Kompas.com - 11/07/2017, 16:16 WIB
Asap mengepul pasca-serangan pasukan Irak atas posisi kelompok teroris ISIS di Mosul, Irak utara, pada Minggu (25/6/2017).
ReutersAsap mengepul pasca-serangan pasukan Irak atas posisi kelompok teroris ISIS di Mosul, Irak utara, pada Minggu (25/6/2017).
|
EditorPascal S Bin Saju

KAIRO, KOMPAS.com – Kota Mosul, Irak utara, mulai menghadapi babak baru yang lebih sulit setelah Perdana Menteri Irak, Haider al-Abadi, mengumumkan kemenangan pasukannya atas milisi Negara Islam di Irak dan Suriah (ISIS) di Mosul.

Jika konsolidasi tak segera dilakukan secara benar di kota itu, Mosul bisa jatuh lagi pada ISIS.

Wakil Dewan Provinsi Nineveh Nuruddin Qablan, dalam wawancara dengan harian berbahasa Arab, Asharq al-Awsat, Senin (10/7/2017), mengatakan, era lebih sulit justru kini dimulai di kota Mosul di tengah pertarungan regional, konflik politik internal Irak, tantangan keamanan, dan pembangunan kembali kota itu.

Akibat pertempuran antara pasukan Irak dan milisi ISIS, lebih dari 900.000 warga Mosul menjadi pengungsi, sebagaimana dilaporkan harian Kompas, Selasa (11/7/2017).

Menurut Qablan, tantangan pemerintah Mosul mendatang, yakni mereka harus segera membangun kembali kota Mosul dan mengembalikan para pengungsi itu ke rumah-rumah mereka.

Baca: Rebut Masjid Agung Nuri di Mosul, Irak Nyatakan ISIS Sudah Hancur

Selain itu, mereka juga harus mampu mengontrol keamanan yang masih rawan dan mengikis habis sisa-sisa doktrin ISIS  di kota itu.

Mantan perwira tinggi militer Irak, Abdel Karim al-Obeidi, dalam wawancara dengan harian Asharq al-Awsat, Senin kemarin, juga mengungkapkan, masih terjadi perdebatan tentang siapa yang akan memerintah kota Mosul pasca-era ISIS.

Ia menyebutkan, informasi masih simpang siur tentang apakah militer atau sipil yang akan memerintah kota Mosul.

Namun, lanjut al-Obeidi, siapa pun yang akan memerintah kota Mosul, ia harus figur yang profesional, memiliki kapasitas, serta memiliki hubungan baik dengan pemerintah pusat Baghdad dan pemerintah otonomi Kurdistan.

Pertempuran melawan ISIS untuk merebut wilayah barat kota Mosul, termasuk Kota Tua, berlangsung hampir lima bulan, yakni mulai 19 Februari 2017.

Baca: PM Irak Nyatakan Kota Mosul Sudah Direbut Kembali dari Tangan ISIS

Hari Minggu lalu, PM Abadi berada di Mosul untuk menyampaikan ucapan selamat kepada pasukan Irak atas kemenangan mereka di kota terbesar kedua negeri itu.

Senin kemarin, Abadi dijadwalkan akan mengumumkan kemenangan atas ISIS di Mosul. Dalam tiga tahun terakhir, Mosul menjadi ibu kota ISIS di Irak.

Dana pemulihan

Menurut Kementerian Pertahanan AS (Pentagon), kerugian di barisan satuan elite kontra teroris Irak atau CTS, yang menjadi tulang punggung pasukan Pemerintah Irak dalam perang Mosul, mencapai 40 persen.

Pentagon memperkirakan, Baghdad butuh dana lebih dari 1 miliar dollar AS atau sekitar Rp 13,4 triliun untuk membangun kembali militernya menyusul kerugian besar yang dialaminya pada perang Mosul.

Adapun dari data statistik PBB diketahui, Baghdad butuh membangun lagi 5.500 rumah di kota tua Mosul setelah kota tua itu kini praktis menjadi puing-puing akibat pertempuran sengit selama hampir lima bulan itu.

Baca: Perang Lawan ISIS di Mosul Berlanjut meski Irak Rayakan Kemenangan

PBB memprediksi, pembangunan infrastruktur yang rusak di Mosul juga membutuhkan dana 1 miliar dollar AS.

Juru bicara Pasukan Pengawal Provinsi Nineveh, Zuheir al-Gabburi, kepada harian Asharq al-Awsat juga mengungkapkan, pengungsi Mosul sejak dimulai perang Mosul pada 17 Oktober 2016 mencapai 950.000 orang.

Mereka tersebar di kamp-kamp pengungsi di wilayah Kurdistan dan area selatan kota Mosul.

Ia mengungkapkan pula, korban perang Mosul mencapai lebih dari 50.000 orang yang tewas dan luka-luka.

Gabburi memperingatkan, jika pemerintah Baghdad tidak segera melakukan konsolidasi secara benar di kota Mosul setelah pembebasan dari ISIS, tidak tertutup kemungkinan kota tersebut bisa jatuh lagi ke tangan ISIS.

Hal ini senada dengan seruan Uni Eropa (UE). "Kini penting bahwa proses memulihkan dan mengembalikan kepercayaan di kalangan masyarakat dimulai dan bahwa semua warga Irak bisa mulai membangun masa depan bersama," kata Kepala Urusan Luar Negeri UE Federica Mogherini dan Komisioner Bantuan UE Christos Stylianides dalam pernyataan bersama, Minggu (8/7/2017).

Baca: Pasukan Irak Kuasai Rute Pelarian ISIS di Mosul

Meski Mosul telah dibebaskan dari ISIS, Irak masih menghadapi ketidakpastian.

Stabilitas dalam jangka panjang hanya bisa terwujud jika pemerintahan di Baghdad mampu menangani ketegangan etnis dan sektarian yang menyelimuti negara itu pasca-tumbangnya Saddam Hussein pada 2003.

Gabburi meminta pemerintah Baghdad segera menumpas milisi ISIS yang masih menguasai area sekitar kota Mosul, seperti kota Tal Afar (sekitar 63 kilometer barat kota Mosul), Lembah Nineveh, dan area Sungai Eufrat di sekitar perbatasan Irak-Suriah.

Menurut dia, jika pemerintah Baghdad lengah, milisi ISIS cepat atau lambat bisa kembali lagi ke kota Mosul melalui area-area sekitar yang masih mereka kontrol.

Ketua Komisi Urusan Keamanan dan Pertahanan di parlemen Irak, Hakim al-Zamili kepada koran Al Hayat mengatakan, kota Mosul telah dibebaskan, dan babak berikutnya harus segera membebaskan kota Tal Afar, Hawija, dan al-Qaim yang masih dikontrol ISIS.

Ia menyebut pula bahwa Baghdad tak segera bergerak menuju kota-kota itu, hal ini akan memberi kesempatan kepada ISIS membangun kembali barisannya dan lalu mengancam lagi kota Mosul serta kota lain di Irak.

Baca: Melihat Sepak Terjang "Sniper" Pembasmi Teroris ISIS di Mosul

Seperti diberitakan stasiun televisi swasta Irak, Sumaria News, Minggu (9/7), ISIS telah memutuskan kota Tal Afar sebagai ganti kota Mosul.

Menurut laporan stasiun itu, ISIS telah menyebarkan selebaran di kota Tal Afar berisi pemberitahuan bahwa semua aktivitas resmi ISIS akan dilakukan di kota Tal Afar pasca- kekalahan mereka di Mosul.

 

(Berita ini mengalami perubahan dari Versi cetak artikel ini asli yang terbit di harian Kompas, 11 Juli 2017, di halaman 8 dengan judul "Kota Mosul Menghadapi Babak Baru")

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kearifan Pilar Singa Ashoka

Kearifan Pilar Singa Ashoka

Internasional
Refleksi 12 Tahun Serangan Penembakan Brutal Mumbai

Refleksi 12 Tahun Serangan Penembakan Brutal Mumbai

Internasional
Amerika Meniru Indonesia?

Amerika Meniru Indonesia?

Internasional
Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Internasional
Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Internasional
Korea Utara Umumkan Uji Coba 'Artileri Laras Jauh'

Korea Utara Umumkan Uji Coba "Artileri Laras Jauh"

Internasional
Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Internasional
Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Internasional
Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Internasional
Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Internasional
[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

Internasional
Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Internasional
Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Internasional
Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Internasional
Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Internasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.