Kompas.com - 19/06/2014, 21:45 WIB
EditorErvan Hardoko
Tanggal 20 Juni diperingati sebagai Hari Pengungsi Sedunia. Pengungsi adalah orang-orang yang meninggalkan negaranya bukan atas motif ekonomi. Mereka adalah orang-orang yang terpaksa lari dari negaranya demi menyelamatkan diri dari konflik, kekerasan, maupun hal-hal lain yang mengancam keselamatan mereka.

Saat ini di seluruh dunia jutaan orang berstatus pengungsi. Bahkan banyak dari mereka yang sebelum menjadi pengungsi adalah orang-orang dengan profesi yang sangat baik, semisal dokter. Nah, untuk memperingati Hari Pengungsi Sedunia ini, Kompas.com dan Dokter Lintas Batas (MSF) menyajikan kisah tiga dokter Suriah yang kini harus menyandang status pengungsi.

KOMPAS.COM —Dr Muhammed Selim (41) bekerja sebagai dokter bedah di distrik Al-Safirah di Aleppo, Suriah, sejak 2006. Ia bekerja di rumah sakit pemerintah pada pagi hari dan di klinik pribadinya pada sore hari.

“Sebelum konflik pecah tahun 2011, hidup saya cukup baik. Saya bekerja keras, dan sepulang kerja saya bisa dengan leluasa mengunjungi teman-teman di sekitar Aleppo,” tutur Muhammed.

Namun, saat konflik mulai melanda daerah pedesaan Aleppo, klinik Muhammed yang berada di lokasi yang strategis terperangkap di tengah pertempuran. Muhammed bahkan terjebak hingga delapan bulan yang mengerikan.

”Saat Al-Safirah diserang dengan bom tong, saya melihat potongan tubuh dan darah tercecer di jalanan. Saya bekerja sampai malam. Gerobak sayur penuh dengan tumpukan tubuh laki-laki, perempuan, dan anak-anak —beberapa mayat sudah tanpa tangan, kaki, atau mata. Klinik kami punya kapasitas bedah sederhana, tapi hanya ada tiga dokter: saya sendiri dan dua orang dokter anak. Namun para tetangga sangat membantu,” Muhammed mengenang.

Pertempuran berlanjut setiap hari dan ribuan warga mulai meninggalkan Al-Safirah. Muhammed beruntung bisa lolos dari serangan bom yang menghancurkan kliniknya dan banyak bangunan lain di daerah itu.

”Saya mundur 12 kilometer jauhnya dari kota dan mendirikan rumah sakit lapangan kecil. Meski kami mempunyai persediaan obat dan peralatan yang memadai, saya adalah dokter satu-satunya. Tidak ada perawat, hanya ada anak muda di lingkungan setempat yang membantu," tambah dia.

Muhammed mengaku, lama-kelamaan dia tak takut lagi dengan serangan bom. Dia lebih khawatir akan diserang karena dia adalah satu-satunya orang Kurdi di wilayah itu. Dan, lanjut Muhammed, orang Kurdi selalu jadi sasaran.

Muhammed akhirnya memutuskan untuk meninggalkan daerah itu pada Januari 2014, saat ancaman penculikan terlalu besar. Dan, sekali lagi, ia melarikan diri pada waktu yang sangat tepat.

”Pada pagi hari setelah saya pergi, bom tong dijatuhkan di rumah sakit lapangan. Seluruh daerah itu hancur. Padahal, obat-obatan yang ada di dalamnya bisa mencukupi satu rumah sakit,” kata dia.

Halaman:
 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.