Harian Turki Sebut Kanselir Jerman Sebagai "Nyonya Hitler" - Kompas.com

Harian Turki Sebut Kanselir Jerman Sebagai "Nyonya Hitler"

Kompas.com - 17/03/2017, 20:27 WIB
YASIN AKGUL / AFP Seorang warga kota Istanbul, Turki sedang membaca edisi terbaru harian Gunes yang memajang wajah Kanselir Jerman Angela Merkel dalam balutan seragam Nazi.

ANKARA, KOMPAS.com - Perseteruan antara Turki dan sejumlah negara Eropa masih berlanjut, bahkan kini perseteruan itu melibatkan media massa.

Pada Jumat (17/3/2017), sebuah harian berhaluan kanan pro-pemerintah Turki, Gunes, memasang foto Kanselir Jerman Angela Merkel di halaman depan.

Dalam foto itu Merkel digambarkan mengenakan seragam Nazi, memiliki kumis ala Hitler, dilengkapi kata-kata dalam bahasa Jerman "Frau Hitler" atau "Nyonya Hitler".

Foto hasil rekayasa itu masih dilengkapi dengan sebuah lambang swastika Nazi di pakaian Merkel serta lambang swastika lainnya di dekat kepalanya.

Foto itu juga menampilkan Merkel yang juga disebut "bibi buruk rupa" membawa sepucuk senjata api.

Harian Gunes juga menyebut Merkel sebagai pemimpin fasis, menciptakan entitas anti-Turki dengan menggunakan Austria, Belanda, dan Belgia sebagai "halaman belakang Jerman".

"Jerman yang menyambut organisasi teroris, mencoba mengajak seluruh Eropa menentang Turki," demikian harian Gunes.

Mengenai edisi terbaru Gunes ini, pemerintah Jerman nampaknya tak ambil peduli. Juru bicara pemerintah Jerman Georg Streiter hanya menanggapi singkat masalah itu.

"Kami tak mau ambil bagian dalam sebuah permainan provokasi," ujar Streiter.

Gunes menerbitkan edisi terbarunya itu dua hari setelah harian terbesar Jerman Bild mengecam Erdogan dengan menyebutnya membahayakan stabilitas Eropa demi nafsu berkuasanya.

"Bild mengungkapkan kebenaran ke wajah Erdogan, Anda bukan seorang demokrat! Anda menyakiti negara Anda!" demikian harian Bild.

Pemberitaan Bild itu membuat Ankara geram dan kementerian luar negeri Turki menyebut pernyataan Bild itu merupakan bagian dari pola pikir penuh kebencian.

"Media yang membuat artikel semacam itu sudah menghancurkan dirinya dan menempatkan diri mereka sebagai sampah sejarah," demikian kemenlu Turki.

Perseteruan ini dimulai ketika pemerintah Jerman dan Belanda melarang para menteri Turki menggelar unjuk rasa kampanye menjelang referendum Turki pada 16 April mendatang.

Referendum itu digelar untuk mengubah undang-undang demi memperluas wewenang Presiden Recep Tayyip Erdogan.

Akibat langkah kedua negara itu, Erdogan menjuluki pemerintah Belanda dan Jerman bersikap seperti Nazi dan menyebut Merkel mendukung terorisme.


EditorErvan Hardoko
SumberAFP
Komentar

Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM