Kompas.com - 01/05/2017, 18:38 WIB
EditorErvan Hardoko

KOMPAS.com - Salah satu insiden paling "panas" semasa Perang Dingin adalah ditembaknya sebuah pesawat mata-mata Lockheed U-2 milik Amerika Serikat oleh Uni Soviet.

Insiden pada 1 Mei 1960 itu mengakibatkan sebuah pertemuan penting antara Presiden Dwight D Eisenhower dan pemimpin Uni Soviet Nikita Kruschev batal.

Pesawat ini adalah sebuah proyek badan intelijen AS (CIA) dan sudah menggunakan teknologi paling maju di masa itu.

Pesawat ini mampu terbang di ketinggian 70.000 kaki atau lebih dari 21.000 meter, dilengkapi peralatan fotografi canggih yang diklaim bisa mengambil foto dengan resolusi tinggi.

Baca: Hari Ini dalam Sejarah: Uni Soviet Akui Dalangi Pembantaian Katyn

CIA meyakinkan Presiden Eisenhower bahwa Uni Soviet tak memiliki senjata anti-pesawat yang mampu terbang di ketinggian 70.000 kaki.

Pada 1 Mei 1960, sebuah pesawat U-2 yang dipiloti Francis Gary Powers tiba-tiba menghilang di wilayah udara Uni Soviet.

Saat itu, CIA masih meyakinkan Presiden Eisenhower bahwa jika pesawat itu tertembak maka terdapat mekanisme menghancurkan diri agar tak jatuh ke tangan musuh.

CIA juga meyakinkan presiden bahwa sang pilot diperintahkan bunuh diri jika jatuh di wilayah musuh.

Berdasarkan informasi itu, pemerintah AS mengeluarkan pernyataan "resmi" yang menyebut pesawat cuaca terbang keluar jalur dan jatuh di wilayah Uni Soviet.

Namun, pernyataan AS itu dibalas Kruschev dengan tak hanya memamerkan puing-puing pesawat tetapi juga memperlihatkan sang pilot yang bisa ditangkap dalam kondisi hidup.

Akhirnya, Presiden Eisenhower terpaksa mengakui di muka publik bahwa pesawat yang jatuh di Uni Soviet itu adalah pesawat mata-mata.

Pada 16 Mei 1960, sebuah pertemuan tingkat tinggi antara Uni Soviet, Amerika Serikat, Inggris, dan Perancis digelar di Paris untuk membahas status Berlin dan pengendalian senjata nuklir.

Saat pertemuan dibuka Kruschev langsung menyerang Amerika Serikat dan Eisenhower lalu meninggalkan pertemuan. Alhasil pertemuan tingkat tinggi itu batal.

Baca: Separuh Rakyat AS Yakin Perang Dingin di Depan Mata

Sementara itu di Uni Soviet, Francis Gary Powers mengatakan kepada pasukan Soviet soal misi dan alasannya berada di wilayah udara Uni Soviet.

Dia melakukan ini sesuai dengan perintah yang sudah diterimanya sebelum menjalankan misi.

Powers mengakui kesalahannya dan divonis bersalah melakukan tindakan mata-mata pada 19 Agustus 1960 dan dijatuhi tiga tahun hukuman penjara ditambah tujuh tahun kerja paksa.

Akhirnya, Powers hanya menjalani hukuman selama satu tahun sembilan bulan sebelum ditukar dengan Rudofl Abel, mata-mata Uni Soviet yang ditangkap di Amerika Serikat pada 1957.

Pertukaran Powers dan Abel dilakukan pada 10 Februari 1962 di jembatan Glienicke yang menghubungkan Postdam, Jerman Timur dan Berlin Barat.

Kisah soal upaya Amerika Serikat menyelamatkan Gary Powers ini direkonstruksi dalam film Bridge of Spies karya Steven Spilberg yang dibintangi aktor Tom Hanks.


Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca tentang


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.