Berselisih karena Antre Makanan, Imigran di Perancis Terlibat Tawuran - Kompas.com

Berselisih karena Antre Makanan, Imigran di Perancis Terlibat Tawuran

Kompas.com - 02/02/2018, 10:31 WIB
Sekelompok migran menggunakan tongkat selama bentrokan terjadi. (EPA via BBC) Sekelompok migran menggunakan tongkat selama bentrokan terjadi. (EPA via BBC)


CALAIS, KOMPAS.com — Sedikitnya lima imigran ditembak di kota pelabuhan Calais, Perancis, setelah aksi tawuran terjadi antara warga Afghanistan dan warga Eritrea, Kamis (1/2/2018).

Dilansir dari BBC, perkelahian massal terjadi selama dua jam dipicu para imigran yang sedang antre mengambil makanan yang dibagikan terlibat perselisihan. Kemudian, seorang warga Afghanistan melepaskan tembakan.

AFP melaporkan, empat warga Eritea usia 16 hingga 18 tahun berada dalam kondisi kritis dan telah dibawa ke rumah sakit untuk menjalani operasi.

Satu korban dibawa ke rumah sakit lainnya di kota Lille karena mengalami luka serius.

Baca juga: Patroli Perbatasan Gagalkan Penyelundupan Imigran Ilegal ke Meksiko

Sebagai informasi, Eritrea merupakan sebuah negara yang terletak di bagian timur laut Afrika. Eritrea berbatasan dengan Sudan di sebelah barat, Etiopia di selatan, dan Djibouti di tenggara.

Sementara itu, 13 orang dilaporkan terluka akibat terkena pukulan lempengan besi.

Menteri Dalam Negeri Perancis Gerard Collomb akan mengunjungi area terjadinya tawuran tersebut.

"Setelah insiden parah hari ini, saya akan berkunjung ke Calais malam ini untuk mengetahui situasi terkini bersama dengan wali kota dan pejabat setempat," kicaunya di Twitter.


Sekitar 100 warga Eritrea dan sekitar 30 warga Afghanistan ditangkap dalam aksi kekerasan tersebut.

"Polisi mengambil tindakan untuk melindungi imigran Afghanistan yang menghadapi 150 hingga 200 warga Eritrea," ujar pejabat setempat.

Anggota pasukan keamanan Perancis juga telah dikirim ke daerah tersebut.

Baca juga: Beri Air Minum ke Imigran, Relawan di AS Malah Masuk Bui

Meskipun kamp imigran Calasi dikenal sebagai "hutan rimba" telah dihancurkan pada 2016, ratusan imigran masih hidup di hutan terdekat dan berharap bisa sampai ke Inggris.

Kebanyakan imigran adalah pemuda. Lembaga amal lokal menyebutkan sekitar 800 imigran tinggal di Calais, sementara pemerintah menyatakan, jumlahnya 550 hingga 600 imigran.


EditorVeronika Yasinta
Komentar

Close Ads X