Kompas.com - 07/01/2019, 21:41 WIB

TEHERAN, KOMPAS.com - Angkatan Laut Iran berencana menggelar latihan gabungan dengan armada Rusia di Laut Kaspia dalam waktu dekat.

Latihan gabungan tersebut bakal meliputi latihan perang taktis, penyelamatan, dan anti-pembajak.  Demikian disampaikan Komandan Angkatan Laut Iran, Laksamana Muda Hossein Khanzadi.

"Latihan perang taktis, penyelamatan, dan anti-pembajak antara angkatan laut Iran dan Rusia akan segera digelar dalam waktu dekat," ujar Khanzadi, dikutip kantor berita Mehr, Minggu (6/1/2019).

Dalam pernyataannya, Khanzadi turut menegaskan kedudukan Iran yang menentang kehadiran militer dari negara mana pun dari luar wilayah di Laut Kaspia.

Diberitakan The New Arab, latihan gabungan serupa juga telah dilakukan angkatan laut kedua negara pada 2015 dan juga 2017.

Baca juga: Gelar Latihan Militer, Iran Uji Coba Rudal Anti-kapal

Latihan gabungan militer tersebut sekaligus menegaskan hubungan yang dekat antara Moskwa dan Teheran, termasuk di Suriah, di mana kedua pemerintahan sama-sama mendukung rezim Presiden Bashar al-Assad dalam konflik di negara itu.

Tahun lalu, Rusia menyampaikan komitmen kuat untuk memperdalam hubungannya dengan Iran, meski ada keputusan Amerika Serikat untuk menarik diri dari kesepakatan nuklir dan memberlakukan kembaki sanksi terhadap Teheran.

Dan bulan lalu, Moskwa telah mengumumkan rencana untuk menjadi tuan rumah pertemuan antara pemimpin Rusia, Iran, dan Turki, di awal tahun ini guna membahas konflik di Suriah.

Pertemuan itu akan menjadi tahap berikutnya dari proses perdamaian Astana, yang dimulai pada awal 2017, sebagai tanggapan ketiga negara atas kegagalan upaya perdamaian yang dipimpin PBB.

Dalam proses perdamaian tersebut, Iran dan Rusia mendukung rezim Presiden Assad, sementara Turki mendukung apa yang tersisa dari oposisi di Suriah.

"Tahun ini adalah giliran kami untuk menjadi tuan rumah konferensi. Rencananya akan digelar pada pekan pertama tahun ini, namun semua tergantung pada jadwal para pemimpin negara," kata Wakil Menteri Luar Negeri Rusia, Mikhail Bogdanov, dikutip kantor berita Intefax.

Proses perdamaian Astana dimulai setelah adanya intervensi militer Rusia di Suriah, yang memberi keseimbangan pada dukungan terhadap rezim, dan sejak saat itu secara bertahap mulai melampaui proses perdamaian Jenewa yang disponsori PBB.

Baca juga: 14 Personel Militer Iran Diculik di Perbatasan Pakistan

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.