U Tin Win: Muslim Myanmar Merenungkan Masa Depan - Kompas.com

U Tin Win: Muslim Myanmar Merenungkan Masa Depan

Karim Raslan
Kompas.com - 02/02/2017, 18:28 WIB
KARIM RASLAN U Tin Win.

PADA 29 Januari 2017, U Ko Ni, seorang Muslim berusia 65 tahun yang juga pengacara terkenal di Myanmar ditembak mati di Bandara Internasional Yangon. Penasihat hukum untuk partai paling berkuasa di Myanmar, NLD ini baru saja kembali dari perjalanan ke Indonesia. 

Ko Ni yang pernah menjadi tahanan ini juga seorang aktivis dan pakar konstitusi. Dia pernah membantu Aung San Suu Kyi dalam menciptakan posisi yang saat ini didudukinya sebagai "Penasihat Negara."

Dia juga dipandang sebagai pendukung upaya perombakan Konstitusi Myanmar yang diciptakan pada 2008. Oleh karena itu, dia dilihat sebagai oposisi oleh kelompok militer di Myanmar yang dikenal sangat konservatif.

Ribuan orang mendatangi prosesi pemakaman Ko Ni di kota Okkalapa Utara. Para pengamat dalam hati bertanya-tanya apakah pembunuhan ini disebabkan afiliasi politik dengan NLD atau karena alasan religi mengingat dia beretnis kelompok muslim?

Peristiwa pembunuhan itu terjadi di saat yang sangat buruk bagi masyarakat Myanmar. Penganiayaan terhadap etnis Rohingya di Provinsi Rakhine telah mengundang kecaman yang sangat dahsyat dari masyarakat internasional. Pembunuhan itu mungkin telah menghancurkan sisa kepercayaan yang ada antara etnis mayoritas Buddha dan minoritas Islam.

Saya berada di Yangon beberapa hari sebelum pembunuhan itu terjadi, untuk bertemu dengan seorang muslim. Saya ingin mencari tahu tentang perselisihan antara etnis Buddha dan Islam yang telah muncul sebagai suatu masalah yang sangat sulit untuk diselesaikan di Asia Tenggara.

Orang yang saya temui bernama U Tin Win, seorang supir berusia 71 tahun yang memiliki jenggot tebal dan postur tubuh yang tinggi. Dia lahir di Mandalay, tetapi bersama istri, 8 anak dan 18 cucunya, dia telah lama tinggal di Yangon. Tin Win, yang memiliki nama Muslim "Mohamad Esa", hanya bisa berbicara bahasa Myanmar.

Ayahnya yang seorang muslim India adalah pekerja kereta api, sedangkan ibunya meninggal sewaktu dia masih bayi. Dia tidak menyukai pengalamannya ketika dia belajar di sekolah berbahasa Inggris. Dia pun bercerita, "Saya hidup dengan putus asa. Tetapi setidaknya saya masih mempunyai nenek."

Tin Win sangat gemar dengan truk. Kegemarannya ini kemudian menjadi mata pencahariannya setelah dia mengabdi di militer selama 4 tahun sebagai operator radio di Negara Bagian Chin. Ketika dia sedang menceritakan kisah hidupnya, neneknya datang dengan mengendarai truk untuk menjemputnya.

"Dahulu, bergabung dan meninggalkan militer jauh lebih mudah." Dia mengatakannya dengan senyuman.

KARIM RASLAN U Tin Win dan keluarganya.
Tin Win pun mulai tertawa ketika dia menceritakan hidupnya sebagai supir truk. Dia menyukai kebebasan yang dirasakannya ketika dia berada di jalan. Selama 35 tahun, dia menjelajah dari daerah utara ke selatan dan dari timur ke barat, mengunjungi setiap provinsi di Myanmar terkecuali Kachin di utara.

Petualangan tidaklah sedikit. "Setelah Ne Win mengambil kendali pemerintah pada 1962, segala sesuatu menjadi lebih sulit untuk semua orang. Saya ingat ketika suatu kali berjalan melintasi perbatasan ke Imphal. Saya membawa bawang bombay, kentang, dan bawang putih yang kemudian saya tukar dengan pakaian dan rempah-rempah. Perjalanan balik dari sana sangat menyusahkan. Banyak pos pemeriksaan dan saya harus memberi banyak uang suap. Saya bersumpah tidak akan melakukannya lagi."

Ketika saya membentangkan peta yang besar di hadapannya, dia menunjukkan kota-kota dan provinsi-provinsi yang dia telah kunjungi selama beberapa dekade dan menyebutkan namanya satu per satu. Bagi saya, bunyi nama-nama itu terdengar sangat magis: Monywa, Sittwe, Dawei, Mawlmyine, Lashio, dan Taunggyi.

Dan ketika saya sedang mendengarkannya, saya tiba-tiba menyadari kebanggaan Ti Win terhadap negerinya. "Banyak Muslim telah tinggal di Myanmar selama berabad-abad. Kami melayani Raja dan kami diterima sebagai warga negara."

Namun dia juga merasa sedih mengingat realita yang dialami Myanmar akhir-akhir ini.
"Saya sangat sedih atas apa yang dialami etnis Rohingya… tetapi ada beberapa perbedaan antara kami. Walaupun banyak yang bisa berbicara bahasa Myanmar, banyak juga yang tidak bisa. Mereka ini pastinya datang dari Banglades."

Jumlah warga Muslim di Myanmar juga masih diperdebatkan. Pemerintah menyatakan bahwa kelompok muslim tidak lebih dari 4 persen populasi, sedangkan LSM independen mengklaim angkanya mencapai hampir 12 persen.

Etnis muslim Myanmar saat ini mengalami banyak kesulitan ketika berurusan dengan pemerintah karena praktik diskriminasi yang sudah meresap di masyarakat. Tin Win, misalnya, menemui berbagai macam kesulitan untuk mendapatkan kartu identitas bagi cucu-cucunya.

Ini sangat sulit. Tanpa kartu identitas (yang berwarna merah jambu lebih baik), akan sangat sulit untuk membuka rekening bank, mendapat dokumen perjalanan atau membeli properti. Namun, ketika saya menanyakannya tentang "The Lady" Aung San Suu Kyi, dia menjawab dengan tegas: "Saya adalah pendukungnya".

Hal ini mungkin cukup mengejutkan pengritik-pengritik Aung San Suu Kyi di seluruh dunia. Namun, barangkali itu dapat dimengerti mengingat kerentanan kelompok minoritas ini, ditambah dengan kelemahan pemerintah saat ini dalam berurusan dengan kelompok militer.

Tin Win bisa dibilang tumbuh dengan warga Myanmar yang independen. Kemungkinan bahwa negara yang dicintainya ini akan memperlakukan dia dan keluarganya dengan buruk sangatlah mengerikan dan meresahkan. Demi kebaikan negara dan dirinya, kejatuhan Myanmar menuju sektarianisme harus dihentikan.

IRRAWADDY Suasana pemakaman Ko Ni.
Kematian Ko Ni yang Tin Win lihat bukan karena alasan religi melainkan politis adalah sebuah tragedi. Sebab itu penting mengambil pelajaran dari Indonesia, seperti soal kebutuhan reformasi politik, keberagaman budaya, supremasi sipil melawan militer dan desentralisasi, agar tidak dilupakan oleh pemimpin-pemimpin Myanmar.

Di saat yang sama, sangat penting bagi negara-negara ASEAN untuk mengakui besarnya tantangan yang dihadapi Myanmar dengan ekonomi yang masih berkembang dan kemiskinan yang merajalela.

Pertumpahan darah di Rakhine harus dihentikan dan aksi kita tidak boleh membahayakan nyawa jutaan etnis muslim yang tinggal di Myanmar. Mereka bisa mengalami nasib seperti etnis Rohingya jika masalah ini tidak segera diselesaikan dengan kepala dingin.

EditorTri Wahono
Komentar

Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM