Skandal Telur Berinsektisida Guncang Eropa, Apa Perkembangan Terbaru? - Kompas.com

Skandal Telur Berinsektisida Guncang Eropa, Apa Perkembangan Terbaru?

Kompas.com - 11/08/2017, 11:00 WIB
. ANP/AFP | Patrick HUISMAN .

BRUSSELS, KOMPAS.com - Otoritas Belanda menangkap dua tersangka dalam skandal pencemaran insektisida pada telur yang telah mengguncang Eropa, Kamis (10/8/2017).

Dalam upaya bersama otoritas Belgia, Kejaksaan Belanda mengaku telah menangkap dua manajer di perusahaan yang diduga menggunakan zat fipronil di peternakan ayam, Chickfriend.

Otoritas di Belanda -salah satu negara eksportir telur terbesar di Eropa, dan Belgia sebelumnya telah mengidentifikasi Chickfriend sebagai perusahaan yang disewa untuk merawat ayam demi membasmi kutu merah parasit.

Fipronil adalah insektisida yang biasa digunakan untuk menyingkirkan kutu dari hewan, namun bahan ini terlarang dalam industri makanan, berdasarkan regulasi Uni Eropa.

Bila dimakan dalam jumlah banyak, kandungan zat ini bisa membahayakan ginjal, hati dan kelenjar tiroid.

Baca: Skandal Insektisida di Belanda, Jutaan Telur di Eropa Terkontaminasi

Informasi terakhir, Denmark mengumumkan adanya 20 ton telur yang terkontaminasi telah terjual di sana.

Di Denmark ditemukan telur rebus dan kupas, yang diimpor dari pemasok Belgia, ternyata mengandung jejak insektisida fipronil.

Dua kasus terbaru ini memperpanjang daftar penemuan telur terkontaminasi, yang menyebabkan banyak supermarket di seluruh Eropa menarik produk telur.

Otoritasdi Denmark menyebutkan kebanyakan telur yang terkontaminasi dijual ke kafe dan katering.

Namun mereka juga menyebutkan, tingkat insektisida pada telur terlalu rendah untuk menimbulkan risiko kesehatan bagi manusia.

Skandal tersebut juga menyebar ke arah timur. Satu ton telur yang terkontaminasi ditemukan di Romania.

Temuan serupa juga didapati di Slowakia dan Luksemburg.

Sementara dari Inggris diperoleh kabar bahwa negara itu yang telah mengimpor 700.000 telur dari peternakan Belanda yang terkait dengan skandal tersebut.

Jumlah impor Inggris itu jauh lebih banyak daripada yang dipikirkan pertama kali.

Swedia dan Swis juga menemukan telur yang terkontaminasi.

Menyusul merebaknya isu ini, tekanan terhadap Belgia dan Belanda, pun kian menguat.

Sebelumnya, Marieke van der Molen, Jurubicara Kantor Kejaksaan Belanda, mengatakan penyelidikan kriminal telah dibuka untuk menentukan sumber kontaminasi.

Badan keamanan rantai makanan federal Belgia (AFSCA) juga telah meluncurkan penyelidikan kriminal bekerjasama dengan jaksa penuntut umum.

Otoritas Jerman mengatakan, Belgia dan Belanda berkewajiban untuk menjelaskan skandal tersebut.

"Dari temuan yang kami dapatkan, jelas ada maksud kriminal untuk mencemari telur ini dengan zat asing," kata Menteri Pertanian Jerman, Christian Schmidt kepada harian Bild.

EditorGlori K. Wadrianto
Komentar