Kompas.com - 12/01/2014, 04:16 WIB
EditorErvan Hardoko
BEIRUT, KOMPAS.com - Adel Makki berlari ke jalanan di kamp pengungsi Palestina Shatila di Beirut, Lebanon, Sabtu (11/1/2013).  Dia kemudian membagikan permen kepada orang yang dikenalnya setelah mendengar mantan PM Israel Ariel Sharon meninggal dunia.

"Saya sangat lega saat mengetahui Saron meninggal dunia. Saya kira masa-masa dia di dalam kondisi koma adalah hukuman Tuhan atas kejahatan yang sudah diperbuatnya," kata Makki yang baru berusia 19 tahun itu.

Pernyataan Makki itu terkait peristiwa pembantaian di Sabra dan Shatila yang terletak di sisi selatan kota Beirut. Selama tiga hari dimulai pada 16 September 1982 ratusan orang pria, wanita dan anak-anak dibantai di kedua kamp pengungsi itu.

Setidaknya 500 orang hilang tanpa jejak, salah seorangnya adalah paman Adel Makki. Tak heran remaja itu menyimpan kebencian begitu besar terhadap Ariel Sharon.

Tiga bulan sebelum pembantaian itu, militer Israel menginvasi Lebanon. Milisi sekutu Israel di Lebanon, Phalangist kemudian yang melakukan pembantaian sementara pasukan Israel mengepung kedua kamp pengungsi itu.

Ariel Sharon, yang saat itu menjabat menteri pertahanan Israel, dipaksa mengundurkan diri setelah komisi penyelidikan Israel menetapkan Sharon secara tak langsung bertanggung jawab atas pembantaian itu.

"Saya menerima permen yang dibagikan karena lega si pembunuh sudah meninggal. Dia membunuh ratusan orang. Kini kami lega," kata Ahmad Khodr al-Gosh, bocah berusia 10 tahun.

Kabar kematian Sharon itu serta merta disambut keceriaan dan jalan-jalan sempit di kamp pengungsi Shatila seketika berubah menjadi ajang pesta.

Para penghuni keluar dari gubuk-gubuk mereka merayakan meninggalkan Ariel Sharon yang meninggal dunia dalam usia 85 tahun di sebuah rumah sakit di dekat Tel Aviv setelah delapan tahun koma.

"Anda ingin tahu perasaan saya? Saya ingin menyanyi dan menari. Itulah yang saya rasakan," kata Umm Ali, perempuan berusia 65 tahun yang kehilangan saudaranya Mohammad dalam pembantaian 32 tahun lalu itu.

"Saya ingin menikamnya sampai mati. Dia seharusnya lebih menderita lagi," tambah Umm Ali.

Sebagian besar penghuni Sabra dan Shatila sebenarnya menginginkan Ariel Sharon diajukan ke pengadilan atas kejahatannya.

"Tentu saja saya senang dia meninggal dunia. Tapi sebenarnya saya ingin melihat dia diadili di hadapan dunia sebelum Tuhan mengadilinya," kata Mirvat al-Amine, seorang pemilik toko.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Sumber
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.