahami adanya upaya pemerintah untuk mencegahnya kembali ke Inggris. Dia menegaskan tidak memberikan ancaman.

Baca juga: Bawa Ratusan Juta Dollar, 1.000 Anggota ISIS Kabur ke Pegunungan dan Gurun

"Saya tidak membuat propaganda. Saya tidak mengajak orang datang ke Suriah. Mereka tidak punya bukti saya melakukan perbuatan yang berbahaya," tegasnya.

Shamima bersikukuh dia ingin pulang karena tidak ingin merawat anak ketiganya yang baru dia lahirkan di kamp pengungsi karena takut bayinya juga bakal meninggal.

Meski begitu, dia menyatakan bidup di kamp masih lebih baik dari pada di Baghouz. Sebab, dia tidak akan kelaparan serta punya tempat berteduh.

Lebih lanjut, Shamima berujar dia bisa memahami jika keluarganya terkejut setelah mengetahui kabarnya, dan keinginannya untuk pulang.

Pasalnya, keluarganya terus memohon supaya dia pulang namun dia menolak. Kini setelah empat tahun, dia merengek meminta bantuan.

"Tentu itu seperti tamparan di wajah mereka. Namun saya benar-benar butuh bantuan mereka. Jangan menyerah akan saya," pintanya.

Baca juga: Shamima Melahirkan Bayi Laki-kali di Kamp Pengungsian di Suriah


Terkini Lainnya


Close Ads X