UNICEF: 2017 Jadi Tahun Terburuk bagi Anak-anak di Zona Konflik - Kompas.com

UNICEF: 2017 Jadi Tahun Terburuk bagi Anak-anak di Zona Konflik

Kompas.com - 28/12/2017, 14:39 WIB
Pihak-pihak yang terlibat perang secara jelas mengabaikan hukum internasional ketika harus melindungi anak-anak. (Deutsche Welle) Pihak-pihak yang terlibat perang secara jelas mengabaikan hukum internasional ketika harus melindungi anak-anak. (Deutsche Welle)


NEW YORK, KOMPAS.com — Lembaga PBB untuk anak-anak, UNICEF, menyatakan tahun 2017 sebagai tahun terburuk bagi anak-anak yang terjebak di dalam konflik dan wilayah yang terkepung perang.

Anak-anak dikerahkan sebagai perisai manusia untuk bertindak sebagai pelaku bom bunuh diri. Selain itu, anak-anak juga telah menjadi sasaran besar dalam peperangan.

Dilansir dari Deutsche Welle, Kamis (28/12/2017), pihak-pihak yang terlibat perang secara jelas mengabaikan hukum internasional ketika harus melindungi anak-anak.

Dalam laporannya, UNICEF menemukan di daerah yang dilanda konflik di seluruh dunia, banyak anak-anak yang terbunuh sebagai pelaku dan direkrut untuk berjuang dalam peperangan.

Baca juga: Dilanda Perang, Wabah Kolera Serang Hampir 1 Juta Orang di Yaman

"Anak-anak telah menjadi sasaran, korban serangan, serta kekerasan brutal di rumah, sekolah, dan tempat bermain mereka," kata Manuel Fotaine, Direktur Program Darurat UNICEF.

"Seiring serangan yang berlanjut dari tahun ke tahun, kita tidak bisa seperti mati rasa. Kebrutalan semacam itu tidak bisa menjadi hal normal baru," lanjutnya.

Laporan UNICEF juga menyoroti konflik berkepanjangan di Afrika yang menjadi salah satu tempat terburuk bagi anak-anak.

Di wilayah Kasai, Kongo, hampir 1 juta anak mengungsi sepanjang tahun ini, sementara lebih dari 400 sekolah diserang dengan sengaja.

Di Nigeria dan Kamerun, kelompok Boko Haram menjadikan sekitar 135 anak-anak sebagai pelaku bom bunuh diri. Angka itu lima kali lebih banyak dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Baca juga: Nigeria Gelar Penuntutan Massal untuk 1.670 Tahanan Terkait Boko Haram

Di Sudan Selatan, 19.000 anak direkrut secara paksa sebagai tentara sejak 2013.

UNICEF memperkirakan sekitar 5.000 anak-anak terbunuh dan mengalami luka dalam peperangan di Yaman sejak meletusnya perang saudara pada Maret 2015.

Suplai makanan yang terus berkurang membuat negara itu menghadapi bencana kekurangan nutrisi bagi 2 juta anak.

Sementara itu, di Irak dan Suriah, sekitar 700 anak dilaporkan tewas hingga September 2017.


EditorVeronika Yasinta
Komentar

Close Ads X