Di Hotel Ini, Tamunya adalah Orang-orang yang Akan Meninggal - Kompas.com

Di Hotel Ini, Tamunya adalah Orang-orang yang Akan Meninggal

Kompas.com - 14/02/2019, 19:22 WIB
Ini adalah pintu masuk hotel Mukti Bhawan di kota Varanasi, India yang menjadi tujuan mereka yang akan meninggal dunia. AFP/ANAND SINGH Ini adalah pintu masuk hotel Mukti Bhawan di kota Varanasi, India yang menjadi tujuan mereka yang akan meninggal dunia.

NEW DELHI, KOMPAS.com - Biasanya para tamu sebuah hotel adalah mereka yang sehat walafiat atau yang sedang dalam sebuah perjalanan.

Pendek kata, hotel dalam pandangan umum bukanlah tempat suram, atau untuk merawat orang sakit atau untuk bermuram durja.

Namun, hotel yang satu ini berbeda. Para tamunya datang mengendarai mobil usang, memakai tongkat atau  tandu karena tak mampu lagi berdiri.

Baca juga: Sungai Gangga Sekarat di antara Sampah, Limbah Pabrik, dan Mayat

Hotel Kashi Labh Mukti Bhawan atau Rumah Keselamatan malah menampung beberapa orang yang datang ke kota Varanasi, India untuk menjemput ajal mereka.

Sekitar 20-an orang tiap bulan datang dari berbagai penjuru dunia untuk menghabiskan hari-hari terakhir mereka di hotel itu.

Hotel Mukti Bhawan adala sebuah bangunan berwarna merah yang dibangun di masa kolonial dengan 12 kamar berlantai semen.

Umat Hindu meyakini jika mereka meninggal dunia di Varanasi akan membebaskan mereka dari siklus abadi kehidupan dan reinkarnasi.

Jika mereka meninggal dunia di Varanasi, mereka akan dikremasi di Sungai Gangga dan itu merupakan bonus bagi mereka.

Dulu lebih banyak tamu di Mukti Bhawan, tetapi bangunan itu belakangan malah menjadi hotel regular yang membawa uang untuk kota di mana kremasi yang berlangsung 24 jam menjadi daya tarik.

Bhairav Nath Shukla, yang menjadi pengurus Mukti Bhawan selama lebih dari 40 tahun, mengatakan, sebagian besar tamunya meninggal dunia beberapa hari setelah menginap.

Biasanya, kata Bhairav, dua pekan adalah batas waktu seseorang bisa menggunakan kamar di tempat itu.

"Ada pengecualian. Beberapa orang sudah amat sakit tetapi masih hidup setelah lebih dari sepekan," ujar Bhairav.

"Terkadang kami minta keluarga untuk membawa mereka pulang dan kembali lain waktu. Terkadang kami izinkan mereka tinggal lebih lama," tambah dia.

Akibat perkebangan kota Varanasi, Mukti Bhawan yang didanai lewat sumbangan, kini tak lagi memiliki pemandangan Sungai Gangga.

Meski demikian, antrean orang miskin yang ingin meninggal dunia di tempat itu masih panjang.

Mereka ini bahkan rela menempuh perjalanan ribuan kilometer, bahkan dari luar negeri atau sekadar naik mobil dari pedalaman India.

Lalu berapa tarif hotel ini? Para tamu cukup membayar 1 dollar AS atau sekitar Rp 14.000 untuk kamar yang dilengkapi kipas angin.

Tiap hari digelar ritual doa yang dipimpin seorang  pendeta Hindu yang juga menawarkan air Sungai Gangga yang dianggap suci dan murni.

Bagi mereka yang memiliki uang lebih, bisa menyewa paduan suara lokal untuk menyanyikan lagu-lagu rohani bagi para tamu yang sekarat itu.

"Semua orang dari berbagai latar belakang datang ke sini. Mereka datang dari seluruh penjuru India dan luar negeri," ujar Bhairav.

"Sebagian besar datang bersama keluarga untuk berdoa dan menunggu kematian datang," tambah dia.

Baca juga: Tak Punya Biaya Kremasi, Warga Miskin India Hanyutkan Jenazah di Sungai Gangga

Bhairav memperkirakan lebih dari 15.000 orang meninggal dunia di Mukti Bhawan dan dikremasi di Sungai Gangga sejak tempat itu didirikan pada 1908.

"Selama umat Hindu masih memelihara keyakinan akan kekuatan spiritual Varanasi, maka jalan keselamatan Mukti Bhawan masih memiliki masa depan," ujar Bhairav. 



Close Ads X