Salin Artikel

Dugaan Suriah Pakai Senjata Kimia, Trump Janjikan Respons "Terkuat"

Pernyataan tersebut dilontarkan Trump pada pertemuan kabinet di Washington, seperti diberitakan AFP Selasa (10/4/2018).

Dalam pertemuan Dewan Keamanan PBB Senin (9/4/2018), Duta Besar AS untuk PBB, Nikki Haley, mendesak dilakukan penindakan terhadap rezim Bashar al-Assad.

Sebab, mereka diduga menggunakan gas beracun jenis klorin maupun sarin di Douma, kantong pertahanan terakhir pemberontak di Ghouta Timur.

Dalam operasi yang dilakukan pekan lalu, sebanyak 70 orang warga sipil dilaporkan tewas hanya dalam waktu 24 jam.

Selain itu, sebanyak 11 orang tercatat mengalami masalah di pernapasan mereka. Damaskus menyebut laporan tersebut adalah rekayasa dari pemberontak.

"Kita telah mencapai momen ketika dunia harus menyaksikan keadilan ditegakkan," tegas Haley dalam pertemuan DK PBB tersebut.

Dalam makan malam dengan sejumlah jenderal, Trump menyebut AS mempunyai sejumlah opsi militer untuk melawan rezim Assad.

"Kami bakal segera memberi tahu Anda secepatnya. Kemungkinan setelah fakta yang ada berhasil dikumpulkan," beber Trump kepada awak media.

Hal yang sama juga disuarakan oleh Perancis melalui juru bicara pemerintahan, Benjamin Griveaux.

"Jika ditemukan rezim Assad menjadi dalang dari serangan di Ghouta Timur, jelas bakal ada aksi pembalasan," tegas Griveaux.

Baik AS, Perancis, maupun Inggris berujar, mereka siap untuk melakukan aksi dengan atau tanpa seizin Dewan Keamanan PBB.

Adapun dewan keamanan bakal menggelar pemungutan suara terkait proposal resolusi yang menginginkan adanya penyelidikan dugaan Suriah menggunakan gas beracun.

Namun, seperti diberitakan oleh AFP, resolusi tersebut bisa batal jika sekutu utama Suriah, Rusia, menggunakan hak veto-nya.

Dubes Rusia untuk PBB Vassily Nebenzia berkata, dia memprediksi AS bakal menggunakan opsi militer jika voting tidak berhasil.

"Jika mereka benar-benar melakukannya, maka saya takutkan hal itu bakal menjadi sesuatu yang sangat berbahaya," kata Nebenzia.

Sementara itu, Organisasi Pelarangan Senjata Kimia (OPCW) mengumumkan telah melakukan investigasi terhadap kasus gas beracun di Douma.

"Namun, penyelidikan yang kami lakukan baru sebatas analisis awal," kata OPCW dalam keterangan resminya.

Sejak 18 Februari, rezim Assad telah membombardir kawasan Ghouta, dan telah menewaskan lebih dari 1.700 warga sipil.

Akhir Maret lalu, Suriah dan Rusia melakukan negosiasi tiga kelompok pemberontak yang tersisa di Ghouta.

Minggu (8/4/2018), media pemerintah Suriah mengonfirmasi kalau Jaish al-Islam, pemberontak terakhir di Douma, setuju untuk meninggalkan kota dalam 48 jam ke depan.

https://internasional.kompas.com/read/2018/04/10/16082311/dugaan-suriah-pakai-senjata-kimia-trump-janjikan-respons-terkuat

Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.