Ribuan Perempuan Myanmar Dijual untuk Menikahi Pria China - Kompas.com

Ribuan Perempuan Myanmar Dijual untuk Menikahi Pria China

Kompas.com - 07/12/2018, 16:56 WIB
Penjualan manusia.Shutterstock Penjualan manusia.

YANGON, KOMPAS.com - Hasil sebuah studi yang dirilis pada Jumat (7/12/2018), membeberkan adanya ribuan gadis dan anak-anak perempuan Myanmar yang diselundupkan ke China untuk dipaksa menikah.

Di China jumlah warga perempuan 33 juta lebih sedikit dibanding pria akibat kebijakan satu anak. Akibatnya, banyak pria China yang tak bisa menemukan jodohnya.

Demi "mengatasi" masalah ini maka puluhan ribu perempuan dari Kamboja, Laos, Myanmar, dan Vietnam dijual untuk dijadikan istri para pria China.

Baca juga: Para Pelajar PSK Online di Samarinda Ditetapkan sebagai Korban Penjualan Manusia

Beberapa dari mereka, karena dililit kemiskinan, dengan sukarela menikahi para pria China itu. Sebagian lainnya ditipu atau dijual.

Dalam penelitikan yang dilakukan John Hopkins Bloomberg School of Public Health ini memperkirakan sebanyak 7.500 perempuan dari wilayah Kachin dan Shan menjadi korban skema ini.

Kachin dan Shan, adalah dua daerah di wilayah utara Myanmar yang miskin dan sejak lama dicengkeram konflik bersenjata.

Berdasarkan wawancara dengan sejumlah perempuan yang bisa melarikan diri dan pulang ke Myanmar, studi ini menemukan para perempuan ini tak hanya dipaksa menikah tetapi juga untuk memberikan anak.

"Para perempuan Myanmar ini pergi karena konflik, kehilangan tempat tinggal, dan kemiskinan," kata penulis laporan W Courtlan Robinson.

"Sementara, ketidakseimbangan populasi perempuan dan laki-laki di China, terutama di pedesaaan, membuat kebutuhan akan istri amat tinggi," tambah Robinson.

Salah seorang perempuan kepada para peneliti mengatakan, dia menjadi korban penjualan manusia ke China sebanyak tiga kali.

Dan setiap kali pula, perempuan itu dipaksa menikah, hamil, dan melahirkan anak.

"Akibat ketidakstabilan politik, konflik, penyitaan lahan mengakibatkan keamanan bagi perempuan menjadi tantangan besar," kata Moon Nay Li dari Asosiasi Perempuan Kachin di Thailand, yang memimpin penelitisan di Kachina dan Shan.

Pernikahan antara para perempuan Myanmar dan pria China seringkali diatur keluarga si perempuan dan tetua desa.

Akibatnya, si perempuan yang akan dinikahkan tak memiliki kemampuan untuk menolak karena mereka berada di level terbawah dalam hierarki sosial ini.

Studi ini juga mengungkap harga tinggi yang harus dibayarkan para pria China itu untuk mendapatkan istri dari Myanmar.

Semakin muda usia perempuan itu maka  semakin besar biaya yang harus dikeluarkan yaitu antara 10.000-15.000 dollar AS.

Sementara, para pria yang akan menikahi mereka biasanya berusia tua, sakit-sakitan, bahkan mereka yang menyandang disabilitas.

Ketiga jenis pria inilah yang oleh masyarakat suku Han di China dianggap sebagai kelompok yang tak diinginkan.

Studi ini menemukan bahwa para perempuan Myanmar "disewa" untuk menghasilkan anak bagi suami mereka. Selanjutnya mereka akan dijual kembali agar sang suami mendapatkan uang yang sudah dikeluarkannya.

"Beberapa perempuan sukses dalam pernikahannya sehingga situasi ini menjadi amat kompleks dan bervariasi dalam tiap kasus," papar Robinson.

Satu hal yang pasti, lanjut Robinson, hubungan ini harus dijalani tanpa adanya ancaman, kekerasan, dan hukuman.

Baca juga: Penyelundupan Manusia, 22 Imigran Sembunyi Dalam Truk Pengaduk Semen

Sementara Moon Nay Li mengatakan, para perempuan ini tak bisa menolak untuk menikahi seseorang ketika orangtua mereka sudah menerima uang.

Para peneliti ini mendesak pemeirntah Myanmar segera mengakhiri konflik di negara bagian Kachin dan Shan dan melatih para petugas untuk menegakkan hukum anti-penjualan manusia.


Terkini Lainnya

Sudirman Said: 'Lebay' jika Pembelian Saham Freeport Disebut Nasionalisme

Sudirman Said: "Lebay" jika Pembelian Saham Freeport Disebut Nasionalisme

Nasional
Jalan KH Noer Ali Diperbaiki, Dishub Bekasi Alihkan Arus Lalu Lintas

Jalan KH Noer Ali Diperbaiki, Dishub Bekasi Alihkan Arus Lalu Lintas

Megapolitan
Fadli Zon Nilai Puisinya 'Doa yang Ditukar' Digoreng Sejumlah Pihak

Fadli Zon Nilai Puisinya "Doa yang Ditukar" Digoreng Sejumlah Pihak

Nasional
Ganjar Pranowo: Kalau Salah Pilih Pemimpin Bisa 'Gelo'

Ganjar Pranowo: Kalau Salah Pilih Pemimpin Bisa "Gelo"

Regional
Polemik Puisi 'Doa yang Ditukar', Fadli Zon akan Bertemu Mbah Moen

Polemik Puisi "Doa yang Ditukar", Fadli Zon akan Bertemu Mbah Moen

Nasional
KPU: WNI di Luar Negeri akan Ikuti Pemilu 2019 Lebih Awal

KPU: WNI di Luar Negeri akan Ikuti Pemilu 2019 Lebih Awal

Nasional
'Jangan Sampai Energi Masyarakat Habis hanya untuk Membahas Hoaks...'

"Jangan Sampai Energi Masyarakat Habis hanya untuk Membahas Hoaks..."

Regional
Pemasangan Tiang Tol Becakayu Selesai, Ada Perubahan Arus Lalin di Caman Bekasi

Pemasangan Tiang Tol Becakayu Selesai, Ada Perubahan Arus Lalin di Caman Bekasi

Megapolitan
Trump Diajukan Jepang Jadi Peraih Nobel Perdamaian? Ini Tanggapan Abe

Trump Diajukan Jepang Jadi Peraih Nobel Perdamaian? Ini Tanggapan Abe

Internasional
Salah Hitung, KPU Mamasa Masih Kekurangan 68 Kotak Suara

Salah Hitung, KPU Mamasa Masih Kekurangan 68 Kotak Suara

Regional
Kisah 2 Eks Tentara Anak Saat Konflik Ambon: Dulu Saling Membenci, Kini Berkolaborasi

Kisah 2 Eks Tentara Anak Saat Konflik Ambon: Dulu Saling Membenci, Kini Berkolaborasi

Regional
Lika-liku Seputar Kekayaan Ratu Elizabeth II dan Keluarga Kerajaan

Lika-liku Seputar Kekayaan Ratu Elizabeth II dan Keluarga Kerajaan

Internasional
 BKSDA Aceh Catat 8 Kasus Gajah Masuk ke Pemukiman di Aceh Timur

BKSDA Aceh Catat 8 Kasus Gajah Masuk ke Pemukiman di Aceh Timur

Regional
Dukung Jokowi, Ma'ruf Amin Akan Hadir Saat Debat Kedua Pilpres

Dukung Jokowi, Ma'ruf Amin Akan Hadir Saat Debat Kedua Pilpres

Nasional
Cerita Rahman Lolos dari Maut: Lari saat Bebatuan Longsor Menghujani Atap Rumah

Cerita Rahman Lolos dari Maut: Lari saat Bebatuan Longsor Menghujani Atap Rumah

Regional

Close Ads X