Tentara AS Pendukung ISIS Miliki Sejarah Ancaman dan Pro-ekstremis - Kompas.com

Tentara AS Pendukung ISIS Miliki Sejarah Ancaman dan Pro-ekstremis

Kompas.com - 12/07/2017, 12:00 WIB
Ikaika KangFox News Ikaika Kang

HONOLULU, KOMPAS.com - Biro Investigasi Federal ( FBI)  mengatakan, seorang sersan Angkatan Bersenjata AS yang ditangkap karena diduga berusaha membantu ISIS, memiliki sejarah panjang membuat ancaman dan pernyataan pro-ekstremis.

Ikaika Kang (34) tampil di pengadilan untuk pertama kalinya di Honolulu dan diperintahkan untuk tetap berada di balik jeruji besi.

Agen FBI yang menyamar bersikap sebagai pengontak dari ISIS menangkap Kang hari Sabtu, setelah dia menyatakan kesetiaannya kepada ISIS, berbicara tentang keinginan untuk "membunuh sekelompok orang."

Dia juga pergi berbelanja dengan agen rahasia yang menyamar itu untuk membeli pesawat drone untuk diberikan kepada para pejuang ISIS.

Menurut surat pernyataan FBI yang diajukan di pengadilan federal, Angkatan Darat menegur Kang pada awal tahun 2011 karena mengancam untuk membunuh sesama tentara dan memuji militan ISIS.

Baca: Beri Bantuan untuk ISIS Seorang Tentara AS Ditangkap di Hawaii

Kartu keanggotaan militer Kang dicabut tahun 2012, namun kemudian ia mendapatkannya kembali, dan tetap bertugas aktif sampai sekarang.

FBI mengatakan, Angkatan Darat khawatir Kang menjadi radikal dan menyerahkan kasusnya kepada penyidik federal pada tahun 2016.

Sejak itu, Kang diduga mengatakan kepada pria bersenjata yang membunuh 49 orang di sebuah klub malam gay di Orlando "melakukan apa yang harus dia lakukan."

Kang juga pernah didengar memuji Hitler yang menyerukan pembunuhan massal terhadap orang Yahudi.

FBI mengatakan, Kang menyerahkan dokumen rahasia militer ke agen rahasia yang menyamar sebagai anggota ISIS.

Baca: Bantu ISIS di Suriah, Perawat Australia Ditahan Setibanya di Sydney

Kang adalah pengatur lalu lintas udara di Wheeler Army Airfield di Hawaii. Dia pernah bertugas di Irak dan Afganistan.

Pengacara yang ditunjuk oleh pengadilan baginya, Birney Bervar, mengatakan bahwa kliennya mungkin menderita gangguan kesehatan jiwa terkait dengan pertempuran. 

EditorPascal S Bin Saju
Komentar

Close Ads X