Malaysia yang Kini Defisit Optimisme - Kompas.com

Malaysia yang Kini Defisit Optimisme

Karim Raslan
Kompas.com - 04/07/2017, 17:27 WIB
KOMPAS.COM/AMIR SODIKIN Menara Kembar Petronas di Kuala Lumpur, Malaysia, salah satu ikon di negara tersebut.

DESEMBER 2016 dan saya sedang berada di kawasan pusat teknologi Manila, Bonifacio Global City, bersama Tim KRA. Kami sempat brunch di Wildflour, salah satu kafe popular yang menyajikan aneka patisserie lezat, sebelum menuju tempat pertemuan dengan relasi kami.

Salah satu anggota tim saya dari Malaysia kembali dari loket penukaran uang dengan wajah masam dan mengeluhkan, "Ringgit melemah 10% dari Peso Filipina."

Ucapan lain pun terlontar: “Yeah, benar-benar jatuh terhadap Rupiah.” “…dan juga terhadap Dong, mata uang Vietnam!”

Keheningan sejenak terjadi di antara kami ketika kami mencoba memahami informasi tersebut. "Huh, benar-benar buruk. Semua orang mengeluh di KL."

Beralih cepat ke Hari Raya Idul Fitri 2017 dan situasi keuangan lebih membaik dibandingkan akhir tahun lalu. Ringgit telah menjadi salah satu mata uang dengan performa terbaik di kawasan, dan ini tepat dua puluh tahun setelah Krisis Keuangan Asia 1997.

Selain itu, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun lamanya, saya berada di Kuala Lumpur untuk ikut merayakan Hari Raya. Tidak perlu disangkal lagi bahwa Hari Raya sesungguhnya waktu yang tepat pula untuk sebuah perenungan.

Sebab, perayaan tahun ini terasa seperti ada yang kurang. Meski Ringgit membaik, masyarakat Malaysia sedang berjuang menghadapi kenaikan harga, tarif pajak baru, situasi perekonomian yang rapuh, dan sejumlah skandal yang tak kunjung selesai.

Bagi saya, yang saat ini menempati rumah dengan hanya berjarak selemparan batu dari rumah masa kecil saya di sebuah bukit yang menghadap ke kota, ada perasaan ingin kembali bepergian jauh.

Dok Karim Raslan Rumah masa kecil pengarang di Bukit Tunku, Kuala Lumpur, Malaysia.
Saya pun seperti mengalami Déjà Vu, seolah-olah melihat kembali masa lalu saya yang berulang-ulang dengan sendirinya.

Dulu saya adalah penggemar berat Thomas Friedman dan Francis Fukuyama. Mereka adalah penulis dan sejarawan yang dengan berani meneriakkan bahwa negara demokratis liberal, toleransi, globalisasi dan berteknologi, tidak terelakkan.

Buku-buku itu sekarang telah berdebu. Namun, saya justru melewatkan hari itu dengan mengamati tupai dan burung di pepohonan yang mengelilingi rumah saya, termasuk datangnya segerombolan monyet.

Banyaknya hewan liar itu sekali lagi mengingatkan saya akan masa lalu saya. Tentu saja, kehidupan masyarakat Malaysia telah berubah.

Sekitar lima puluh tahun yang lalu, seorang pria bernama Dr Mahathir Mohamad mengritik sekelompok kalangan atas dan menuduh mereka melakukan korupsi serta ketidakbecusan mengatur segala hal.

Dua puluh tahun yang lalu, dia berjuang melawan serangan pasar keuangan dunia dan wakilnya, Anwar Ibrahim, yang ambisius.

Hari ini, dia masih mondar-mandir di atas panggung, dengan mudah melupakan bagaimana dia selama dua puluh tiga tahun sebagai Perdana Menteri melemahkan institusi-institusi yang menentang dirinya, mulai dari anggota Parlemen hingga institusi pengadilan dan kepolisian.

Dan bagaimana situasi di KL? Dengan semua jalur MRT yang baru dibangun (dengan stasiun-stasiun yang entah berada di mana), jalur skyline yang dinamis dan penambahan jalan tol, situasinya masih tidak menyenangkan karena semua orang mengeluhkan harga pangan.

KOMPAS.com/Amir Sodikin Berbagai pilihan LRT di Malaysia
Hari Raya kemarin, dengan menu-menu tradisional seperti rendang, lemang, dan makanan lezat lainnya, menjadi tampak lebih sederhana. Hanya kemurahan hati dan keramahan masyarakat Malaysia-lah yang masih tetap kuat.

Segalanya terasa begitu menyesakkan, kurang bergairah. Ini bukan hanya soal tuduhan atas 1Malaysia Development Berhad (1MDB) dan nasib politik Perdana Menteri Datuk Seri Najib Razak yang menyita perhatian banyak orang.

Tetapi ketika pembicaraan beralih ke Ringgit, muncullah berbagai keluhan dan dugaan. Ketika saya menyela dan mengatakan, "Hei, nilai mata uang dan lainnya tampaknya membaik.”

Komentar saya langsung dimentahkan yang membuat saya tersadar bahwa ini merupakan depresiasi awal yang sangat berat. Tak ada yang peduli bahwa bisa saja Ringgit mengalami rebound kemudian.

Memang, harga barang-barang kebutuhan naik karena depresiasi yang belum disesuaikan. Namun, orang-orang seolah-olah menolak untuk melihat sisi baiknya—sebuah sisi negatif yang sudah melekat hingga memengaruhi situasi nasional, diperkuat oleh serangkaian kasus “pembunuhan tingkat tinggi” serta orang-orang muda yang dihabisi oleh massa karena dugaan kriminalitas atau kurangnya maskulinitas.

Saya ingin mengatakan bahwa segala sesuatunya baik-baik saja di era 1980-an ketika saya mulai bekerja. Meskipun, era1980-an bukanlah zaman keemasan.

Hanya saja masa itu adalah masa ketika munculnya harapan, dan harapan besar. Wartawan bekerja di bawah pembatasan yang ketat. Mereka menyaksikan korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan.

Mereka juga tidak bisa menulis tentang hal-hal tertentu. Sementara, kalangan atas menjalani hidup yang eksklusif dan banyak keistimewaan. Namun, terlepas dari itu semua, setiap orang sangat tertarik dan merasa memiliki prospek masa depan.

Kalangan kelas menengah merasa puas dengan situasi trade-off Malaysia. Segalanya berkembang begitu cepat di dalam negeri, sehingga pembatasan kebebasan pribadi dan politik menjadi tak ada artinya dalam mencapai kemakmuran.

Saya tidak merasa ada seseorang yang dapat berbagi pandangan seperti ini hari ini. Jadi apa yang salah? Orang-orang Malaysia sedang menghadapi defisit rasa optimisme.

Di masa lalu, kami merasa bahwa segala sesuatu akan dan dapat menjadi lebih baik. Hari ini, kami sadar bahwa kejadiannya tidak seperti yang dipikirkan. Inilah perbedaannya dengan masa 80-an. Rasa optimisme itu telah hilang saat ini.

Malaysia telah lama menjadi sebuah negara yang menawarkan masa depan dengan kekayaannya dan sumber daya alamnya yang sangat besar kepada masyarakatnya. Namun sekarang, masa depan itu tidak bisa diharapkan.

Masyarakat Malaysia bingung dengan bagaimana keadaan telah berubah. Kami berharap begitu banyak dan belum lagi di setiap sudut, ada lebih banyak lagi kekecewaan.

Memang benar bahwa kami telah mendapatkan pendidikan yang lebih baik, serta harapan hidup lebih lama dan lebih sejahtera dibandingkan generasi sebelumnya.

Namun itu berita usang sebab negara-negara tetangga kini telah melampaui kami. Lapangan pekerjaan amatlah kurang, dan di saat yang sama kami tidak menghasilkan tenaga kerja muda, tenaga kerja muda yang dapat bersaing secara regiona maupun secara global.

Kaum muda saat ini menghadapi lilitan hutang dan prospek yang buruk. Di sisi lain, kami dikelilingi oleh para pemimpin yang gegabah, tidak sabar, tidak beradab, dan tidak jujur.

Situasi politik kami seperti berada dalam kejadian yang berulang-ulang tanpa akhir dengan nama-nama dan isu-isu yang masih juga sama. Terdapat ketidaksabaran dan kekecewaan bahkan dengan keterbatasan demokrasi yang baru lahir yang kami miliki.

Apa yang sesungguhnya terjadi kepada kami? Pertumbuhan ekonomi belum membuat kami menjadi lebih setara atau lebih bahagia.

KOMPAS.COM/AMIR SODIKIN Geliat malam di salah satu pusat kuliner di Bukit Bintang, Kuala Lumpur, Malaysia, April 2017. Saat ini warga Malaysia mengeluhkan naiknya harga barang-barang kebutuhan.
Kehebatan smartphone dan media sosial belum membuat kami menjadi lebih saling terhubung dan lebih toleran. Tampaknya kami telah kehilangan arah tujuan kami, dari sebuah cita-cita nasional yang besar yang menyatukan kami.

Merdeka, sebuah pembentukan Malaysia, Kebijakan Ekonomi Baru (New Economic Policy/NEP) dan visi 2020. Hal-hal inilah yang sebetulnya dapat menyatukan kami tanpa memedulikan latar belakang yang berbeda-beda.

Sebab, para pemimpin kami tidak memberi kami bekal apapun untuk menggantikan mereka bergerak maju. Saya yakin angka-angka dapat saja dimunculkan untuk menunjukkan bahwa situasi lebih baik dari yang terlihat.

Tetapi hal itu tidak membuat kami MERASA lebih baik dan sebetulnya, itu yang penting. Anda tidak dapat memerintah tanpa memperhitungkan sentimen seperti yang dipahami kaum liberal di negara Barat tahun lalu.

Kami seolah-olah telah kehilangan arah. Kami telah menyia-nyiakan waktu bertahun-tahun untuk “mengejar ketinggalan” pertumbuhan.

Tahap selanjutnya adalah dengan penekanan pada inovasi dan kreativitas yang akan jauh lebih sulit untuk dicapai. Keberhasilan menghadapi tantangan-tantangan itu menuntut kami untuk menghargai pendidikan, pengetahuan, dan profesionalisme, hal-hal yang telah lama kami buang.

Jadi di saat Anda sedang menikmati rendang dan lemang, saya hanya mengamati burung-burung sambil merenungkan, masih adakah ruang untuk harapan…

EditorAmir Sodikin

Komentar

Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM