Kompas.com - 10/04/2017, 22:19 WIB
EditorPascal S Bin Saju

LUCCA, KOMPAS.com — Pertemuan para menteri luar negeri dari Kelompok 7 (G-7), negara-negara industri maju, di Lucca, Italia, Senin (10/4/2017) ini, bersiap menerapkan sanksi-sanksi baru kepada individu-individu Rusia terkait dengan dukungan Moskwa kepada Presiden Suriah Bashar al-Assad.

Menteri Luar Negeri Inggris, Boris Johnson, mengatakan, pertemuan para menteri luar negeri G-7 pada Senin hingga Selasa (11/4/2017) akan “mendiskusikan kemungkinan tentang sanksi lebih lanjut, tentu saja, terhadap beberapa tokoh militer Suriah dan Rusia” seperti dilaporkan Associated Press.

Pertemuan kelompok G-7 ini dilakukan untuk membahas tanggapan mereka terhadap serangan senjata kimia di dekat Homs, Suriah tengah, pada Jumat lalu.

Barat menuding bahwa itu dilakukan pasukan Assad – yang didukung oleh sekutunya, Rusia. Inggris termasuk salah satu negara Barat yang paling kritis dan kuat mendesak perlunya pendekatan baru yang lebih keras kepada Rusia.

Sementara Pemerintah Rusia, menurut Deutsche Welle  semakin terdesak menyusul serangan senjata kimia oleh rezim Assad di Suriah.

Moskwa menganggap AS sudah melampaui batas dan ultimatum negara-negara G-7 bisa memicu perang konvensional.

Rusia dan Iran memperingatkan Presiden AS Donald Trump agar tidak melanggar "garis merah" dan mengancam bakal "bereaksi dengan kekerasan" jika Washington bersikeras melancarkan operasi militer terhadap rezim Assad di Suriah.

Pusat komando bersama yang dibentuk oleh militer Rusia, Iran, dan kelompok bersenjata yang loyal terhadap Assad mengingatkan AS agar tidak menyerang Suriah.

"Mulai sekarang kami akan merespon dengan kekerasan terhadap segala bentuk agresi dan pelanggaran dan AS mengetahui betul kemampuan kami untuk bereaksi," tulis kelompok tersebut melalui situs Ilam al-Harbi.

Sebaliknya G-7 mendesak Rusia agar mengkaji ulang dukungannya terhadap rezim Damaskus.

Jelang pertemuan di Lucca, Menteri Luar Negeri AS Rex Tillerson menuding Moskwa "tidak kompeten" karena mengizinkan militer Suriah memiliki senjata kimia.

Tillerson dijadwalkan melawat ke Moskwa pada Selasa (11/4/2017) dan dijadwalkan bertemu Menlu Rusia Sergey Lavrov buat membahas krisis Suriah.

Sebelumnya Menlu Inggris Boris Johnson menunda kunjungannya ke Rusia menyusul serangan senjata kimia di Khan Sheikhoun, Suriah.

Menurutnya serangan tersebut "mengubah situasinya secara fundamental." Sebab itu ia lebih memilih mengunjungi pertemuan G-7 ketimbang melawat ke Moskwa.

Atas pembatalan tersebut Kementerian Luar Negeri Rusia mengeluarkan reaksi tajam.

"Keputusan Johnson sekali lagi mengkomfirmasikan keraguan atas nilai tambah sebuah dialog dengan Inggris, yang tidak lagi mewakili posisi sendiri dalam isu besar atau mempunyai pengaruh pada arah kebijakan politik internasional. Inggris berada di bawah bayang-bayang mitra strategisnya sendiri."

Kedutaan Besar Rusia di Inggris bahkan menulis skenario "perang konvensional" menyusul sikap keras negara-negara G-7.

 "Jika ultimatum G-7 terhadap Rusia memicu perang, apakah anda percaya pada Donald Trump sebagai pemimpin masa perang dengan Boris Johnson sebagai letnannya?"

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.