Kompas.com - 31/12/2018, 15:12 WIB

DHAKA, KOMPAS.com - Bagi para pendukungnya, Sheikh Hasina merupakan "ibu berperikemanusiaan" Bangladesh yang menyediakan penampungan bagi warga etnis Rohingya.

Namun bagi pembencinya, dia merupakan seorang penguasa kejam yang memenjarakan lawan dan memberangus mereka yang tak sepaham dengannya.

Kini, Perdana Menteri Bangladesh Sheikh Hasina kembali mengamankan posisinya untuk ketiga kalinya secara berturut-turut dalam pemilihan umum Bangladesh yang digelar pada Minggu (30/12/2018).

Pemilu tetap berlangsung meski kekerasan dan intimidasi terjadi di sejumlah wilayah hingga memakan korban jiwa.

Baca juga: Pemilu Bangladesh Diwarnai Kekerasan, 5 Orang Tewas

Melansir AFP, Hasina merupakan putri dari pendiri negara Bangladesh, Skeikh Mujibur Rahman, yang juga merupakan presiden pertama Bangladesh.

Pada Agustus 1975, dia berada di luar negeri ketika sekelompok perwira militer yang membangkang membunuh ayahnya, ibunya, dan tiga saudara laki-lakinya.

Kembali dari pengasingan pada 1981, dia memula karier politiknya sebagai pahlawan rakyat, mengambil alih kepemimpinan Partai Liga Awami dan berjuang memulihkan demokrasi di Bangladesh.

Hasina bergabung dengan Partai Nasionalis Bangladesh (BNP) milik Khaleda Zia untuk membantu menggulingkan diktator militer Hussain Muhammad Ershad pada 1990.

Poster kandidat terpasang di sepanjang jalan di Bangladesh, menjelang pemilihan yang akan dilangsungkan pada 30 Desember 2018 mendatang.AFP / MUNIR UZ ZAMAN Poster kandidat terpasang di sepanjang jalan di Bangladesh, menjelang pemilihan yang akan dilangsungkan pada 30 Desember 2018 mendatang.
Kemudian, Hasina dan Zia terlibat permusuhan yang mendominasi politik Bangladesh selama 30 tahun terakhir.

Dia pertama kali terpiih menjadi perdana menteri pada 1996, namun masih sulit lepas dari bayang-bayang ayahnya.

Kemudian dia kalah dalam pemilu 2001.

Pertumbuhan ekonomi melesat

Usai dibebaskan dari penjara atas tudingan korupsi, Hasina memenangkan pemilu pada Desember 2008.

Sejak memimpin, pertumbuhan ekonomi terus meningkat lebih dari 6 persen setiap tahunnya sejak 2009. Pada tahun lalu, Produk Domestik Bruto Bangladesh bahkan mencapai 7,86 persen.

Kemiskinan telah merosot sekitar 20 persen dan hampir 90 persen dari negara berpenduduk 165 juta itu kini memiliki akses listrik.

Meski banjir pujian, perempuan berusia 71 tahun itu harus menghadapi berbagai tudingan dari para penentangnya.

Baca juga: Pemilu Bangladesh, Keamanan Diperketat dan Jaringan Internet Dimatikan

Dia dituduh memenjarakan Zia atas tuduhan yang bermotivasi politik, mengatur penangkapan massal, penghilangan paksa, dan mengesahkan undang-undang anti-kebebasan pers.

Para analis mengatakan, pemenjaraan secara efektif telah mengakhiri karier politik Zia dan melemahkan oposisi menjelang pemungutan suara parlemen pada Minggu.

"Dia telah menghancurkan oposisi dan menciptakan sistem politik dominan satu partai di Bangladesh," kata Ataur Rahman, profesor ilmu politik di Universitas Dhaka.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

Sumber AFP
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.